Oleh: Umar Muhsin, Lc

Sahabat gerimis yang dimuliakan Alloh subhanahu wa ta’ala

Semenjak Alloh subhanahu wa ta’ala menurunkan Adam ke muka bumi, maka dimulailah pergulatan antara kebenaran dan kebatilan. Pergulatan antara keduanya ini akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Pergulatan yang sangat panjang dan melelahkan ini tentu akan melibatkan para pembelanya masing-masing. Baik para pembela kebenaran maupun para pembela kebatilan, keduanya akan habis-habisan mempertahankan dan memperjuangkan idealismenya masing-masing, yang pada gilirannya dapat mengorbankan secara murah hartanya, waktunya, tenaganya bahkan nyawanya.

Pihak kebenaran yang bersandar pada Alloh sebagai Dzat Yang Maha Benar (al-Haqq) dari kalangan para Nabi, ash-Shiddiqin, Syuhada, dan orang-orang solih akan terus mempertahankan, memperjuangkan dan menyebarkan kebenaran di muka bumi sehingga kalimatulloh benar-benar ‘ulya (tinggi). Tetes air mata, luka tombak dan tembak, pekikan takbir selalu datang silih berganti mengiringi derap langkah perjuangan ini.

Mewaspadai Makar Setan

Akan tetapi dalam perjalanannya, tak sedikit aral melintang yang siap menghentikan laju perjuangan di jalan Alloh ini. mengingat musuh-musuh Alloh dan musuh-musuh orang beriman tidak akan tinggal diam untuk terus membuat makr (tipu daya) supaya dapat meruntuhkan spirit perjuangan orang-orang beriman. Makar yang dibuat oleh musuh-musuh orang beriman sejatinya telah mengepung dalam setiap sudut perjuangan orang-orang beriman. Terlebih lagi yang datang dari iblis dan setan. Sebagai dedengkot kebatilan, tentu keduanya memiliki andil dan kontribusi yang cukup signifikan dalam menghadirkan tipudaya yang bervariasi bagi orang-orang beriman. Dan sebagai makhluk terkutuk yang sudah bersumpah dihadapan Alloh untuk menyesatkan umat manusia, iblis dan setan benar-benar telah siap untuk menghadirkan tipu daya-tipu daya yang dapat menjerumuskan umat manusia pada umumnya dan orang-orang beriman pada khususnya ke dalam jurang kekufuran yang sedalam-dalamnya.

Alloh  telah mengabarkan kita tentang jitu dan mujarrabnya bujuk rayu dan tipu daya setan dalam mengelabui umat manusia sehingga sampai pada taraf kekufuran. Simaklah baik-baik firman Alloh subhanahu wa ta’ala berikut:

كَمَثَلِ الشَّيْطَانِ إِذْ قَالَ لِلْإِنْسَانِ اكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Alloh, Robb semesta alam”. (QS. al-Hasyr [59]: 16)

Di dalam ayat tersebut, Alloh subhanahu wa ta’ala menggambarkan secara jelas kepada kita tentang keberhasilan setan dalam merayu dan menggoda anak manusia sehingga ia bisa menjadi orang kafir. Hal ini tentu tidak lepas dari kerja keras, kesabaran, kejelian setan dalam menggoda manusia.

Makar Setan itu Lemah

Sahabat Gerimis yang dirahmati Alloh subhanahu wa ta’ala

Walaupun sedemikian dahsyat, hebat dan mujarrabnya tipu daya dan bujuk rayu setan sehingga mampu menghadirkan kekufuran, kebid’ahan dan kemaksiatan ke alam realita. Akan tetapi pada dasarnya, tipu daya dan bujuk rayu setan adalah lemah dan bahkan pada tataran tertentu sangat tidak berdaya. Hal ini tentu tidaklah berlebihan, bahkan sudah seharusnya menjadi keimanan yang menghujam dalam jiwa-jiwa kita, karena Alloh Yang Maha Benar telah menginformasikan hal ini di dalam kitab-Nya:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Alloh, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. an-Nisa [4]: 76)

Dan untuk mendalami kandungan ayat di atas, mari kita simak baik-baik komentar Imam al-Sa’di terkait dengan ayat di atas:

“Dalam ayat ini terkandung beberapa faidah. Di antaranya adalah bahwa kualitas dan kuantitas jihadnya seseorang di jalan Alloh sangat ditentukan oleh kapasitas keimanannya, keikhlasannya dan kepengikutannya terhadap Rosululloh, maka jihad di jalan Alloh adalah bagian dari implikasi (baca: buah) dari keimanan dan konsekuensi-konsekuensinya. Sebagaimana berperang di jalan setan adalah termasuk cabang kekufuran dan konsekuensi-konsekuensinya.” (Tafsir al-Sa’di, hlm. 152)

Lebih lanjut beliau menjelaskan tentang potongan terakhir dalam ayat ini yaitu “Inna Kaidasysyaithoni Kana Dho’ifan” dengan kata-kata:

“Arti dari al-kaid  adalah menempuh cara-cara tersembunyi dalam rangka membahayakan musuh. Maka, walaupun setan memiliki tipudaya yang sangat dahsyat, tetapi pada hakikatnya adalah sangat lemah bahkan selemah-lemahnya tipudaya. Di mana, sedikitpun tipu daya tersebut tidak bisa berkutik di hadapan kebenaran, dan di hadapan makar Alloh untuk orang-orang yang beriman.” (Tafsir al-Sa’di, hlm. 152)

Tiga Pilar Penyelamat Makar Setan

Dari uraian di atas, sangatlah jelas bagi kita tentang betapa lemah dan kerdilnya tipu daya yang dilancarkan setan kepada umat manusia. Dan kita harus menanamkan dalam diri-diri kita keimanan dan keyakinan yang kuat tentang lemahnya tipu daya setan. Sehingga, ketika sewaktu-waktu tipu daya dan bujuk rayu setan datang menghampiri kita, kitapun dengan sigap dapat menghalaunya jauh-jauh. Akan tetapi untuk mewujudkan hal ini, tentu ada beberapa kata kunci yang harus selalu mengiringi derap langkah kita dalam mengarungi kehidupan dunia ini. Paling minimal ada tiga kata kunci yang dapat membentengi kita dari tipu daya setan. Yaitu; iman (baca: tauhid), ittiba’ (mengikuti Rosululloh sholallohu alaihi wasallam) dan berjuang di jalan Alloh. Dan setelah kita memiliki tiga perkara ini, maka dengan lantang dan tanpa ragu-ragu kita katakan bahwa makar setan itu lemah. Maka renungkanlah..apakah ketiga perkara tersebut benar-benar telah ada pada jiwa-jiwa kita? Semoga kita beruntung. Amien. Wallohu a’lam


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05