Oleh: Ustadz Solahudin Ibrohim, Lc., M.A.

Ajaran Islam telah sempurna mengatur segala urusan seseorang di dunia. Ini semua diajarkan dalam Islam sehingga semua manusia yang menganut ajarannya senantiasa berada dalam kebahagiaan dunia dan akherat. Aturan Islam adalah aturan yang dipilihkan oleh Alloh baik secara langsung ataupun melalui perantara praktek dan ucapan Rosul. Di antara peraturan yang ada dalam Islam adalah tatacara makan. Aturan Alloh ini disabdakan oleh Rosululloh ketika beliau bersabda kepada ‘Umar Ibn Abi Salamah:

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak kecil, bacalah “bismillah”, makanlah dengan tanganmu dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhori)

Dalam kitab Subulussalam dinyatakan bahwa hadis ini merupakan dalil atas wajibnya membaca “basmalah” ketika hendak makan karena lafaz hadis ini menggunakan fi’il Amr (kata perintah) dan ada juga yang berpendapat bahwa membaca “basmalah” hukumnya sunnah. Dikiaskan dengan hadis ini juga ketika seseorang hendak minum. Para ulama berkata bahwa dianjurkan ketika membaca “basmalah” untuk mengeraskan suaranya agar yang lain mendengar sehingga bisa menjadi pengingat padanya. Jika pada awal makan seseorang lupa membaca “basmalah” maka hendaklah ia membaca “bismillahi awwalahu wa akhirohu” sebagaimana sabda Rosululloh berikut:

إذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اللَّهَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Jika seseorang di antara kalian makan maka hendaklah ia menyebut nama Alloh (dengan membaca bismillah) jika lupa menyebut nama Alloh disaat mulai makan maka hendaklah ia membaca “bismillah awwalahu wa akhirahu.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dia mengatakan Hasan Sohih)

Dan sebaiknya setiap orang yang hendak makan bersama semuanya membaca “basmalah” akan tetapi jika salah seorang mereka saja yang membaca maka sebenarnya sudah bisa mewakili yang lain dan sudah sesuai dengan sunnah sebagaimana pendapat Imam Syafi’i. Pendapat ini dilandasi dengan dalil bahwa Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mengabarkan bahwa syaiton bisa ikut memakan makanan yang tidak disebut nama Alloh atasnya, jika ada seseorang yang membaca basmalah ketika makan bersama maka makanan itu sudah disebut dibaca basmalah sehingga syaiton tidak bisa ikut makan bersama.

Dalam hadis di atas juga terdapat dalil wajibnya makan dengan tangan kanan karena Rosululloh juga memerintahkan ini, dan juga karena Rosululloh sholallohu alaihi wasallam melarang makan dan minum dengan tangan kiri karena menyerupai perbuatan syaiton hukumnya haram. Keharaman makan dengan tangan kiri juga ditekankan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut:

“Sesungguhnya ada seorang lelaki sedang makan di sisi Rosululloh dengan tangan kirinya, Rosul bersanda: Makanlah dengan tangan kananmu, dia menjawab: saya tidak bisa. Rosul bersabda: “semoga engkau tidak bisa” tidak ada yang menghalanginya untuk makan dengan tangan kanan kecuali karena kesombongan. Setelah itu diapun tidak bisa mengangkat tangan ke mulutnya.”

Abu ‘Umar Yusuf Ibn ‘Abdil Barr mengatakan dalam kitab at-Tamhid: Dalam hadis ini pun Rosululloh sholallohu alaihi wasallam memerintahkan untuk makan makanan yang terdekat karena pada waktu itu makanan hanya satu macam dan tidak beragam sebagaimana yang dijelaskan oleh Ahlul ‘Ilmi. Dari pendapat Ibn ‘Abdil Barr ini dapat diketahui bahwa jika makanan beragam dan banyak jenisnya maka tidak mengapa kita mengambil makanan yang agak jauh.

Abu al-‘Abbas al-Qurtubi mengatakan “Hadis ini mengandung unsur pendidikan untuk anak kecil dari ajaran Islam dan adab-adabnya. Dan semua unsur yang terkandung dalam hadis ini adalah perkara yang disukai karena termasuk ke dalam hiasan dan penyempurna ajaran Islam yang luhur”. Mengambil makanan terdekat adalah sunnah sedangkan menyelisihinya sangat dimakruhkan dan dibenci serta termasuk ke dalam prilaku buruk, jika makanannya satu jenis. Hal ini disebabkan karena makanan yang terdekat seolah-olah adalah bagian untuknya, sehingga mengambil yang jauh berarti mengambil hak orang lain dan juga hal ini dibenci oleh jiwa yang sehat karena sikap seperti ini menampakan bahwa dirinya adalah orang yang rakus terhadap makanan, dan juga hal ini tidak mendatangkan faidah untuknya karena jenis makanan yang ada di dekatnya sama. Adapun jika makanan itu beragam maka para ulama telah membolehkan mengambil yang jauh dari dirinya. Wallohu a’lam.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05