Oleh: Ust. Abu Mujahid, Lc., M.E.I.

Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan kajian fikih Islam tentang macam-macam najis. Semoga pembahasan ini bermanfaat dan menjadi bekal berharga dalam memahami dan mengamalkan agama Islam.

Di antara yang dikategorikan sebagai najis adalah bangkai.

Maksud dari bangkai adalah binatang yang mati dengan tanpa proses penyembelihan sebagaimana yang telah ditentukan syariat Islam. Termasuk kategori bangkai, yaitu anggota tubuh binatang yang dipotong ketika hewan tersebut masih hidup. Dalil tentang najisnya bangkai adalah hadis Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang bersabda:

“Apa saja anggota tubuh hewan ternak yang dipotong sedangkan hewan itu masih hidup, maka ia termasuk bangkai.” (HR. Abu Dawud)

Adapun kulit bangkai yang sudah disamak atau dikeringkan maka boleh memanfaatkannya sebagaimana hadis sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

“Apabila kulit bangkai telah disamak, maka ia telah suci.” (HR. Muslim)

Namun, ada beberapa pengecualian seputar najisnya bangkai. Yaitu bangkai ikan, bangkai belalang, bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir seperti semut, lebah, serangga, dan semisalnya, serta tulang binatang seperti tanduk, bulu, rambut, kuku, kulit, dan benda-benda sejenisnya. Status hukum benda-benda tersebut ialah suci. Karena pada asalnya semua benda-benda itu suci dan tidak ada satu pun dalil yang menyatakan kenajisannya.

Jenis lainnya yang dikategorikan sebagai najis adalah darah. Semua jenis darah hukumnya adalah najis. Baik darah yang mengalir pada hewan yang disembelih atau darah haid. Namun, darah yang sedikit jumlahnya dimaafkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَوۡ دَمٗا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٖ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ ١٤٥

“… Atau darah yang mengalir, atau daging babi, semua itu najis….” (QS. Al An’am: 145)

Adapun maksud kata al-Masfuh dalam ayat ini adalah darah yang mengalir. Maka, darah yang berada dalam urat dan rongga tulang pada daging hewan yang halal dimakan dagingnya, masih dimaafkan.

Selanjutnya jenis lain yang dikategorikan sebagai najis adalah  babi dan anjing.

Daging babi termasuk najis berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 145. Sedangkan tentang najisnya anjing berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

Abu Hurairah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

“Untuk mensucikan wadah air seseorang di antara kalian jika dijilat anjing ialah dengan membasuhnya tujuh kali, pertamanya atau salah satunya dengan debu.” (HR. Muslim)

Jenis najis lainnya adalah air kencing dan kotoran binatang yang haram dimakan dagingnya.

Hal ini berdasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu bahwa beliau berkata, “Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam hendak ke kamar kecil, beliau menyuruhku menyediakan tiga biji batu. Namun, aku hanya menemukan dua biji. Lalu aku mencari satu batu lagi, dan tidak menemukannya. Akhirnya, aku pun mengambil kotoran hewan yang sudah kering dan menyerahkannya kepada beliau. Beliau hanya mengambil kedua batu itu saja, dan membuang kotoran hewan seraya bersabda, ‘Ini adalah benda najis’.”

Jenis najis lainnya menurut mayoritas ulama adalah khomer atau yang disebut dengan minuman keras. Landasan dalil akan najisnya khomer adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٩٠

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khomer, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan.” (QS. Al Maidah: 90)

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa khomer adalah suci. Ini adalah pendapat yang lebih kuat sebab tidak ada dalil yangmenunjukkan kenajisannya secara akurat. Ini merupakan pendapat Syekh Sayyid Sabiq rahimahullah dalam kitab Fikih Sunnah.

Ulama yang mengatakan tidak najisnya dzat khomer adalah karena kata rijsun dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 90 yang dijadikan dalil akan kenajisannya ditafsirkan sebagai najis maknawi. Yaitu jenis perbuatannya najis, bukan dzat bendanya. Sebab patung-patung dan alat judi judi najis secara makna bukan dzatnya. Sebagaimana berjudi dan berhala dikatakan sebagai najis.

Jenis najis lainnya adalah yang disebut dengan binatang jallalah atau pemakan kotoran. Yaitu binatang ternak yang punya kebiasaan buruk makan kotoran.

Sekalipun ia binatang seperti unta, sapi, kambing, ayam, atau itik. Akibat kebiasaan makan kotoran itu, bau hewan tersebut menjadi berubah. Namun, jika hewan-hewan itu dikurung sehingga tidak lagi memakan kotoran dalam jangka waktu lama, dan dia makan makanan-makanan normal lagi sehingga dagingnya tidak berbau dan ia tidak lagi mendapat sebutan jallalah, maka dagingnya halal dimakan. Sebab, ‘illat atas pelarangannya telah berubah atau hilang. Sedangkan, ketika masih memakan kotoran, maka ‘illat-nya masih tampak dan tidak ada perubahan status hukum. Dalam kondisi seperti itu dagingnya tidak boleh dimakan.

Adapun dalil yang menyatakan najisnya binatang jallalah adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Muslim dan lain-lain dari Abu dawud bahwa Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang meminum air susu binatang jallalah.”

Bahkan dalam riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang memakan daging keledai peliharaan dan binatang jallalah, begitu juga menunggangi maupun memakan dagingnya.”

Demikianlah pembahasan beberapa jenis najis. Semoga pembahasan ini bermanfaat Wallahu Ta’ala a’lam,

Artikel berseri: