Oleh: Ust. Abu Mujahid, Lc., M.E.I.

Pada kesempatan ini, kita akan mengkaji fikih Islam tentang macam-macam najis. Semoga pembahasan bermanfaat dan menjadi bekal berharga dalam memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan pemahaman dan pengamalan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiallahuanhum.

Maksud dari istilah najis dalam pembahasan fikih adalah sesuatu yang kotor dan diperintahkan oleh syariah untuk suci darinya dan menghilangkannya.

Imam Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj menjelaskan bahwa najis adalah suatu kotoran yang mencegah sahnya shalat. Sedangkan Syeikh Sayiid Sabiq rahimahullah dalam kitab Fikih Sunnah berkata, “Najis adalah kotoran yang wajib di bersihkan dan disucikan oleh setiap muslim, jika kotoran itu mengenai tubuh atau pakaiannya.”

Seorang muslim yang berakal lagi baligh hendaknya memahami jenis-jenis yang dikategorikan sebagai najis. Karena suci dari najis merupakan syarat sahnya shalat atau ibadah-ibadah lainnya yang mewajibkan suci dari hadats dan najis.

Sesuatu yang dikategorikan sebagai najis dalam fikih Islam cukup banyak. Di antaranya adalah sesuatu yang keluar dari dubur atau kemaluan manusia. Termasuk najis dalam kategori ini adalah tinja atau kotoran manusia, air kencing, madzi, wadi, dan darah haidh.

Berkaitan dengan najisnya kotoran manusia, Imam Bukhori meriwayatkan hadis bahwa Abdulloh bin Mas’ud radhiallahu anhu menjelaskan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membuang tinja kering dan beliau bersabda, “Sesungguhnya itu adalah najis.”

Berkaitan dengan najisnya air kencing manusia, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadis bahwa Abu Huroiroh radhiallahu anhu berkata:

قَامَ أَعْرَابِىٌّ فَبَالَ فِيْ الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ، فَقَالَ لَهُ النَّبِىّ ُصلى الله عليه وسلم دَعُوْهُ وَهَرِيْقُوْا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ

“Seorang Arab baduy berdiri  dan buang air kecil di dalam masjid. Maka orang-orang mencelanya, lalu Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata, ‘Biarkanlah dan tuangkanlah satu ember air untuk menyiram kencingnya tersebut.”

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa air kencing manusia adalah najis yang harus dibersihkan. Dalam hadis tersebut juga dipahami bahwa untuk membersihkan air kencing di tanah dengan cara dituangi air dan tidak harus memindahkan tanah dari tempat tersebut.

Jenis najis lainnya yang keluar dari kemaluan manusia adalah wadi. Yang dimaksud dengan wadi adalah air berwarna putih kental yang keluar mengiringi air kencing. Para ulama sepakat dan tidak ada perbedaan di antara mereka bahwa wadi hukumnya adalah najis. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ibnu Mudzir meriwayatkan atsar bahwa Aisyah radhiallahu anha berkata, “Wadi keluar setelah kencing. Karena itu, hendaknya seseorang mencuci kemaluannya, lalu wudhu dan tidak perlu mandi.”

Selanjutnya jenis najis lainnya yang masih keluar dari kemaluan manusia adalah madzi. Yang dimaksud dengan madzi adalah cairan kental berwarna bening, berlendir, keluar ketika seseorang mengkhayalkan sesuatu yang erotis, dan atau ia keluar ketika seorang suami bercumbu rayu dengan isterinya serta belum berhubungan seksual.

Terkadang, seseorang tidak merasakan saat keluar madzi dari kemaluannya. Madzi dapat keluar dari kaum laki-laki dan perempuan, tapi biasanya kaum perempuan lebih banyak mengeluarkan madzi. Berkaitan dengan hukum madzi, Para ulama sepakat bahwa madzi hukumnya najis. Jika mengenai anggota badan, maka wajib dicuci. Jika terkena pakaian atau celana maka cara menyucikannya cukup dengan memercikkan air padanya, sebab madzi termasuk najis yang sulit dihindari.

Dalil yang menyatakan najisnya madzi adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dalam kitab shohih-nya:

عَنْ عَلِىٍّ قَالَ كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّصلى الله عليه وسلملِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ « يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ »

Ali radhiallahu anhu berkata, “Aku adalah lelaki yang sering keluar madzi, tetapi aku malu untuk bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wasallam karena puteri beliau adalah istriku sendiri. Maka kusuruh al-Miqdad bin al-Aswad supaya bertanya kepada beliau, lalu beliau bersabda, “Hendaklah dia membasuh kemaluannya dan berwudhu.”

Berkaitan dengan hadis tentang madzi tersebut, bahwa air madzi adalah najis dan wajib dicuci. Namun, bias ditolelir jika hanya sedikit, karena tentu akan memberatkan jika terus menerus dicuci, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian ulama.

Berkaitan dengan sesuatu yang keluar dari kemaluan manusia yang lainnya adalah mani atau yang disebut dengan air sperma. Sebagian ulama berpendapat bahwa air sperma adalah najis. Sebagian yang lain, dan ini yang paling kuat berpendapat bahwa air sperma adalah suci. Meskipun demikian, tetap dianjurkan untuk mencuci jika masih basah, dan jika sudah mengering, hendaknya dikorek.

Berkaitan dengan sucinya sperma, Imam Ad-Daraquthni, Imam Abu Awanah, Imam Al-Bazzar meriwayatkan bahwa Aisyah radhiallahu anha berkata:

«كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, إِذَا كَانَ يَابِسًا, وَأَغْسِلُهُ أَوْ أَمْسَحُهُ, إِذَا كَانَ رَطْبًا»

“Aku sering membersihkan bekas sperma dari pakaian Rasulullah shalallahu alaihi wasallam jika sudah kering, dan aku mencucinya jika masih basah.”

Demikianlah pendengar yang dirahmati Allah ta’ala, pembahasan beberapa jenis najis. Pada kesempatan ini, pada kesempatan kali ini kami hanya membahas najis yang keluar dari dubur dan kemaluan manusia. Seperti tinja atau kotoran manusia, air kencing, wadi, dan madzi. Adapun mani, bukanlah termasuk najis menurut pendapat yang tepat sebagaimana yang sudah dijelaskan. Dan pembahasan jenis-jenis najis lainnya Insya Allah akan disampaikan pada kesempatan yang lain. Semoga pembahasan ini bermanfaat. Wallahu Ta’ala a’lam.

Artikel berseri: