Shalat fardhu lima waktu yang selalu kita lakukan tentunya tidak pernah absen kita lakukan. Karena kita sadar, meninggalkan shalat wajib adalah dosa terbesar di antara dosa-dosa besar yang lainnya setelah dosa syirik. Nah bisa saja kita selalu menjaga shalat wajib kita. Tapi sudahkah kita menjaga sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebelum dan sesudah melaksanakan shalat wajib?

Oleh karena itu kami merangkum untuk anda, lima sunnah sebelum dan sesudah shalat wajib.

Yang pertama, Berlomba-Lomba Untuk Mengumandangkan Adzan, Bersegera Menuju Shalat, Serta Berupaya Untuk Mendapatkan Shaf Pertama.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda.

“Andai kata umat manusia mengetahui pahala di balik adzan dan berdiri pada shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan bagian kecuali harus mengadakan undian terlebih dahulu, niscaya mereka membuat undian itu. Andai kata mereka mengetahui pahala bergegas menuju masjid untuk melakukan shalat, niscaya mereka akan berlomba-lomba melakukannya. Andai kata mereka mengetahui pahala shalat isya dan subuh secara berjamaah. niscaya mereka datang meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhori & Muslim)

Kemudian yang kedua, Membuat Pembatas Saat Sedang Shalat Fardhu Atau Shalat Sunnah

Diriwayatkan dari Abu Said al-Kudri radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda.

“Ketika kalian hendak shalat, maka buatlah pembatas di depannya dan majulah sedikit, dan janganlah membiarkan seseorang lewat di depannya. Jika ada orang yang sengaja lewat di depannya, maka hendaknya dia menghalanginya karena orang itu dibarengi setan.” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

Selain itu juga ada hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu ia berkata.

“Rasulullah menancapkan tombak di depannya, lalu shalat di belakang tongkat itu.” (HR. Bukhori)

Sunnah yang satu ini sering diabaikan, atau memang orang-orang banyak yang belum tahu. Terutama ketika melaksanakan shalat sunnah rawatib.

Yang ketiga, Mengikuti Bacaan Muadzin.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda.

“Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Barangsiapa yang bershalawat kepadaku, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Namun, banyak kita jumpai ketika adzan berkumandang, orang-orang terus sibuk dengan aktifitasnya. Jangankan mengulang apa yang diucapkan muadzin, bergegas untuk shalat berjamaah di masjid pun tidak. Naudzubillah. Semoga kita dihindarkan dari hal tersebut.

Keempat, Mengeraskan Suara Saat Membaca Zikir Setelah Shalat.

Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari disebutkan.

“Ibnu Abbas radhiallahu anhu mengatakan. mengeraskan suara dalam berzikir setelah orang-orang selesai melaksanakan shalat wajib telah ada sejak zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Ibnu Abbas juga mengatakan. “Aku mengetahui orang-orang telah selesai melaksanakan shalat karena mendengar zikir mereka.” (HR. Bukhori)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Disunnahkan mengeraskan suara saat membaca tasbih, tahmid dan takbir setelah shalat.”

Namun, sunnah ini jarang dilakukan. Hendaknya imam dan makmum mengeraskan bacaan tasbih, tahmid, dan takbir secara sendiri-sendiri, bukan satu komando atau satu suara.

Adapun mengeraskan suara ketika berzikir dengan satu komando, satu suara dan dipimpin oleh imam maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan sunnah secara mutlak, ada yang memandang sunnah dengan syarat-syarat tertentu, dan ada pula yang mengatakan bahwa zikir berjamaah adalah perbuatan yang baru dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah  shalallahu alaihi wasallam dan pendapat yang terakhir inilah yang banyak dipegang oleh para ulama.

Dan yang terakhir, Membaca ‘Amin’ Dengan Suara Keras Saat Menjadi Makmum.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda.

“Jika imam membaca “Amin” maka kalian juga harus membaca “Amin”, karena barangsiapa yang bacaan Amin-nya bersamaan dengan bacaan malaikat, maka diampunkan dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Bukhori & Muslim)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para salafus-shalih, dahulu mereka mengeraskan bacaan “Amin” sehingga masjid terdengar bergemuruh.

Itulah, lima sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ketika sebelum, sedang dan sesudah shalat. Semoga kita bisa membiasakannya dalam kehidupan kita. Karena sebagaimana yang disebutkan oleh Sufyan ats-Tsauri, ia berkata.

“Tiada satu hadits pun yang sampai kepadaku kecuali aku mengamalkannya meskipun hanya sekali.”

Kemudian Ibnu Rajab juga menuturkan.

“Orang yang beramal sesuai ajaran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam meskipun amal itu sangat kecil, maka itu akan lebih baik, daripada orang yang beramal tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam meskipun dia sangat bersungguh-sungguh.”

Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam.