Tingkat buta huruf Al Quran di Indonesia terbilang tinggi. Hasil riset dari Institut Ilmu Al Quran atau IIQ akhir pekan lalu mencatat sekitar 65% masyarakat Indonesia buta huruf Al Quran.

Dewan Dawah Islamiyah Indonesia atau DDII menilai, permasalahan tersebut harus menjadi perhatian bagi semua kalangan. Hal itu sebagaimana diungkapkan ketua DDII, Mohammad Siddik kepada media, Rabu (17/01/2018) kemarin.

Menurutnya, program untuk mengentaskan buta huruf Al Quran harus melibatkan ratusan da’i di Indonesia. Usaha pengentasan buta huruf Al Quran ini perlu diadakan secara massif dengan kerja sama organisasi dakwah serta takmir masjid.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Machasin, menilai, untuk mengatasi hal itu diperlukan peran aktif masyarakat. Pemerintah, kata dia, hanya sebatas memfasilitasi. Sebab menurutnya, membaca Al Quran tidak seperti ibadah besar semisal haji, yang penyelenggaraannya wajib dan rutin.

Machasin mengatakan, salah satu cara dari Kemenag untuk meningkatkan tingkat melek Al Quran adalah pencanangan program Gerakan Masyarakat Maghrib Mengaji atau Gemar Mengaji. Program tersebut terinspirasi dari budaya sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia tempo dulu, yang kerap melakukan amalan tadarus Al Quran tiap bada shalat Maghrib.

(republika.co.id)