Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Alhamdulillah, kembali berjumpa dengan saya melalui jalinan udara, untuk sama-sama kita menambah ilmu dan iman, sebagai bekal mengarungi kehidupan di masa yang akan datang, baik dunia maupun akhirat.

Salah satu sifat buruk yang mau tidak mau harus dikatakan identik dengan pemuda, adalah boros. Ya, disadari atau tidak, sifat yang berbahaya ini, terkhusus di zaman sekarang, begitu nampak di kalangan pemuda.

Pemuda zaman sekarang, secara umum, senang dengan perilaku yang berbau konsumtif dan hedonis alias mengejar kesenangan. Sebagian mereka berani mengeluarkan uang demi mendapatkan barang-barang yang sedang popular dan tidak ketinggalan zaman. Mereka juga mudah termakan iklan-iklan yang banyak bermunculan di berbagai media, padahal sebetulnya mereka tidak terlalu perlu dengan barang itu.

Tindakan mereka tersebut, membuat harta terhambur percuma, jangankan untuk mengangkat derajat dalam berjuang di jalan Allah ta’ala, meraih manfaat secara duniawi pun tidak ada atau sangat sedikit. Harta yang dimiliki bukannya bermanfaat untuk dunia akhirat, justru malah menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak dalam kubangan tipu daya. Na’udzubillah.

Oleh karena itu, kali ini kita akan sedikit mengupas tentang larangan dan bahaya boros menurut Islam.

Sebenarnya, apa yang dimaksud boros menurut Islam? Apakah hanya ketika terjadi pengeluaran keuangan yang besar-besaran, langsung disebut boros?

Nah, boros menurut penjelasan para ulama adalah melampui batas dalam segala perbuatan yang dikerjakan oleh manusia. Biasanya berhubungan dengan pengeluaran dalam pembelanjaan harta.

Seorang Ulama yang bernama Sofyan bin Uyainah rahimahullah lebih rinci lagi, beliau membedakan antara boros dan tidak boros. Beliau menjelaskan dalam perkataannya, “Harta yang aku belanjakan bukan dalam ketaatan kepada Allah maka dia termasuk boros sekalipun hal tersebut sedikit.”

Jadi yang dimaksud boros dalam Islam adalah mengeluarkan harta untuk hal yang sia-sia apalagi dalam hal yang haram, walaupun kadarnya sedikit.

Allah Ta’ala telah berfirman,

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isro’: 26-27).

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhu menjelaskan bahwa yang dimaksud tabdzir atau pemborosan adalah mengeluarkan sesuatu bukan pada jalan yang benar.

Seorang ahli tafsir di kalangan tabi’in, Mujahid menjelaskan bahwa seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya dalam jalan yang benar, itu bukanlah pemborosan. Namun jika seseorang menginfakkan satu ukuran telapak tangan saja, pada jalan yang keliru, itulah yang dinamakan pemborosan.

Pendengar, dalam ayat ini juga Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia termasuk meniru perbuatan setan. Padahal kita semua tahu bahwa setan adalah makhluk terburuk dan kafir kepada Allah. Kalau disamakan dengan orang gila saja kita tidak mau, maka apalagi dengan setan. Oleh karena itu, hindari sikap boros.

Seperti yang sudah disinggung di awal, bahwa boros pada umumnya terjadi pada harta, Allah memperingatkan hamba-Nya dari sikap boros dalam firman-Nya:

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-‘Arof: 31)

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala melarang kita berlebih-lebihan atau isrof. Sebagian ulama membedakan antara tabdzir atau boros dengan isrof atau berlebih-lebihan. Kalau boros, sudah kita pahami dari penjelasan sebelumnya. Sedangkan Isrof adalah berlebihan dalam makan dan minum serta berpakaian tanpa dituntut kebutuhan.

Dari keterangan-keterangan tersebut, kita bisa introspeksi diri kita masing-masing. Apakah kita termasuk orang-orang yang boros dan berlebih-lebihan? Kalau ternyata iya, maka kita harus segera bertaubat dengan taubat yang tulus.

Tapi, ada satu hal yang harus kita waspadai juga, jangan sampai setelah tahu tentang buruk dan bahayanya boros, kita menahan harta secara berlebihan sehingga terjatuh pada sifat kikir atau bakhil.

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajarkan kepada kita untuk bersikap seimbang dalam masalah harta ini. dalam al-Qur’an surat al-Isro ayat ke-29, Allah berfirman:

“Janganlah kamu jadikan tanganmu belenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena hal itu memebuat kamu menjadi tercela dan menyesal.”

Nah, Inilah wujud sikap pertengahan yang diperintahkan, tidak kikir, tidak menahan, tidak juga berlebihan dan boros tapi bersikap pertengahan di antara sikap ekstrim.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar seseorang bersikap  sederhana di dalam kehidupan duniawinya, Allah juga mencela sikap kikir dan melarang sikap boros.”

Tentang hidup seimbang dalam hal harta ini, ada satu nasihat yang bagus dari seorang ulama bernama Ibnul Jauzi rahimahullah. Beliau menjelaskan bahwa, orang yang berakal akan mengatur kehidupannya di dunia. Jika dia miskin maka dia akan bersungguh-sungguh dalam berusaha dan berwiraswasta agar terhindar dari kehinaan di hadapan makhluk, juga semaksimal mungkin menjauhi utang, dan menjaga sikap qona’ah. Dengan demikian dia akan selamat dari ketergantungan kepada pemberian orang lain dan hidup dengan citra yang mulia. Namun, jika dia orang yang kaya maka hendaklah dia mengatur belanjanya, agar tidak terjebak ke dalam kefakiran yang mengarahkannya kepada kehinaan bagi seorang  makhluk.

Masya Allah, mudah-mudahan kita dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk bersikap pertengahan terhadap harta, tidak berlebih-lebihan dan boros, tidak juga kikir dan bakhil.

Lagi pula, jika dipikir-pikir, untuk apa kita bersikap boros? Kesenangan yang kita dapatkan juga tidak akan berlangsung lama, hanya sebentar saja. Sedangkan efek negatif boros sudah kita ketahui. Selain itu, apakah pantas kita bersikap boros, sedangkan masih banyak saudara-saudara kita yang sangat kekurangan dalam hidupnya.

Apalagi jika kita berbicara masalah dakwah, tentu akan jauh lebih bermanfaat, jika kelebihan harta yang kita miliki diinfakkan untuk perjuangan menegakkan kalimat Allah, menyeru manusia ke jalan-Nya. Dan masih banyak lagi pos-pos kebaikan lainnya yang membutuhkan partisipasi dari harta kita.

Jadi, mumpung masih muda, kita biasakan hidup sederhana, maksimalkan harta kita untuk di jalan ketaatan kepada Allah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita untuk melaksanakannya. Amin. Wallohu a’lam.