Oleh: Hawari, M.E.I

Hidup ini memang penuh dengan lika-liku perjuangan. Untuk bertahan hidup seringkali seseorang berani menantang maut menjalani rutinitas pekerjaan berat dalam hidupnya.  Ada diantara mereka yang setiap hari bekerja menyelam di dasar lautan atau di lorong-lorong gelap pertambangan. Mereka senantiasa bergelut dan bergulat dengan pekerjaan yang berisiko 3D yaitu dark (gelap), dangerous (berbahaya) dan dirty (kotor). Resiko terkena gas beracun, arus laut, ataupun keruntuhan selalu mengancam mereka setiap saat. Atau ada juga para pekerja yang bergelut di ketinggian. Setiap hari mereka memanjat tower, memasang kabel dan merancang kontruksi gedung-gedung bertingkat. Resiko jatuh dan meninggal sangat rentan bagi mereka. Ada juga yang bekerja mengurus reaktor nuklir yang sangat rentan menyebabkan kemandulan, cacat fisik dan kanker. Atau mereka yang bekerja sebagai wartawan perang, penjinak bom, tim SAR yang boleh jadi kehilangan nyawa ketika misi penyelamatan. Begitulah lika-liku perjalanan hidup seseorang. Banyak sekali tantangan dalam menjalani kehidupan mereka. Namun semua itu mereka jalani dengan kesabaran sesuai dengan obsesi hidup mereka masing-masing.

Kerasnya Benturan Kehidupan

Bukan masalah duniawi saja, semakin lama tantangan kesabaran ini semakin berat. Jalan-jalan keimanan juga semakin sulit, rumit dan susah untuk ditembus. Sekat-sekat masalah pun  semakin kompleks dan majemuk. Hampir-hampir kesabaran hati kita selalu dibenturkan dengan berbagai problematika yang serba dilematis. Seringkali seseorang diadu kesabarannya antara memegang akidah dengan resiko yang pahit dan getir, atau sebaliknya terbawa arus yang manis bagaikan madu, namun kesudahannya pahit laksana empedu. Itulah ujian kesabaran di akhir zaman. Benar-benar sulit sekali menggenggam kesabaran di zaman penuh fitnah ini. Hingga Nabi sholallohu alaihi wasallam pernah menggambarkan panasnya menggenggam kesabaran di zaman penuh fitnah. Menggenggamnya bagaikan menggenggam bara api. Lantas siapakah diantara manusia yang sanggup menggenggamnya? Tentu hanya orang-orang yang dirahmati Alloh subhanahu wa ta’ala yang mampu bersabar saat itu. Nabi sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Celaka bagi bangsa Arab dengan keburukan yang telah dekat. Fitnah melanda bagaikan potongan malam yang gelap gulita. Di pagi hari seseorang masih berstatus sebagai mukmin namun di sore hari telah berubah menjadi kafir. Mereka adalah kaum yang menjual agamanya dengan (kenikmatan) dunia yang sedikit (hina). Orang yang berpegang teguh dengan agamanya pada saat itu laksana menggenggam bara api. Atau  seperti menggenggam sebuah duri. (HR. Ahmad dan dishohihkan oleh al-Arnauth )

Di dalam riwayat at-Tirmidzi:

“Akan datang kepada manusia suatu zaman dimana orang-orang yang bersabar pada agamanya di saat itu laksana menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani )

Kerasnya benturan keimanan seperti ini juga pernah dialami para sahabat di masa awal Islam yang sangat sulit. Hampir-hampir kesabaran mereka habis karena pertolongan Alloh subhanahu wa ta’ala tak kunjung datang. Hadits ini menjelaskan akan kondisi tersebut.

“Dari Khobbab bin al-Art rodhallohu anhu berkata: Kami mengadu kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pada saat itu beliau sedang berteduh di balik bayangan ka’bah sambil menjadikan kainnya sebagai bantal. Maka kami berkata: “Tidakkah engkau meminta pertolongan (kepada Alloh ta’ala) untuk menolong kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?” maka Nabi sholallohu alaihi wasallam bersabada: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada diantara mereka yang dikubur dalam bumi kemudian digergaji kepalanya hingga terbelah menjadi dua, ada juga yang disisir dengan sisir besi hingga mengelupas dagingnya dan tersisa tulang belulangnya.Sungguh hal tersebut tidak menggoncangkan keimanan mereka. Demi Alloh, sungguh Alloh tidak akan menyempurnakan perkara ini (Islam) sampai seorang berjalan dari San’a hingga Hadramaut merasa tidak takut kecuali kepada Alloh. Begitu juga kambing pun juga tidak takut kepada serigala. Akan tetapi kalian tergesa-gesa (menuai hasil)”. (HR. Bukhori)

Dalam kondisi yang getir tersebut Alloh pun menurunkan ayat mulia, sebagai penguat kesabaran mereka. Alloh ta’ala berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah rosul dan orang-orang yang beriman bersamanya “Kapankah datang pertolongan Alloh?”. Ketahuilah bahwasanya pertolongan Alloh itu amat dekat ”(QS. al-Baqaroh [2]: 214)

Subhanalloh, ayat tersebut menjadi peneguh kesabaran bagi hati para sahabat rodhallohu anhum. Di tengah gempuran fitnah tersebut justru kesabaran sahabat mewangi bagaikan mawar mekar diantara tajamnya duri.

Ketika Kesabaran Habis di Tengah Perjalanan

Tidak bisa dibayangkan ketika sebuah pesawat terbang kehabisan bahan bakar padahal tempat tujuan sudah terlihat di ujung pandangan mata. Tentu misi dan visi seluruh awakpun hanya tinggal angan-angan saja. Begitu juga ketika seorang berjalan menuju Alloh subhanahu wa ta’ala kehabisan bekal di tengah perjalanan, padahal jarak antara dia dan tujuannya sangatlah dekat. Harapan kebahagian yang tadinya merekah, maka seketika itu berubah menjadi petaka dan musibah.

Demikian juga dalam kehidupan seseorang. Ada diantara manusia yang memang gemar beramal sholih. Lembaran hidupnya senantiasa dipenuhi catatan amal kebaikan. Namun ternyata goncangan fitnah seringkali menggugurkan mereka di tengah perjalanan. Nabi sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“…Maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. Kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. Kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga. (HR. Bukhori dan Muslim)

Memang jalan panjang dan berliku ini menjadikan kesabaran kita kembang kempis di tengah perjalanan. Namun sebelum kesabaran kita habis di tengah perjalanan, segera isi kembali dengan bekal-bekal islami berupa iman, ilmu dan takwa.

Kesabaran Adalah Kunci Utama Kesuksesan

Kesabaran adalah kunci utama kesuksesan. Untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik dan terbang kian kemari, seekor ulat harus bersabar berdiam diri menjadi kepompong berhari-hari. Pohon bambu cina pun juga demikian. Untuk sukses tumbuh melejit tinggi ke angkasa, hampir bertahun-tahun ia harus bersabar menumbuhkan akarnya yang kuat terlebih dahulu. Jadi, tak ada kesuksesan tanpa kesabaran.

Saudaraku yang dirahmati Alloh subhanahu wa ta’ala, marilah kita tempa kesabaran kita. Meskipun seseorang telah meraih kesuksesan, namun dia tetap harus terus berjuang menempa kesabaran. Karena memang hidup itu sendiri adalah perjuangan. Dan berjuang adalah bersabar dalam menempa kehidupan. Perjalanan ini masih sangat panjang. Jangan sampai kesabaran kita habis di tengah perjalanan. Wallohu a’lam bishowab.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05