Oleh: Ust. Hawari, Lc., M.E.I.

Keluarga adalah unsur terpenting dalam membentuk masyarakat. Jika mayoritas keluarga yang ada pada sebuah masyarakat sholih, pastilah masyarakat itu sholih juga. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah keluarga. Tidak ada satu agamapun di dunia ini yang memperhatikan keluarga sebagaimana Islam. Bukti nyata hal tersebut kita bisa lihat dari beberapa surat dalam al-Qur’an yang membahas tentang seputar keluarga sebagaimana yang terdapat dalam Surat al-Baqarah, an-Nisa’, an-Nur, al-Ahzab, al-Mujadilah, dan ath-Thalaq.

Keluarga islami adalah keluarga yang senantiasa berpedoman dengan al-Quran dan as-sunnah dalam kehidupan sehari-harinya. Keluarga inilah yang diperintahkan tatkala seorang muslim menikah dan membina keluarga. Di antara keutamaan membina keluarga islami adalah sebagai berikut:

Pertama, keluarga islami pasti akan memasuki surga Allah.

Sesunguhnya Allah Subhanahu wata’ala akan memasukkan surga kepada keluarga yang komitmen dengan aturan Islam. Orang tua dan anak-anak kelak akan bertemu di surga meskipun tingkatan amalan yang telah mereka kerjakan di dunia berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu rahmat besar dari Allah Subhanahu wata’ala yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya.

Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS ath-Thuur: 21)

Kedua, keluarga Islami akan meraih kebahagiaan hidup di dunia.

Kebahagiaan keluarga bukanlah semata-mata terletak pada banyaknya harta, keindahan dan kecantikan fisik pasangan, jabatan yang menggiurkan dan bukan pula keturunan. Kebahagiaan sejati keluarga terletak pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sejauh mana kualitas seseorang memahami dan mempraktekkan ajaran agama Islam, sejauh itu pula kebahagiaan keluarga akan tercapai.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl: 97)

Syekh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah berkata, “Kami berikan kepadanya kehidupan baik” maksudnya adalah kehidupan yang baik dan diperoleh dengan adanya ketentraman hati, ketenangan jiwa, tidak menoleh kepada perkara-perkara yang mengacaukan hati serta Allah menganugerahkan kepadanya rezeki yang halal lagi baik dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Ketiga, keluarga islami akan memperoleh keberkahan hidup.

Betapa sering kita mendambakan dan berdo’a untuk mendapatkan keberkahan; baik keberkahan dalam umur, keluarga, usaha, maupun dalam harta benda dan lain-lain. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, bagaimana cara untuk memperolehnya? Tentu tidak lain dan tidak bukan faktor keimanan dan ketakwaan adalah sebab utamanya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. al-A’rof: 96)

Jadi, dengan demikian keluarga islamilah yang akan memperoleh keberkahan. Sebab mereka mewujudkan keimanan dan ketakwaan dalam aspek kehidupan mereka.

Keempat, melahirkan keturunan yang sholih dan sholihah.

Kesholihan dan amal baik orang tua memiliki dampak yang besar bagi kesholihan anak-anaknya, dan memberikan manfaat bagi mereka di dunia dan akhirat. Sebaliknya, amal-amal jelek dan dosa yang dilakukan orangtua akan berpengaruh buruk pula terhadap pendidikan anak-anaknya.

Sebuah keluarga islami yang senantiasa berdzikir kepada Allah, menunaikan shalat, puasa, zakat, gemar berinfak, dan melakukan amal-amal ketaatan yang lain akan menimbulkan pengaruh positif kepada keturunan mereka. Dengan demikian,keluarga islami akan menjadi madrasah yang mencetak generasi sholih dan sholihah.

Itulah keindahan keluarga islami yang penuh dengan keberkahan. Sebaliknya, ketika keluarga jauh dari al-Qur’an dan As Sunnah, maka keluarga tersebut akan menjadi sarang keburukan bagi anggotanya.Keluarga yang semakin jauh dari ajaran Islam pasti akan merasakan kegersangan di dalam keluarga.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta”. (QS. Thoha: 24)

Berkaitan dengan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku”, yaitu menyelisihi perintah-Ku dan apa yang telah Aku turunkan kepada Rosul-Ku, berpaling dari Rosul, melupakannya, dan mengambil petunjuk selain petunjuknya, maka baginya kehidupan yang sempit. Maksudnya adalah di kehidupan dunia, tidak adanya ketentraman hidup, kelapangan jiwa, bahkan jiwanya sempit akibat kesesatannya. Meskipun kenikmatan nampak pada dirinya, berpakaian sesukanya, memakan apa yang dia suka, bertempat tinggal sesuai keinginannya, namun hatinya tidak sampai derajat yakin dan memperoleh hidayah. Karena itu, ia dalam kegelisahan, kebingungan, dan keraguaan. Ia senantiasa dalam kebimbangan kehidupan. Inilah makna penghidupan yang sempit di dalam ayat tersebut.”

Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan keluarga kita keluarga islami dan bahagia dunia dan akhirat. Amin. Wallahu a’lam.