Oleh: Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Berdoa adalah di antara aktivitas ibadah yang mulia dan utama. Banyak sekali keutamaan dan kemuliaan berdoa. Berikut ini akan dijelaskan beberapa keutamaan dan kemuliaan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Pertama, Do’a adalah ibadah. Hal ini berdasarkan firman Allah:

“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghofir [40]: 60)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolani asy-Syafi’i rahimahullah menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki rahimahullah berkata, “Maksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat permohonan, dan ayat berikutnya “‘an ‘ibaadati” menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada beribadah. Artinya barang siapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa. Dengan demikian ancaman ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa karena sombong dan barang siapa melakukan perbuatan itu, maka dia telah kafir. Adapun orang yang tidak berdoa karena sesuatu alasan, maka tidak terkena ancaman tersebut. Walaupun demikian memperbanyak doa tetap lebih baik daripada meninggalkannya, sebab dalil-dalil yang menganjurkan berdoa cukup banyak. (Fathul Bari 11/98)

Bahkan, doa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini sesuai riwayat hadis dari Abu Huroiroh radhiallahu anhu berkata bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripada doa”. (Sunan Timidzi, bab Do’a 12/263, Sunan Ibnu Majah, bab Do’a 2/341 No. 3874. Musnad Ahmad 2/362)

Berkaitan dengan hadis ini, Syaikh Al-Mubarak Furiy rahimahullah mengatakan bahwa makna hadis tersebut adalah tidak ada sesuatu ibadah qouliyah (ucapan) yang lebih mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala daripada doa. Sebab membandingkan sesuatu harus sesuai dengan substansinya. Sehingga pendapat yang mengatakan bahwa shalat adalah ibadah badaniyah yang paling utama tidak bertentangan dengan firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa diantara kalian.” (QS. Al-Hujurot [49]: 13)

Kedua, Doa mampu menolak takdir Allah.

Hal ini berdasarkan hadis dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa.” (Sunan At-Tirmidzi, bab Qodar 8/305-306)

Berkaitan dengan hal ini, Syeikh Al-Mubarak Furi rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud dapat menolak takdir di sini adalah takdir yang tergantung pada doa, dan berdoa bisa menjadi sebab tertolaknya takdir karena takdir tidak bertolak belakang dengan masalah sebab akibat. Boleh jadi terjadinya sesuatu menjadi penyebab terjadi atau tidaknya sesuatu yang lain termasuk takdir. Seperti berdoa agar terhindar dari musibah, keduanya adalah takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Boleh jadi seseorang ditakdirkan tidak berdoa sehingga terkena musibah dan seandainya dia berdoa, mungkin tidak terkena musibah, sehingga doa ibarat tameng dan musibah laksana panah. (Muro’atul Mafatih 7/354-355).

Ketiga, Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdoa.

Hal ini berdasarkan hadis Nabi bahwasanya beliau shalallahu alaihi wasallam bersabda:

Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam.” (HR. Thabrani).

Imam Manawi rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘Ajazu an-naasi  adalah orang yang paling lemah akalnya dan paling buta penglihatan hatinya, dan yang dimaksud dengan Man ‘ajaza fi ad-dua’i adalah lemah memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala terlebih pada saat kesusahan. Demikian itu bisa mendatangkan murka Allah karena dia meninggalkan perintah-Nya padahal berdoa adalah perkerjaan yang sangat ringan. (Faidhul Qodir 1/556).

Keempat, Banyak berdoa bisa menghindarkan bencana dan musibah.

Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengisahkan tentang Nabi Ibrohim alaihissalaam:

“…Dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS. Maryam [19]: 48)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang Nabi Zakaria:

“Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (QS. Maryam [19]: 4)

Kelima, Allah subhanahu wa ta’ala murka terhadap orang-orang yang meninggalkan doa.

Hal ini berdasarkan hadis bahwa Abu Huroiroh radhiallahu anhu berkata bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan memurkainya.” (Sunan At-Tirmidzi, bab Do’a 12/267-268).

Berkaitan dengan hal ini, Imam Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menuturkan bahwa Imam At-Thaibi rahimahullah berkata: “Makna hadis ini yaitu barang siapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Dia akan murka. Begitu pula sebaliknya Dia sangat senang apabila diminta hamba-Nya”. (Fathul Bari 11/98).

Imam Al-Mubarak Furiy rahimahullah juga mengatakan bahwa orang yang meninggalkan doa berarti sombong dan merasa tidak membutuhkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Imam At-Thaibi rahimahullah juga mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sangat senang tatkala dimintai karunia-Nya. Maka barangsiapa yang tidak memohon kepada Allah, maka berhak mendapat murka-Nya. Dari hadis ini, menunjukkan bahwa permohonan hamba kepada Allah merupakan kewajiban yang paling agung dan paling utama, karena menghindar dari murka Allah adalah suatu yang menjadi keharusan. (Muro’atul Mashobih 7/358)

Dengan banyaknya keutamaan dan kemuliaan doa ini, sudah selayaknya bagi kita untuk memperbanyak doa kepada Allah. Di samping kita beribadah kepada-Nya, kita juga akan meraih keutamaan dan kemuliaan di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.