Jakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir berharap, tidak ada lagi tuduhan identitas Islam sebagai sesuatu yang buruk. Tak lagi muncul anggapan Islam itu ekstrem, radikal dan sebutan negatif lainnya.

Haedar Nasir mengatakan bahwa pemeluk agama lain juga sama memiliki hak sama untuk memiliki dan menunjukkan identitas keagamaannya, meskipun bagi yang tidak mau tentu juga menjadi haknya. Hal ini sebagaimana diungkapkan Haedar saat mengisi kajian Ramadhan di Universitas Muhammadiyah Malang sabtu kemarin.

Menurut Haedar, identitas dan golongan pada dasarnya telah diakui sebagai hak asasi manusia. Tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia, tanpa rintangan dan stigma.  Berdasarkan fenomena tersebut, Haedar berharap, pandangan buruk tidak menyerang kondisi serupa dalam tubuh Islam.

Klaim identitas juga diharapkan tidak dipandang makar atau bermasalah oleh masyarakat. Salah satu di antaranya identitas “Masyarakat Islam” yang merujuk pada gerakan Darul Islam. Karena hal ini kemudian dianggap sebagai gerakan pemberontakan.

Melihat situasi tersebut, Haedar mendorong aparat keamanan agar lebih proporsional dalam menjalankan tugasnya. Mereka juga diminta tak memandang Islam sebagai pemberontakan, terorisme, ekstrimisme dan radikalisme. Pandangan-pandangan ini jelas sangat ditolak oleh umat Muslim di Indonesia. (republika/admin)

%d bloggers like this: