Tanpa perlu banyak penelitian, sungguh pasti bahwa di antara watak kehidupan dunia adalah kegalauan dan kecemasan yang akan senantiasa melanda manusia di dalamnya. Dunia merupakan tempat ujian, kesusahan dan kesulitan. Oleh sebab itu, di antara keistimewaan surga dibanding dunia adalah tidak ada duka cita dan kesulitan yang membersamainya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ 

“Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari padanya.” (QS. al-Hijr: 48)

Hati penduduk surga tidak terkotori meski berupa satu kata lintasan kegalauan, seperti firman-Nya:

  1.  لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا (25)  إِلَّا قِيلًا سَلَامًا سَلَامًا (26)

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (QS. al-Waqi’ah: 25-26)

Sedangkan sebaliknya, karakter kehidupan dunia adalah kesusahan, kesedihan, dan kegalauan yang dihadapi manusia di berbagai sisi dan kondisi yang beragam.

Kegalauan yang menimpa manusia sangat beragam, berdasarkan motif, kondisi keimanan mereka masing-masing dan menurut persoalan yang menjadi tanggung jawab mereka. Ia bisa bersedih karena apa yang telah terjadi di masa lalu, gundah gulana menghadapi masa datang, dan galau menghadapi masa sekarang.

Ada kalanya, kegalauan mengindikasikan kebaikan, seperti kegalauan seorang alim dalam memecahkan segala kesulitan yang solusinya selalu diharapkan oleh umat. Begitu juga rasa galau seorang pemimpin akibat kesulitan rakyatnya. Ia galau karena menyadari bahwa semua kesulitan itu, di akhirat nanti, akan dimintakan pertanggung jawabanya di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala jika dibiarkan begitu saja.

Sebaliknya, kegalauan juga bisa terjadi disebabkan oleh maksiat, seperti kecemasan yang menimpa orang yang telah berbuat dosa semisal membunuh atau kegalauan wanita yang berzina karena hamil.

Begitu juga, kegalauan bisa disebabkan oleh musibah dunia seperti sakit kronis, anak durhaka, suami selingkuh, dan lain sebagainya dari segala jenis penyebab kegalauan yang akan senantiasa meliputi dunia ini.

Intinya, kegalauan pada hakikatnya bukanlah masalah, karena siapapun akan senantiasa menghadapi dan tak kan bisa terlepas darinya. Tinggal masalah sesungguhnya adalah ada pada sisa pertanyaan ini:

Kemanakah diri ini menambal hati yang seringkali merasakan luka mendalam tatkala kegalauan itu menghampiri?

Adakah seseorang yang terluka kakinya akibat benda tajam, kemudian ia tempelkan potongan kertas untuk menyembuhkan lukanya tersebut akan mendapatkan kesembuhan? “Tidak”, orang yang berakal tentu akan menjawabnya seperti itu. Namun betapa mengherankan kita saksikan saat ini, facebook, twitter dan berbagai jejaring sosial lainnya telah menjadi labuhan hati orang-orang untuk menghilangkan kegalauan mereka.  Bagaimana luka hati seseorang akan tersembuhkan ketika tempat yang mereka tuju adalah “kolam yang keruh”. Ia lontarkan seluruh kegalauannya pada tempat tersebut, sehingga nampak oleh tatapan ribuan mata lainnya. Namun, akankah mereka yang mengetahui kegalauan dirinya tersebut dapat menyelesaikan masalahnya? Tidak, bahkan dirinya sangat mungkin menyaksikan ejekan dan masukan yang buruk sehingga memperkeruh suasana. Tentu hasil akhir dari semua itu bukannya menjadikan luka hati menjadi terobati, malah akan semakin sakit.

Memang, sangat disayangkan ketika kita melihat kebanyakan saudara-saudara kita yang gampang termakan oleh media masa dengan kampanye “anti galau” mereka. Sehingga mereka dapat dengan mudah diarahkan ke tempat-tempat “keruh” itu, dan lupa dengan solusi jitu dari Alloh yang telah “dikonsumi” ribuan tahun oleh generasi terbaik di muka bumi ini:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya ia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS.at-Tholaq: 2)

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا 

Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (QS.at-Tholaq: 4)

Ayat di atas seharusnya cukup untuk dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hanyalah Alloh subhanahu wa ta’ala yang dapat menyelesaikannya, bukan selain-Nya, atau selain cara yang telah ditentukan oleh-Nya, karena hanya Dia-lah tempat bergantung seluruh makhluk yang ada di dunia, tak ada selainnya.

Sepertinya, sedikit perlu kita pertegas kembali, bahwa tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut. Adakalanya, kita berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjadi takdir yang telah Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.

Tetapi, Alloh juga telah memberikan solusi-solusi jitu kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya, lalu untuk orang lain.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05