Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Sadarkah kita bahwa sebetulnya pemuda memiliki potensi yang sangat besar? Sadarkah kita bahwa pemuda di setiap umat dan zaman merupakan tulang punggung yang memiliki peran yang sangat strategis dan penting? Benarkah sedemikian besar potensi pemuda?

Iya, begitulah, karena pemuda mempunyai kekuatan yang besar, produktif dan semangat yang membara. Pemuda juga memiliki tekad yang membaja dan tak pernah gentar memegang, mempertahankan dan menyampaikan apa yang diyakininya. Inilah di antara karakter yang seharusnya dimiliki oleh pemuda Islam masa kini, sebagaimana telah dimiliki oleh para pendahulu mereka.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba meneladani sikap pemuda sejati, yang dengan lantang menyerukan kebenaran di hadapan penguasa yang zholim. Kisah mereka ini terangkum dalam al-Qur’an surat al-Kahfi, dan disebut dengan kisah ashabul kahfi.

Sahabat muda yang budiman, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat ke-13, yang artinya,

Kami kisahkan kepadamu wahai Muhammad kisah ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan untuk mereka petunjuk.

Para Pemuda Ashhabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tetap teguh di atas keyakinan yang benar tersebut meskipun harus bertentangan dengan orang-orang atau teman sebaya mereka.

Selain beriman, para pemuda tersebut diberi taufik oleh Allah sehingga mereka mengenal Rabb mereka. Bukan itu saja, ternyata mereka juga merupakan anak-anak dari penguasa dan tokoh di masa lalu.

Para pemuda Ashhabul Kahfi ini, lebih memilih menyingkir ketimbang mengikuti ajaran kaumnya yang menyembah berhala dan menyembelih binatang ternak sebagai persembahan untuk berhala. Terutama pada saat Dikyanus, seorang raja yang kejam dan keji, memerintahkan perilaku tersebut. Ketika rakyatnya berkumpul untuk merayakan perilaku tersebut, maka keluarlah para pemuda itu bersama keluarga dan kaumnya.

Satu persatu dari mereka meninggalkan tempat penyembahan tersebut. Orang yang pertama di antara mereka kemudian duduk di bawah pohon yang rindang. Lalu datang satu lagi ikut duduk di sana, karena menolak bersujud kepada berhala. Selanjutnya beberapa orang mulai berdatangan dari tempat yang berbeda dan menempati tempat tersebut. Meskipun mereka belum saling mengenal, tapi, karena iman, mereka dipertemukan dan bersikap layaknya saudara.

Pada awalnya, masing-masing mereka menyembunyikan keyakinannya karena takut terhadap orang di sekitar mereka. Hal itu karena mereka tidak tahu bahwa orang-orang di sekitarnya itu pun satu keyakinan dengan dirinya.

Namun kondisi tersebut segera berubah ketika salah seorang mereka mengeluarkan kalimat yang menunjukkan keyakinannya. Pernyataan salah seorang mereka tersebut memancing respon dari orang-orang di sekitarnya yang menjadikan mereka menjadi satu langkah dan satu tujuan, yaitu untuk hanya beribadah kepada Allah ta’ala.

Perkataan mereka pun diabadikan dalam al-Qur’an, surat al-Kahfi ayat ke-14, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Robb kami adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Robb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.”

Di luar dugaan, perkumpulan para pemuda tersebut diketahui oleh salah seorang kaumnya. maka ia pun langsung mengadukan peristiwa tersebut kepada sang raja. Dan pada akhirnya, para pemuda itu pun dipanggil serta diinterogasi raja Dikyanus.

Saat diinterogasi mereka menjawab semua pertanyaan itu dengan kebenaran dan menyeru rajanya untuk beriman kepada Allah. Namun sang raja menolak ajakan mereka untuk menauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala bahkan ia murka. Sang Raja malah memerintahkan kaum yang sepaham dengannya untuk membuka pakaian para pemuda yang beriman tersebut sebagai tanda tidak diakuinya pemuda-pemuda itu di antara kaumnya. Tapi, Allah lantas memberi kesempatan mereka untuk berlari menyelamatkan diri dan agama mereka dari fitnah tersebut.

Maka pergilah Para pemuda Ashhabul Kahfi meninggalkan kaumnya dengan bersembunyi di sebuah gua. Kemudian Allah ta’ala menutup pendengaran mereka sampai beberapa tahun untuk menyelamatkan mereka dari situasi dan kondisi yang mendesak. Allah telah menyediakan mereka tempat yang layak, dengan sirkulasi udara yang baik, cahaya matahari yang bagus, dan terhindar dari kegelapan.

Allah telah buatkan mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Dan Allah sendirilah yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah ta’ala berfirman dalam surat al-kahfi ayat ke-18,

“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.”

Maksudnya adalah supaya jasad mereka tidak dirusak oleh tanah.

Masa demi masa pun terus berlalu sementara mereka masih tertidur di dalam gua. Hingga ketika Islam telah berjaya, situasi dan kondisi telah berubah ke arah yang lebih baik, mereka pun dibangunkan oleh Allah dar

Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Sadarkah kita bahwa sebetulnya pemuda memiliki potensi yang sangat besar? Sadarkah kita bahwa pemuda di setiap umat dan zaman merupakan tulang punggung yang memiliki peran yang sangat strategis dan penting? Benarkah sedemikian besar potensi pemuda?

Iya, begitulah, karena pemuda mempunyai kekuatan yang besar, produktif dan semangat yang membara. Pemuda juga memiliki tekad yang membaja dan tak pernah gentar memegang, mempertahankan dan menyampaikan apa yang diyakininya. Inilah di antara karakter yang seharusnya dimiliki oleh pemuda Islam masa kini, sebagaimana telah dimiliki oleh para pendahulu mereka.

Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, kita akan mencoba meneladani sikap pemuda sejati, yang dengan lantang menyerukan kebenaran di hadapan penguasa yang zholim. Kisah mereka ini terangkum dalam al-Qur’an surat al-Kahfi, dan disebut dengan kisah ashabul kahfi.

Sahabat muda yang budiman, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat al-Kahfi ayat ke-13, yang artinya,

Kami kisahkan kepadamu wahai Muhammad kisah ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan untuk mereka petunjuk.

Para Pemuda Ashhabul Kahfi adalah sekelompok pemuda yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang meyakini bahwa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka tetap teguh di atas keyakinan yang benar tersebut meskipun harus bertentangan dengan orang-orang atau teman sebaya mereka.

Selain beriman, para pemuda tersebut diberi taufik oleh Allah sehingga mereka mengenal Rabb mereka. Bukan itu saja, ternyata mereka juga merupakan anak-anak dari penguasa dan tokoh di masa lalu.

Para pemuda Ashhabul Kahfi ini, lebih memilih menyingkir ketimbang mengikuti ajaran kaumnya yang menyembah berhala dan menyembelih binatang ternak sebagai persembahan untuk berhala. Terutama pada saat Dikyanus, seorang raja yang kejam dan keji, memerintahkan perilaku tersebut. Ketika rakyatnya berkumpul untuk merayakan perilaku tersebut, maka keluarlah para pemuda itu bersama keluarga dan kaumnya.

Satu persatu dari mereka meninggalkan tempat penyembahan tersebut. Orang yang pertama di antara mereka kemudian duduk di bawah pohon yang rindang. Lalu datang satu lagi ikut duduk di sana, karena menolak bersujud kepada berhala. Selanjutnya beberapa orang mulai berdatangan dari tempat yang berbeda dan menempati tempat tersebut. Meskipun mereka belum saling mengenal, tapi, karena iman, mereka dipertemukan dan bersikap layaknya saudara.

Pada awalnya, masing-masing mereka menyembunyikan keyakinannya karena takut terhadap orang di sekitar mereka. Hal itu karena mereka tidak tahu bahwa orang-orang di sekitarnya itu pun satu keyakinan dengan dirinya.

Namun kondisi tersebut segera berubah ketika salah seorang mereka mengeluarkan kalimat yang menunjukkan keyakinannya. Pernyataan salah seorang mereka tersebut memancing respon dari orang-orang di sekitarnya yang menjadikan mereka menjadi satu langkah dan satu tujuan, yaitu untuk hanya beribadah kepada Allah ta’ala.

Perkataan mereka pun diabadikan dalam al-Qur’an, surat al-Kahfi ayat ke-14, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Robb kami adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak akan menyeru Robb selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang jauh.”

Di luar dugaan, perkumpulan para pemuda tersebut diketahui oleh salah seorang kaumnya. maka ia pun langsung mengadukan peristiwa tersebut kepada sang raja. Dan pada akhirnya, para pemuda itu pun dipanggil serta diinterogasi raja Dikyanus.

Saat diinterogasi mereka menjawab semua pertanyaan itu dengan kebenaran dan menyeru rajanya untuk beriman kepada Allah. Namun sang raja menolak ajakan mereka untuk menauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala bahkan ia murka. Sang Raja malah memerintahkan kaum yang sepaham dengannya untuk membuka pakaian para pemuda yang beriman tersebut sebagai tanda tidak diakuinya pemuda-pemuda itu di antara kaumnya. Tapi, Allah lantas memberi kesempatan mereka untuk berlari menyelamatkan diri dan agama mereka dari fitnah tersebut.

Maka pergilah Para pemuda Ashhabul Kahfi meninggalkan kaumnya dengan bersembunyi di sebuah gua. Kemudian Allah ta’ala menutup pendengaran mereka sampai beberapa tahun untuk menyelamatkan mereka dari situasi dan kondisi yang mendesak. Allah telah menyediakan mereka tempat yang layak, dengan sirkulasi udara yang baik, cahaya matahari yang bagus, dan terhindar dari kegelapan.

Allah telah buatkan mereka pagar berupa rasa takut meskipun mereka sangat dekat dengan kota tempat mereka tinggal. Dan Allah sendirilah yang menjaga mereka selama di dalam gua. Allah ta’ala berfirman dalam surat al-kahfi ayat ke-18,

“Dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.”

Maksudnya adalah supaya jasad mereka tidak dirusak oleh tanah.

Masa demi masa pun terus berlalu sementara mereka masih tertidur di dalam gua. Hingga ketika Islam telah berjaya, situasi dan kondisi telah berubah ke arah yang lebih baik, mereka pun dibangunkan oleh Allah dari tidur yang sangat panjang selama 300 tahun lebih.

Ketika mereka merasa lapar, salah seorang dari mereka berinisiatif keluar mencari makanan dengan simpanan uang yang mereka miliki. Sebelum keluar, teman-temannya sempat mengingatkan untuk tetap berperilaku lemah lembut di dunia luar dan tetap merahasiakan persembunyian mereka. Karena mereka merasa bahwa kehidupan belum berganti dan belum menuju ke arah yang lebih baik.

Sebetulnya, kisah ini belum selesai sepenuhnya. Namun kita cukupkan sampai di sini, karena sudah banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini.

Dari kisah ini kita dapat mengambil teladan yang sangat jelas bagaimana ketegaran para pemuda dalam memperjuangkan keimanan mereka dan menyampaikan kebenaran kepada raja zholim.

Kemudian, pelajaran lainnya dari kisah ini, kita harus yakin bahwa orang-orang yang beriman pasti akan menang terhadap orang-orang kafir. sebagaimana tujuh orang pemuda Ashabul Kahfi dimenangkan oleh Allah ta’ala dari kaum kafir yang menghalangi mereka untuk mentauhidkan Allah. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, kita pun harus yakin, kuat, tegar dan istiqomah dalam menyampaikan kebenaran. Wallahu a’lam.i tidur yang sangat panjang selama 300 tahun lebih.

Ketika mereka merasa lapar, salah seorang dari mereka berinisiatif keluar mencari makanan dengan simpanan uang yang mereka miliki. Sebelum keluar, teman-temannya sempat mengingatkan untuk tetap berperilaku lemah lembut di dunia luar dan tetap merahasiakan persembunyian mereka. Karena mereka merasa bahwa kehidupan belum berganti dan belum menuju ke arah yang lebih baik.

Sebetulnya, kisah ini belum selesai sepenuhnya. Namun kita cukupkan sampai di sini, karena sudah banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini.

Dari kisah ini kita dapat mengambil teladan yang sangat jelas bagaimana ketegaran para pemuda dalam memperjuangkan keimanan mereka dan menyampaikan kebenaran kepada raja zholim.

Kemudian, pelajaran lainnya dari kisah ini, kita harus yakin bahwa orang-orang yang beriman pasti akan menang terhadap orang-orang kafir. sebagaimana tujuh orang pemuda Ashabul Kahfi dimenangkan oleh Allah ta’ala dari kaum kafir yang menghalangi mereka untuk mentauhidkan Allah. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, kita pun harus yakin, kuat, tegar dan istiqomah dalam menyampaikan kebenaran. Wallahu a’lam.