Oleh: Hawari, Lc., M.E.I.

Setiap kita pasti mendambakan kebersamaan dengan orang yang kita cintai di manapun kita berada. Setiap kita juga menginkan agar seluruh anggota keluarga kita menjadi penghuni surga bukan menjadi bahan bakar api neraka. Kitapun yakin bahwa tak ada di dunia ini orang merelakan anggota keluarganya berada dalam jurang-jurang neraka. Namun, ada pertanyaan yang harus kita jawab, sudahkah anggota keluarga mempunyai ciri para penghuni surga? Ataukah justru mereka beramal dengan amalan penduduk neraka?

Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri keluarga calon penghuni surga. Semoga ciri-ciri ada dalam keluarga kita.

  1. Iman yang Kokoh Kepada Allah

Inilah modal utama membangun bahtera rumah tangga untuk menggapai surga. Tanpa landasan iman keluarga kita akan terpuruk selamanya. Tidak akan mungkin tanpa iman suatu keluarga akan menjadi penghuni surga. Bahkan, semua itu suatu hal yang mustahil untuk di gapai. Dengan berbekal iman yang kokoh keluarga kita bisa bersama di dunia dan di surga.

Allah azza wa jalla berfirman,

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (maksudnya: anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah derajatnya sebagai derajat bapak- bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka dalam surga.) dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. ath Thur [52]: 21)

Ibnu Abbas radhiallahu anhu menjelaskan berkaitan dengan ayat ini, “Mereka adalah keturunan dari orang-orang yang beriman dan mati dalam keimanan. Jika seandainya kedudukan bapak-bapak mereka lebih tinggi dari kedudukannya maka mereka akan diikutkan kedalam kedudukan bapak-bapak mereka dan hal tersebut tidak mengurangi amal-amal yang mereka perbuat sedikitpun.”

Maka hendakknya iman keluarga kita harus kuat dan kokoh. Yaitu iman yang tidak mudah ditukar dengan hanya sedikit kenikmatan dunia seperti sekardus mie instan ataupun sekarung beras. Bahkan iman yang tidak pudar hanya dengan selentingan orang-orang yang membenci keislaman kita.

  1. Gemar Bermal Sholih.

Amal sholih adalah hiasan dan bekal bagi keluarga calon penghuni surga. Tidak bisa dipungkiri kita semua telah faham bahwa banyak sekali amal sholih yang bisa kita lakukan dalam keluarga. Akan tetapi, permasalahannya bagaimana realisasinya agar keluarga kita gemar beramal sholih? Dalam hal ini  paling tidak ada 2  hal yang harus diperhatikan agar keluarga kita gemar beramal sholih.

a. Adanya qudwah hasanah (suri teladan yang baik) dari pemimpin keluarga.

Peran qudwah dalam membangkitkan motivasi gemar beramal sholih bagi anggota keluarga lainnya sangalah besar. Bahkan suri teladan inilah motor utama yang mendorong anggota lainnya melakukan amal sholih. Bagaimana mungkin anggota keluarga akan gemar beramal sholih jika kepala keluarganya malas dan enggan beramal sholih? Oleh karena itu, kepala keluarga hendaknya menjadi garda terdepan dalam memberi contoh anggota keluarga untuk senantiasa beramal sholih.

b. Saling berkomitmen untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Dalam keluarga muslim harus dibangun komitmen untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Masing-masing anggota keluarga harus saling melengkapi dan menguatkan. Sungguh betapa indahnya gambaran yang  contohkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang komitmen untuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan antara pasutri.

“Allah merahmati seorang yang bangun di malam hari lalu sholat (tahajjud) dan membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan untuk bangun maka iapun memercikkan air di wajah istrinya. Allah merahmati seorang wanita yang bangun di tengah malam lalu sholat (tahajjud) dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan untuk bangun maka iapun memercikkan air ke wajah suaminya”. [HR Abu Dawud II/33 no 1308 dan Ibnu Majah I/424 no 1336 dari hadits Abu Huroiroh. Dishohihkan oleh Syaikh al-Albani]

Amal-amal sholih inilah yang nantinya menjadi sarana dan penyebab kita dan keluarga kita masuk kedalam surga sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala dijelaskan dalam firman-Nya, 

“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.”  (QS. an Nahl [16]: 32)

  1. Saling menasihati dalam haq (kebenaran) dan kesabaran.

Saling menasihati dalam haq dan kesabaran adalah pintu gerbang meraih keistiqomahan. Terkadang iman dan amal sholih di dalam anggota keluarga mengalami penurunan. Hal tersebut adalah sunatulloh karena memang tabiat iman sendiri bertambah dan berkurang. Oleh karena itu di sinilah letak pentingnya saling menasihati dalam haq dan kesabaran.

Tiga ciri diatas sebenarnya intisari dari surat al-‘Ashr. Sungguh tepat sekali perkataan Imam Syafi’i rahimahullah ketika menerangkan keutamaan surat al-‘Ashr, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah (keterangan/penjelasan) kecuali hanya surat ini niscaya hal itu akan cukup.”

Maksud dari “cukup” dalam ungkapan tersebut bukan berarti tidak dibutuhkan ayat-ayat al Qur’an yang lainnya. Akan tetapi cukup memberikan nasihat bagi orang yang bertadabbur dan memikirkannya.

  1. Menjunjung Tinggi Kitabulloh dan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Inilah ciri sejati keluarga muslim calon penghuni surga. Penegakkan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta’ala pada tiap individu dan lingkup keluarga telah menjadi kewajiban yang masing-masing disertai kesadaran dan kebutuhan akan hal tersebut. Aturan yang berlaku dalam keluarga tersebut adalah aturan Allah dan Rosul-Nya. Semua anggota keluarga tunduk dan patuh dengan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Adapun virus liberal dan nafsu syahwat benar-benar disingkirkan dan dihilangkan. Keluarga tipe inilah keluarga yang dirindukan surga. Mudah-mudahan kita mampu mewujudkannya.

Mendamba surga bukan semudah membalik telapak tangan. Ia bukan pula berangan menanti jatuhnya emas dari langit turun ke pangkuan. Namun perjuangan menuju surga Allah ta’ala adalah perjuangan yang penuh dengan ujian dan cobaan. Berbagai rintangan harus di jalani dan terkadang menyesak di hati demi menggapai surga abadi. Oleh karena itu, mari pacu dan terus dayung bahtera kita mengarungi jeramnya samudra fitnah dunia. Jangan pernah berhenti sampai kita menginjakkan kedua kaki kita di dalam surga bersama keluarga kita. Wallahu a’lam bishowab…