Pembaca yang budiman. Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini bahwa para sahabat adalah manusia yang jujur lagi terpercaya. Penilaian kejujuran, keadilan, dan sifat terpercaya pada diri mereka tidak hanya ditetapkan oleh manusia, bahkan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ telah memberi kesaksian. Tidak ada yang menyelisihi ketetapan ini kecuali beberapa kelompok sesat dikarenakan mereka menuruti hawa nafsu. Oleh karena itu, penilaian mereka tidaklah dianggap sedikit pun.

Imam Al-Khotib al-Bagdadi asy-Syafi’I rahimahullah mengatakan,“Setiap hadis yang sanadnya bersambung dari perawi yang mengabarkan hadis hingga Nabi Muhammad tidak layak untuk diamalkan kecuali setelah diketahui keterpercayaan dan kejujuran perawinya. Wajib diteliti dan ditelusuri setiap keadaan masing-masing perawi kecuali sahabat yang menyampaikan berita hingga bersambung kepada Rosululloh -saws-. Sebab kejujuran dan sifat terpercaya bagi para sahabat telah pasti dan diketahui berdasarkan penilaian Alloh terhadap mereka, kabar dari Alloh tentang diri mereka, dan pilihan Alloh atas mereka sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an.”

Pembaca, tahukah Anda bahwa Rosululloh  telah mengabarkan tentang kejujuran dan sifat terpercaya bagi para sahabat ?

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori rohimahullah bahwa Beliau bersabda yang artinya:

“Pada hari kiamat Nabi Nuh dipanggil oleh Alloh -st-. Beliau menjawab, ‘Aku penuhi panggilanmu, wahai Robbku’. Lalu, Alloh bertanya, ‘Apakah engkau telah menyampaikan risalah-Ku.’ Beliau menjawab, ‘Ya’. Kemudian ditanyakan kepada umatnya, ‘Apakah Nuh telah menyampaikan risalah-Ku kepada kalian? Mereka menjawab, ‘Tidak ada seorang pemberi peringatan yang datang kepada kami. Alloh bertanya, “Siapakah yang menjadi saksi bagimu? Nuh menjawab, ‘Muhammad dan umatnya.’ Lalu kalian menjadi saksi atas Nabi Nuh dan Rosululloh menjadi saksi atas kalian. Yang demikian itu sebagaimana firman Alloh, “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kalian ummat Islam, ummat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rosul Muhammad menjadi saksi atas perbuatan kalian.”

Kejujuran dan sifat terpercaya telah ditetapkan bagi para sahabat, baik sebelum terjadi fitnah yaitu persengketaan yang terjadi antara sahabat yang mengakibatkan peperangan, seperti perang Jamal dan Siffin ataupun sesudah fitnah. Baik mereka yang terlibat dalam fitnah ataupun tidak. Mereka semua jujur lagi terpercaya. Berbeda dengan penilaian para ahli bid’ah dan orang-orang yang terhalang dari kebenaran, mereka membedakan kejujuran serta sifat terpercaya antara sahabat yang terlibat dalam fitnah dan yang tidak terlibat. Pendapat ini tidak dapat dijadikan landasan dan sandaran, maka kita tidak perlu menolehnya.

Pembaca yang dirahmati Alloh -st-, Imam Zaenuddin Abdurrohim al-‘Iroqi rohimahulloh mengatakan, “Semua sahabat jujur lagi terpercaya berdasarkan firman Alloh  dalam surat al baqoroh ayat 143,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kalian ummat Islam, ummat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rosul Muhammad menjadi saksi atas perbuatan kalian.

Konteks ayat ini berlaku untuk orang-orang yang ada pada saat itu, yaitu para sahabat. Pendapat ini didukung oleh firman Alloh, hadis dan ijma’. Alloh berfirman dalam surat Ali Imron ayat 110:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Rosululloh bersabda,

لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ  ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

“Janganlah kalian mencela para sahabatku, maka demi Alloh yang nyawaku di tangan-Nya,

seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud niscaya tidak akan menyamai infak mereka sebesar dua genggaman tangan atau separuhnya.” (Hadis Riwayat. Bukhori dan Muslim).

Pembaca. Ijma’ umat menyatakan bahwa kejujuran dan sifat terpercaya bagi para sahabat yang tidak terlibat fitnah. Adapun bagi yang terlibat fitnah ijma’ tetap menilai kejujuran dan sifat terpercaya bagi mereka. Sebab berprasangka baik terhadap mereka dan faktor pendorong mereka terlibat fitnah adalah ijtihad.”

Lalu Pembaca. Apakah kejujuran dan sifat terpercaya para sahabat hanya terdapat di dalam al-Qur’an dan as-sunnah?

Al-Khotib al-Baghdadi asy-Syafi’i memberikan komentar tentang kejujuran dan sifat terpercaya mereka yang tidak hanya terdapat di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, namun riwayat para sahabat dan keadaan mereka memastikan kejujuran dan sifat terpercaya yang disandang mereka. Sehingga bila tidak adanya teks al-Qur’an dan as-Sunnah yang menilai kejujuran dan sifat terpercaya mereka, cukuplah riwayat hidup mereka sebagai saksi. Apalagi terdapat teks dari keduanya?

Beliau juga berkata, “Kabar-kabar tentang kejujuran dan sifat terpercaya para sahabat  banyak sekali. Seluruhnya selaras dengan apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Semua riwayat menyatakan kejujuran dan sifat terpercaya mereka. Alloh telah menilai kejujuran dan sifat terpercaya mereka. Dia adalah Dzat  yang mengetahui batin-batin mereka, sehingga tidak butuh penilain salah seorang pun dari manusia. Seandainya Alloh dan Rosul-Nya tidak menyebutkan tentang kejujuran dan sifat terpercaya mereka sedikitpun, cukuplah keadaan mereka sebagai bukti. Aspek Hijrah, jihad, menolong agama Allloh, mengorbankan jiwa dan raga di jalan Alloh, mengorbankan orang tua dan anak, saling menasihati di antara mereka tentang perkara agama, dan kekuatan keimanan serta keyakinan mereka. Semua perkara ini secara pasti menyatakan kejujuran dan sifat terpercaya mereka. Oleh karena itu mayoritas para ulama dan ahli fiqih menyatakan bahwa para sahabat adalah orang yang paling bersih jiwa-jiwa mereka sepanjang masa daripada generasi yang datang berikutnya.”

Setelah kita mengetahui kejujuran dan sifat terpercaya para sahabat, maka wajib bagi kita kaum muslimin untuk tidak mencaci dan mencela mereka.

Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah  mengatakan, “Para sahabat adalah orang-orang yang menegakkan panji tauhid, pengibar bendera as-Sunnah, penyebar risalah dakwah hinga sampai seluruh penjuru negeri, penghancur kekufuran dan kesyirikan. Mereka adalah orang-orang yang kejujurannya tidak dipertanyakan lagi. Maka wajib bagi kaum muslimin tidak mencaci dan mencela mereka.”

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Bila engkau melihat seseorang yang merendahkan salah seorang di antara para sahabat, ketahuilah bahwa ia adalah orang Zindiq. Sebab keberadaan Rosul di sisi kami adalah benar, al-Qur’an di sisi kami adalah benar. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah kepada kami adalah para sahabat. Sebenarnya orang-orang yang mencela para sahabat hendak menolak al-Qur’an dan as-sunnah. Oleh karena itu, merekalah yang lebih utama mendapat celaan, sebab mereka adalah orang-orang zindik.”

Pembaca, kejujuran dan sifat terpercaya bagi para sahabat tidak menjadikan mereka terbebas dari dosa. Sebab mereka adalah manusia biasa yang tidak mendapat jaminan dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala terhindar dari dosa. Diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi bahwa Rosululloh  bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak cucu Adam berdosa, sebaik-baik orang berdosa adalah orang yang bertaubat.”

Ahlussunnah wal Jama’ah  berkeyakinan bahwa setiap sahabat Nabi Muhammad tidak terpelihara dari dosa besar dan kecil, bahkan secara umum mereka terjerumus kepada perbuatan dosa. Namun mereka memiliki berbagai keutamaan yang membuat mereka mendapat ampunan dari Alloh atas dosa-dosa yang mereka perbuat. Bahkan Alloh mengampuni dosa–dosa mereka tidak seperti Alloh memberikan ampunan kepada generasi sesudah mereka. Sebab mereka memiliki banyak kebaikan yang dapat menghapus dosa-dosa mereka.”

Pembaca yang budiman. Siapa saja yang mengaku Ahlussunnah Waljama’ah maka wajib meyakini kejujuran dan sifat terpercaya bagi para sahabat. Ia harus menolak  dengan tegas dan tidak akan ridho sedikitpun kepada orang-orang yang mencela atau meragukan kejujuran bagi para sahabat. Ia harus menolak dengan keras keyakinan kaum Syiah. Karena mereka telah mengkafirkan para sahabat, menganggap para sahabat berdusata, pembangkang, dan menuduh berbagai sifat jelek lainnya. (admin/daud)

 

 

%d bloggers like this: