Oleh: Ust Abu Mujahidah, Lc., M.E.I.

Kita ketahui Islam adalah agama yang sangat memerhatikan kesucian dan kebersihan. Baik kebersihan dan kesucian batin maupun kebersihan lahir. Segala yang mengotori iman dan hati seseorang diharamkan di dalam Islam. Seperti kesyirikan, kekufuran, kemunafikan, hasad, tamak, kikir, bakhil, dan beragam dosa lainnya.

Manusia secara umum, dan khususnya orang yang beriman diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala untuk menyucikan dan membersihkan diri dari kotoran dan najis batin yang menodai iman atau disebut juga thoharoh maknawi. Karenanya, Islam senantiasa memerintahkan untuk bertaubat.

Sebab taubat adalah cara bersuci dan membersihkan diri dari kotoran dan najis maknawi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat at-Tahrim ayat  8:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Mudah-mudahan Robb kalian mengampuni kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. at-Tahrim: 8)

Agama Islam juga sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian secara lahir. Bahkan, toharoh secara lahir yaitu membersihkan diri dari najis dan hadats serta memiliki kedudukan penting dalam beribadah. Di antara kedudukan agung toharoh secara maknawi tersebut adalah:

Pertama; Suci dari najis dan hadats adalah syarat sahnya shalat seorang hamba.

Shalat merupakan bentuk ibadah pendekatan diri seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalam ibadah shalat, seorang hamba sedang bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, hamba yang hendak shalat diwajibkan dalam keadaan suci dari najis dan hadats. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda dalamhadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:

“Tidak diterima shalat seseorang di antara kalian jika dalam keadaan hadats hingga ia berwudhu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Mengerjakan shalat dengan bersuci adalah bentuk pengagungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang hamba wajib suci dari najis dan hadats. Najis harus dibersihkan karena ia adalah kotoran. Sementara hadats harus diangkat dengan bersuci yang sudah ditentukan. Seperti mandi bagi yang junub dan berwudhu. Nah pendengar. Suci dari hadats ketika hendak beribadah adalah bentuk pengagungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Lalu yang kedua; Orang yang bersuci dicintai dan dipuji Allah subhanahu wa ta’ala.

Senantiasa bersuci secara lahir dan batin merupakan sebab meraih kecintaan Allah dan Rasul-Nya. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al Baqarah ayat 222:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. al Baqarah: 222)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna orang-orang bertaubat dalam ayat ini adalah taubat dari dosa dan orang yang menyucikan diri adalah orang-orang yang membersihkan diri dari kotoran-kotoran.

Syekh Abdurrahman bin nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa bersuci dalam ayat ini mencakup secara maknawi dan pula mencakup makna indrawai, yaitu bersuci dari najis dan hadats.

Selanjutnya yang ketiga; Kelalaian membersihkan diri dari najis merupakan salah satu sebab siksa kubur.

Tidak bisa menjaga diri dari nasjis seperti buang air kecil dan besar di sembarang tempat dan tidak bersuci dengan baik merupakan sebab siksa kubur. Berkaitan dengan hal ini terdapat riwayat shahih dalam kitab Shohib al-Bukhari dan shahih Muslim:

Ibnu Abbas meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melewati dua kuburan. Lalu beliau bersabda, “Sungguh kedua penghuni kubur itu sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena perkara besar. Salah satu dari dua orang ini, semasa hidupnya tidak menjaga diri dari kencing. Sedangkan yang satunya lagi, dia gemar menebar namimah atau mengadu domba. ”Kemudian beliau mengambil pelepah kurma basah. Beliau membelahnya menjadi dua. Lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam , mengapa Anda melakukan ini?” Beliau menjawab, “Semoga keduanya diringankan siksaannya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hikmah terdapat syariat bersuci dalam Islam:

Pertama; Bersuci merupakan naluri manusia. Secara naluriah, manusia cenderung ingin bersih dan jijik melihat yang kotor dan dekil. Sebagai agama yang fitrah, sudah selayaknya Islam meminta umatnya untuk bersuci dan menjaga kebersihan.

Kedua; Dengan bersuci, kehormatan dan wibawa sebagai seorang Muslim akan lebih terjaga. Fitrah manusia memang menyukai kebersihan, senang berkumpul dan duduk di tempat yang bersih. Sebaliknya, mereka merasa jijik dan menghindar dari segala hal yang kotor-kotor. Mereka tidak suka menghampiri orang yang tidak bersih untuk duduk di dekatnya. Sebagai agama yang sangat memerhatikan sod kehormatan dan wibawa umatnya,

Ketiga; Islam meminta agar mereka selalu bersih. Dengan begitu, mereka akan dihormati dan dimuliakan.

Keempat; Agar kesehatan terjaga. Kebersihan merupakan salah satu faktor terpenting dalam menjaga kesehatan. Banyak sekali penyakit yang berjangkit di mana faktor penyebabnya adalah lingkungan yang kotor dan kumuh.

Kelima; Membersihkan badan, mencuci muka, tangan, dan kaki dapat menjaga tubuh dari penyakit. Semua anggota tubuh yang dibasuh ini paling banyak bersentuhan dengan benda-benda kotor.

Keenam; Agar dapat menghadap Allah dalam keadaan suci bersih seperti halnya shalat, Karena dalam bermunajat kepada Allah sudah sepatutnyalah kita suci, baik lahir maupun batin, suci hati dan badan, ketika menghadap Allah karena Allah menyukai orang-orang yang bertobat lagi menyucikan diri.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan terkait kedudukan bersuci dalam islam. Semoga bermanfaat. Allahuma amin