Suatu saat diam memang luar biasa. Terkadang dengan diam, persoalan bisa tiada. Terkadang pula dengan tidak diam alias berbicara adalah pilihan yang tidak bisa dielakkan, yang akan menjadi solusi atas semua perkara. Diam pun bersenyawa dengan diam-diam. Terkadang beberapa masalah ada yang terselesaikan harus dengan cara diam-diam. Terkadang pula ada yang tidak bisa terselesaikan dengan cara diam-diam.

Diam adalah sebuah aktifitas. Memiliki dua kemungkinan, bermanfaatkah atau malah akan berbuah kejelekan. Ada diam menganggur, memang tidak mempunyai kegiatan dan tidak memiliki tujuan dalam kehidupan. Ada juga diam yang merupakan sebuah aksi atau sikap terhadap sesuatu.

Berbicaralah yang Baik atau Diam

Inilah kuncinya. Islam selalu bersifat sebagai pertengahan (wasath). Diam dalam Islam, adalah diam yang produktif. Begitupun ketika berbicara, berbicaralah sesuatu yang berisi, yang dapat menebarkan kebaikan kepada sesama, dapat menebar inspirasi dan dapat membangkitkan semangat untuk melaksanakan kebaikan amal sholeh. Pembicaraan yang dapat memperkuat keyakinan manakala ketika terdapat keraguan.

Islam adalah agama yang peduli kepada pemeluknya. Mengajarkan kehati-hatian dalam segala hal. Termasuk di dalam me-manage perkataan atau lisan ketika berbicara. Di dalam hadits, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka berbicaralah yang baik atau diam,’  mengandung makna ‘bahwa jika seseorang hendak berbicara, hendaklah ia berfikir terlebih dahulu; jika sekiranya pembicaraan itu tidak menimbulkan mudhorot, maka silahkan saja berbicara, namun sebaliknya  jika ada kesangsian tentang hal itu, lebih baik ia menahan diri.’ Demikianlah pernyataan dari imam Asy-Syafi’i rohimahulloh ketika berkomentar tentang hadits riwayat al-Bukhori dan Muslim tersebut.

Sebagian ulama kita mengatakan (Imam Abu Muhammad bin Abu Zaid rohimahulloh, imam madzhab Maliki di Maroko pada zamannya), ‘seluruh etika kebaikan itu bercabang dari 4 hadits, yaitu sabda Nabi sholallohu alaihi wasallam, Pertama, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dan hari akhir, maka berbicaralah yang baik atau diam,’. Kedua, ‘diantara ciri baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermakna baginya.’  Ketiga, wasiat Nabi sholallohu alaihi wasallam, ‘jangan marah’. Keempat, ‘tidaklah beriman salah satu diantara kalian sehingga dia mencintai kebaikan bagi saudaranya seperti halnya dia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri.’

Plus Minus Diam

Diriwayatkan dari Abu al-Qosim al-Qusyoiri rodhiallohu anhu, bahwa dia pernah mengatakan, ‘Diam pada waktunya adalah seperti sifat laki-laki, sebagaimana ketika berbicara pada tempatnya, merupakan bagian dan sifat yang paling terpuji.’ Sebagian ulama berkata, ‘barang siapa yang diam dari kebenaran, maka dia adalah setan bisu.’ (kitab Hilyatul Ulama’)

Ibnu Daqiq al-‘Id rodhiallohu anhu mengatakan tentang sabda Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, ‘barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir,’ yakni orang yang beriman dengan keimanan yang sempurna yang akan menyelamatkannya dari azab Alloh sholallohu alaihi wasallam dan menyampaikannya kepada ridho Alloh ,’ …maka hendaklah bebicara yang baik atau diam’. Sebab orang yang beriman kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dengan keimanan yang sebenar-benarnya tentu dia akan takut kepada ancaman-Nya dan selalu mengharap pahalanya, bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting adalah mengendalikan anggota tubuhnya yang merupakan “gembalaan” baginya dan dia bertanggung jawab atasnya.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”  (QS. Al-Isro’ [17]: 36)

 مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof [50]: 18)

Sehingga, bila memisahkan keduanya sebagai sebuah sikap yang patut dipertimbangkan, maka dalam proporsinya, kedua sikap tersebut memiliki manfaat sekaligus kekurangannya. Memilah sikap dari kedua pilihan tersebut, dalam keseharian akan selalu kita butuhkan. Dan perkara yang diperlukan adalah tentang menjadikan dua sikap tersebut tidak jatuh dalam kesia-siaan atau berlebihan. Misalnya, kemampuan berbicara di depan khalayak umum menjadi sebuah kebutuhan karena kita memiliki fungsi sebagai makhluk sosial dengan kebiasaan berinteraksi antar sesama. Untuk kepentingan itu, berbicara adalah sebuah jalan sikap yang harus diambil. Lalu bagaimana dengan diam?

Sama halnya, diam memiliki faedah dan syarat kondisionalnya tersendiri. Yang penting adalah kita mengetahui waktu-waktu yang tepat untuk mengambil diam sebagai sikap kala kita berinteraksi dengan orang lain. Diam bahkan bisa menjadi kebiasaan efektif yang bila diterapkan akan membuat diri kita menjadi lebih produktif. Yaitu dengan membiasakan lebih banyak diam dan mendengar daripada berbicara

Pada umumnya, orang yang banyak berbicara adalah orang yang lemah kepribadiannya. Ciri orang intelek menurut Islam yang disebutkan al-Qur’an adalah orang yang mendengarkan perkataan orang lain (alladziina yastami’unal qoul) dan mengikuti yang baik dari perkataan itu (fayattabiuna ahsanah). Ia adalah orang yang mau mendengarkan dan menganalisis.

Pada umumnya juga, orang pandai yang suka mendengarkan orang lain akan disukai. Sebagian manusia lebih siap untuk didengarkan daripada mendengarkan. Ada orang yang mempunyai kebiasaan berbicara dahulu, baru kemudian berpikir, sehingga ketika akan berhenti berbicara, dia tidak menemukan bagaimana caranya berhenti atau akan kesulitan untuk berhenti. Karena itu, diam menunjukkan kekuatan kepribadian seseorang. Kemampuan mendengarkan adalah kekuatan kepribadian yang luar biasa besarnya.

Berikut ini adalah mekanisme yang baik: Jika ingin berbicara, sebaiknya kita harus benar-benar yakin bahwa apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang sudah dipikirkan. Kurangilah perkataan-perkataan yang muncul secara refleks. Biasakanlah diam atau merenung, maka kita akan menjadi produktif dalam hidup. Diam bukan berarti kita sama sekali tidak berbicara, melainkan diam dalam arti hanya berbicara jika ada kebutuhan.

Ada mekanisme lain juga yang telah ditunjukkan bila kita merujuk kepada al-Qur’an. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah perkataan yang baik.”  (QS. An-Nisa’ [04]: 8)

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا

“Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Alloh mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya,” (QS. An-Nisa’ [04]: 63)

Perkataan yang baik juga disebut dengan Qaulan ma’rufa dalam surat Al-Baqoroh pada ayat ke-263. Al-Qur’an menunjukkan pilihan dalam berbicara yakni pembicaraan yang disertakan perkataan yang baik. Dan mekanisme mana lagi yang lebih baik dibandingkan dengan anjuran yang difirmankan oleh-Nya?

Sebagai bahan renungan, di bawah ini adalah tips bagaimana agar lisan kita terjaga dari perkataan tercela, antara lain:

  1. Senantiasa meminta pertolongan kepada Alloh atas bahaya lisan kita.
  2. Basahilah lisan kita dengan dzikir.
  3. Berfikir terlebih dahulu (akan manfaat dan mudhorot) sebelum bertutur.
  4. Ketika kita menyadari akan kekeliruan ucapan kita, beristighfarlah, dan berjanji untuk tidak mengulanginya.
  5. Jauhkanlah diri dari kebiasaan mengucapkan hal-hal yang tidak bermanfaat. “Di antara ciri kebaikan Islam seseorang adalah ketika bisa meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” (H.R. Tirmizi dan Ibnu Majah)
  6. Janganlah berbicara berlebihan atau melebih-lebihkan sesuatu.

Demikianlah di antara tips-tips yang akan membebaskan kita dari racun lisan. Mudah-mudahan, Alloh subhanahu wa ta’ala menggolongkan kita termasuk orang-orang yang senantiasa menjaga dan menghiasi lisan dengan dzikir-dzikir cinta kepada Alloh. Keselamatan seorang manusia juga terletak dalam menjaga lidahnya. Alloh menyeru umat-Nya agar menggunakan lidah untuk berzikir dan menyebut nama-Nya.

Sebagai penutup, inilah intisari dari hadits ‘Berkata yang baik atau diam’ adalah;

  1. Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.
  2. Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang di kalangan individu masyarakat Muslim.
  3. Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya .
  4. Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.
  5. Islam sangat menjaga agar seorang Muslim berbicara yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.
  6. Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.
  7. Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.

Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memampukan kita semuanya untuk meraih kebaikan baik ketika BERBICARA ataupun ketika DIAM. Allohu al-Musta’an.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05