Mereka mengatakan, “Duhai Rosululloh, kami telah diberi beban amal yang sanggup kami kerjakan:, shalat, jihad, puasa, shadaqah. Dan kemudian ayat ini turun kepadamu sedangkan kami tidak mampu melaksanakannya.

Maka Rosululloh  pun menjawab, “Apakah kalian mau mengatakan sebagaimana yang diucapkan oleh para pengikut Taurat dan Injil sebelum kalian, “Sami’naa wa ‘ashainaa’?, Janganlah seperti itu, Akan tetapi ucapkanlah, “Kami dengar dan kami taati. Kami mohon ampunan-Mu wahai Rabb kami. Dan kepada-Mu lah tempat kembali.” Maka mereka pun mengucapkan, “Kami dengar dan kami taati. Kami mohon ampunan-Mu wahai Rabb kami. Dan kepada-Mu lah tempat kembali”.

Dalam hadits ini Abu Hurairoh  ini menceritakan sikap para sahabat tatkala turun ayat tersebut. Mereka merasa bahwa isi ayat tersebut sangat berat bagi mereka. Karena di dalamnya Alloh menyatakan akan menghisab perkara, yang ditampakkan maupun yang disembunyikan di dalam diri. Padahal di dalam hati manusia senantiasa muncul bisikan dan pikiran yang tak bertepian. Syaithan sering sekali menghampiri hatinya, dan menimbulkan munculnya berbagai pikiran jelek dan mungkar, baik yang menyangkut masalah agama, atau masalah harta dan lain sebagainya banyak sekali.

Sementara itu Alloh berfirman, “Dan apabila kalian menampakkan apa yang ada di dalam jiwa kalian ataupun menyembunyikannya niscaya Alloh akan menghisabnya”.

Kalau memang demikian adanya, niscaya semua orang pasti celaka. Sehingga para sahabat pun datang mengadu kepada Nabi  dan bersimpuh di hadapan beliau. Mereka mengatakan, “Wahai Rosululloh. Sesungguhnya Alloh  sudah memerintahkan kami untuk beribadah dengan semampu kami, seperti shalat, jihad, puasa, shadaqah. Perintah-perintah ini mampu untuk kami laksanakan. Kami pun shalat, berjihad, bershadaqah dan berpuasa. Namun sekarang, kami merasa berat dengan turunnya ayat ini, “Dan apabila kalian menampakkan apa yang ada di dalam jiwa kalian, ataupun menyembunyikannya niscaya Alloh akan menghisabnya.”

Perkara ini terasa berat dan sulit untuk dilaksanakan oleh mereka. Tidak ada seorang pun yang sanggup untuk menghalangi isi hatinya, dari munculnya berbagai pikiran jelek, yang sekiranya dia dihisab dan dihukum karena itu semua pastilah akan binasa.

Maka Nabi  pun bersabda, “Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana perkataan pengikut dua kitab sebelum kalian”, yaitu kaum Yahudi pengikut Taurat dan Nasrani pengikut Injil. Mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami durhakai.”

Apakah kalian ingin seperti mereka, kata beliau . “Akan tetapi hendaknya kalian berkata, “Kami mendengar dan kami taati, Ampunilah kami wahai Rabb kami. Dan kepada-Mu lah tempat kembali”.”

Terkait hadis ini, Syaikh Al ‘Utsaimin mengatakan bahwa yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim apabila mendengar perintah dari Alloh dan Rasul-Nya . Yaitu mengatakan, “Kami mendengar dan kami taati”, dan berusaha melaksanakannya sekuat kemampuan kita, karena Alloh  tidaklah membebankan kecuali menurut kemampuan diri kita. Kemudian setelah mereka mau berlapang dada untuk mengucapkan kalimat kepasrahan tersebut, serta jiwa-jiwa mereka pun menjadi tunduk, begitu pula lisan-lisan mereka patuh dengan penuh ketundukan, maka Alloh pun menurunkan ayat sesudah itu untuk memuji mereka atas sikap mereka tersebut.

Sehingga apa-apa yang berada di luar kesanggupan dan kuasa manusia, tidak akan dibebankan kepadanya. Dan munculnya hal itu tidaklah mengapa, seperti contohnya bisikan atau waswas yang menyelusup ke dalam hati, kemudian orang tersebut berusaha untuk menolak dan menyingkirkannya. Karena hal-hal semacam ini tidak mungkin bisa dia hindari.

Syaikh Al ‘Utsaimin juga mengatakan, bahwa sebab itulah Alloh  tidak akan membebankan kepada manusia sesuatu yang tidak sanggup dikerjakannya. Bahkan jika dia tidak sanggup untuk melakukan sebuah kewajiban maka bentuknya akan berubah menjadi cara lain yang bisa menggantikannya, apabila hal itu ada penggantinya. Atau bisa jadi kewajiban itu gugur darinya jika memang tidak ada penggantinya”.

Adapun terhadap hal-hal yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia, maka do’a kita adalah, “Wahai Rabb kami janganlah Engkau bebankan kepada kami sesuatu yang tidak sanggup kami pikul” Maka di dalam lanjutan hadits tersebut Alloh menyatakan, “Ya, Ku-kabulkan do’amu”, artinya Alloh tidak akan memikulkan kepada kita sesuatu yang tidak sanggup kita laksanakan.

Jadi, dari ayat yang mulia ini kita bisa mengambil pelajaran, bahwa Alloh  tidak akan memikulkan kepada kita sesuatu yang tidak sanggup kita tanggung.

Dan Alloh tidak akan membebankan melainkan yang sesuai dengan kemampuan kita. Adanya waswas yang muncul dalam hati kita tidak akan membahayakan, selama kita tidak merasa senang dan tenang dengannya, apalagi untuk kita turuti kemauannya.

Terkait hal ini kita hendaknya mencontoh para sahabat Nabi  yang mulia, Mereka pun pernah merasa berat untuk menerima suatu ayat. Ayat, Pembaca, bukan hadits. Cobalah bayangkan perasaan yang muncul di dalam hati mereka tatkala itu, beratnya bukan main. Sampai-sampai mereka mengadu dan bersimpuh di hadapan baginda Nabi . Dengan jujur mereka sampaikan unek-unek mereka. Namun apa jawaban Rosululloh ?,

Apakah Rosululloh  kemudian berusaha mencari-cari keringanan, dan mencoba menghibur hati para sahabat dan mengatakan:, “Sabarlah, pasti Alloh akan memberikan keringanan”. Tidak, sama sekali tidak, Bahkan keimanan yang kokoh dan menghunjam di dalam dada beliau  menuntut beliau untuk bersikap tegas dan mengatakan, “Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana ucapan kaum Yahudi dan Nasrani yang berkata, “Kami dengar dan kami durhakai”. Jangan demikian, Akan tetapi ucapkanlah, “Kami dengar dan kami taati”, meskipun hal itu terasa berat. Allaahu Akbar, Inilah bukti kekuatan iman Pembaca.

Inilah syi’ar orang-orang beriman di sepanjang masa. “Sami’naa wa atha’naa”. Dan lihat juga bagaimana reaksi yang muncul dari para sahabat ketika itu. Mereka lebih memilih untuk tunduk dan patuh. Mereka tidak mendebat dan membantah sabda Nabi  dengan akal dan pikiran-pikiran mereka.

SubhanAlloh, jauh sekali perbedaannya dengan sebagian kaum yang hidup di jaman sekarang ini. Mereka berani membantah sabda Nabi  dengan akalnya. Bahkan di antara mereka ada yang membantah ayat Al Qur’an dengan pikirannya.

Ingatlah perkataan bijak seorang ulama kita, Abu Ja’far Ahmad Ath Thahawi  di dalam Aqidah Thohawiyah-nya, ia mengatakan bahwa  tidak akan pernah kokoh pijakan keIslaman seseorang kecuali di atas landasan ketundukan dan penyerahan diri. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Demikianlah penjelasan singkat terkait beberapa kaidah penting yang hendaknya kaum muslimin ketahui, yang bisa kita kaji dalam Rubrik Manhaj edisi kali ini, semoga Alloh  memudahkan kita dalam mengamalkan dan mendakwahkan setaip Ilmu yang telah kita dapat, Aamiin, Wallohu a’lam, Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

 

%d bloggers like this: