Beberapa kaidah penting yang hendaknya diketahui oleh kaum muslimin. kaidah pertama adalah, kewajiban tunduk terhadap hukum Alloh  dan Rosululloh ,

Syaikh Muhammad Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, bahwa mereka tidaklah beriman hingga mau menjadikan Nabi Muhammad  sebagai hakim dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara mereka,

dan itu artinya sampai mereka mau menjadikan Nabi Muhammad   sebagai pemberi keputusan, dalam menyelesaikan persengketaan yang ada di antara mereka, dalam urusan-urusan agama maupun urusan-urusan dunia.

Dalam urusan agama, misalnya, apabila ada dua orang yang berselisih dalam menentukan hukum suatu permasalahan syari’at. Seorang di antara mereka berdua berkata, “Itu adalah haram”. Sedangkan orang kedua berkata, “Itu halal”. Maka untuk mencari keputusan hukumnya adalah kepada Rasululloh . Maka tidaklah seorangpun di antara mereka berdua yang berselisih tadi dinyatakan beriman, sampai mau berhakim kepada Rosululloh .”

Demikian pula seandainya orang-orang berselisih dalam urusan dunia di antara mereka. Sebagaimana kejadian yang dialami oleh Zubair bin ‘Awwaam  bersama tetangganya dari kaum Anshar, ketika mereka berdua mencari keputusan kepada Rosululloh  dalam permasalahan suatu sumur air di lembah maka beliau pun menjadi hakim bagi mereka berdua. Inilah contoh berhakim dalam urusan agama maupun dunia. Yang terpenting ialah, seseorang tidaklah dinyatakan beriman dengan benar, hingga pencarian keputusannya dalam urusan agama maupun dunia, adalah kepada keputusan Rosululloh  .

Kalau ada yang bertanya, “Bagaimanakah berhakim kepada Rasul sesudah beliau wafat?”, Maka jawabannya ialah, berhakim kepada beliau sesudah wafatnya ialah dengan cara berhakim kepada Sunnahnya.

Berdasarkan ayat yang telah dibacakan tadi, ada tiga syarat yang harus dipenuhi di dalam diri seseorang agar benar keimanannya, yaitu:, Berhakim kepada Nabi ,  tidak boleh merasa sempit di dalam hatinya terhadap keputusan Nabi , dan harus tunduk menerima sepenuhnya dan pasrah secara total terhadapnya.

Maka dengan ketiga syarat inilah seseorang bisa dikatakan sebagai seorang mu’min. Apabila syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka bisa jadi dia keluar dari keimanan secara keseluruhan, atau bisa juga menjadi menyusut keimanannya, wallaahul muwaffiq”.

Kemudian kaidah kedua yang penting kita ketahui adalah bahwa sunnah Nabi  adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, Rosululloh   bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Alloh, mendengar dan taat kepada pemimpin. Meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.

Dan barang siapa yang masih hidup di antara kalian, pasti akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan Sunnah ku dan Sunnah para Kholifah yang lurus lagi berpetunjuk. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, bahwa Rasululoh  memerintahkan kita tatkala melihat perselisihan ini yaitu banyaknya perselisihan, sebagaimana disebutkan di dalam hadits, supaya berpegang teguh dengan Sunnah beliau.

Makna kata Sunnah beliau  adalah:, jalan yang beliau tempuh, yang mencakup akidah, akhlak, amal, ibadah dan lain sebagainya. Kita harus berpegang teguh dengan Sunnah beliau. Dan kita pun berhakim kepadanya.

Dengan demikian, Sunnah Nabi   adalah satu-satunya jalan keselamatan bagi orang yang dikehendaki Alloh  untuk selamat dari berbagai perselisihan dan berbagai macam kemaksiatan. Dan Alhamdulillah Sunnah tersebut telah tercantum di dalam kitab-kitab para ulama yang menulis karya tentang As Sunnah, seperti Shohihain yaitu Dua Kitab Shohih karya Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan kitab-kitab Sunan serta Musnad-Musnad dan karya lainnya yang sudah ditulis oleh para ulama. Dan melalui karya-karya itulah mereka menjaga Sunnah Rosululloh .

Selanjutnya kaidah ketiga  yang selayaknya kita ketahui adalah bahwa syi’ar kaum beriman adalah ‘sami’naa wa atha’naa’ yakni Kami dengar dan Kami Taat.

Agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia”.

Terkait hal  ini, Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di  menjelaskan, bahwa sesungguhnya sifat orang yang benar-benar beriman yaitu yang imannya dibuktikan dengan amalan, apabila diajak untuk kembali kepada Alloh dan Rasul-Nya , supaya Rasul  memberikan keputusan di antara mereka, niscaya mereka akan mengatakan, “Kami dengar dan kami taati”, sama saja apakah keputusan tersebut dirasa cocok ataupun tidak oleh hawa nafsu mereka. Artinya mereka mendengarkan keputusan hukum Alloh  dan Rasul-Nya  serta memenuhi panggilan orang yang mengajak mereka untuk itu. Mereka taat dengan sepenuhnya tanpa menyisakan sedikitpun rasa keberatan.

Demikianlah pembahasan singkat terkait beberapa kaidah penting untuk kaum Muslimin, semoga kita semua dimudahkan oleh Alloh  dalam mengamalkan beberapa kaidah yang telah disebutkan sesuai dengan yang Alloh dan Rosul-Nya ajarkan, Aamiin,

Wallohu a’lam, Wassalamu’alaikum warohmatlohi wabarokaatuh.

%d bloggers like this: