Oleh: Ust. Abu Mujahidah, Lc., M.E.I.

Bersuci dari hadats dan najis adalah syarat diterimanya shalat seseorang. Begitu pula ibadah-ibadah yang mewajibkan thoharoh atau bersuci seperti thawaf dan membaca al-Qur’an dengan memegang mushaf. Allah azza wa jalla telah menetapkan air sebagai alat yang digunakan untuk bersuci. Allah ta’ala berfirman:

Kami turunkan dari langit air yang suci dan dapat menyucikan.” (QS. al-Furqan: 48)

Para ulama fikih telah merinci jenis air yang hukumnya berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada air mutlak, air musta’mal atau air yang bercampur dengan sesuatu yang suci, dan air yang bercampur dengan sesuatu yang najis.

Jenis air yang pertama adalah air mutlak. Yaitu air yang suci dan dapat digunakan untuk bersuci. Seperti air hujan, air laut, air es, air embun, air mata air, air sungai, air laut, air zam-zam, dan lain-lain.

Pada suatu hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, kami berlayar ke laut dengan membawa sedikit air. Jika air itu kami pakai berwudhu, kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut saja?” Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dalam doa istiftah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dan kesalahan- kesalahanku, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan air es.”

Termasuk ke dalam jenis air mutlak adalah air yang tercampur karena telah lama tergenang pada suatu tempat atau karena bercampur dengan benda yang dapat merubah dzat air tersebut, seperti air yang dipenuhi oleh lumut atau ganggang atau bercampur dengan daun-daun yang membusuk.

Jenis air yang kedua adalah air Musta’mal. Yaitu air sisa wudhu atau mandi. Maksudnya adalah air yang menetes dari sisa bekas wudhu seseorang, atau sisa bekas air mandi janabah. Air yang telah digunakan untuk thoharoh atau bersuci tersebut kemudian masuk lagi ke dalam penampungan. Para ulama seringkali menyebut air jenis ini air musta’mal.

Air musta’mal berbeda dengan air bekas mencuci tangan, atau membasuh muka atau bekas digunakan untuk keperluan lain, selain untuk wudhu’ atau mandi janabah. Sehingga air bekas mandi biasa bukan mandi junub, tidak disebut sebagai air musta’mal.

Hukum jenis air ini adalah sama dengan hukum air mutlak yaitu suci dan mensucikan.

Hal ini berdasarkan hadits bahwa sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, “Sebagian istri-istri Nabi mandi di dalam satu bak. Kemudian, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam datang dan hendak berwudhu dari air tersebut atau hendak mandi. Maka, istrinya berkata, ‘Ya Rasulullah, saya ini junub.’ Beliau menjawab: “Sesungguhnya air tidak menjadi junub.” (QS. Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan an-Nasa’I)

Dalam kitab Ainul Ma’bud dijelaskan bahwa hadits ini dijadikan dalil atas sucinya air musta’mal. Air tidak menjadi junub dengan mandinya orang yang junub dari air di kolam tersebut.

Jenis air yang ketiga adalah air yang bercampur dengan sesuatu yang suci. Seperti air yang bercampur dengan sabun, minyak za’faran, tepung, dan lainnya yang dapat merubah dzat air.

Hukum air ini adalah suci, selama masih dianggap sebagai air murni. Apabila secara adat sudah tidak dapat dikatakan sebagai air, maka ia pun tetap suci, namun tidak dapat digunakan untuk bersuci.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dalam kitab shohihnya bahwa Ummu Athiyyah radhiallahu anha berkata:

“Nabi shalallahu alaihi wasallam masuk menemui kami disaat kami memandikan anak putrinya. Beliau bersabda: Mandikanlah tiga kali, lima kali atau lebih jika dipandang perlu dengan campuran air dan daun bidara.” (HR. Bukhari & Muslim)

Jenis air yang keempat adalah air air yang bercampur dengan sesuatu yang najis. Hal ini masih mempunyai dua kemungkinan, yaitu:

Pertama, jika najis tersebut merubah rasa, warna, dan bau air tersebut, maka airnya tidak dapat digunakan untuk thoharoh atau bersuci.

Kedua, jika najis tersebut tidak merubah salah satu dari dzat air, sehingga secara adat pun air tersebut masih dianggap sebagai air, maka hukumnya suci dan mensucikan.

Imam Muhammad bin Ismail as-Shon’ani rahimahullah menukil perkataan Imam Ibnul Mundir rahimahullah dalam kitabnya Subulusalam bahwa beliau berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa air sedikit dan banyak jika ada najis yang jatuh ke dalamnya lalu mengubah rasa atau warna atau baunya maka air itu najis. Maka kesepakatan atau Ijma ulama ini adalah dalil atas najisnya air yang berubah salah satu sifatnya.”

Demikianlah pembahasan fikih tentang jenis-jenis air. Semoga pembahasan ini bermanfaat. Wallahu a’lam,