Oleh: Hawari, Lc

Bagi orang tua muslim, adalah sebuah aib jika menjadi  sosok orang tua yang diktator kepada anak-anaknya. Aib karena kediktatoran memang sebagai refleksi  dari sikap egois dan ingin menang sendiri. Anak selalu dipaksa orang tua, sehingga bersikap kaku dalam menghadapi masalah. Sama sekali tak ada kesempatan bermusyawarah dan berdiskusi bersama si buah hati. Padahal Nabi sholallohu alaihi wasallam yang diberi wahyupun senantiasa membudayakan musyawarah dan diskusi dalam segala hal.

Memang kita sangat menginginkan anak-anak kita menjadi penurut dan mudah diatur. Akan tetapi sedikit sekali orang tua yang memahami pentingnya berdiskusi dari hati ke hati tentang apa yang terbaik untuk sang buah hati.

Sebuah Pelajaran Berharga

Satu hari ada perasaan kalut yang menggelayuti hati Nabi Ibrohim alaihissalam, kekasih Alloh. Perasaan cemas dan gelisah mengkristal dalam benak seorang bapak yang mencintai buah hatinya. Gumpalan permasalahan itu seolah sulit diterjemahkan ke dalam kata-kata. Bagaimana tidak, ia diperintahkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala untuk menyembelih anak semata wayangnya sebagai bukti keimanan dan kesabarannya. Memang seolah-olah tak masuk akal, akan  tetapi memang agama Alloh ini bukan agama akal-akalan. Mengenai hal ini Alloh subhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam al-Qur’an,

 فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrohim , Ibrohim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Wahai ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Alloh engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. ash-Shoffat [37]: 102)

Kisah ini tentu sangat familiar di telinga kita, namun ada satu hal yang menarik di ayat ini untuk kita gali faidahnya. Perkataan Nabi Ibrohim alaihissalam kepada putranya yang masih kecil, ”Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”. Jika kita tadabburi, kata–kata ini sangat luar biasa. Sungguh sangat bijak perkataan tersebut. Sebuah kalimat hikmah yang tidak keluar dari mulut orang tua, kecuali mereka yang benar-benar faham mendidik putra-putrinya. Inilah seharusnya teladan bagi seorang ayah pada anaknya, mengajak berpikir dan berdiskusi buah hatinya ketika badai masalah melandanya. Bukan malah berlaku egois dan memaksa anak untuk selalu ‘terima jadi’ atas segala keputusan kita tanpa melibatkannya.

Wahai para ayah dan ibu, pernahkah kita memberikan kesempatan berpikir dan berdiskusi kepada anak saat ingin membelikan baju, sepatu atau bahkan memilih sekolah untuk anak kita? Pernahkah kita berdiskusi membuat jadwal kebersihan, silaturrohim, serta menentukan berbagai peraturan rumah yang berkaitan dengan anak kita?

Kebanyakan kita berlaku diktator dan egois terhadap mereka. Jangan berpikir mengajak anak berdiskusi dalam hal ini tidak ada manfaatnya. Buktinya, Nabi Ibrohim alaihissalam menjadi semakin teguh setelah mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dengan anaknya. Memang kelihatannya sepele, tetapi sangat berpengaruh terhadap jati diri dan pertumbuhan kreatifitas buah hati kita.

Biasakan Berdiskusi dengan Anak Sejak Dini

Dari diskusi Nabi Ibrohim alaihissalam dan putranya Ismail ternyata menumbuhkan sikap teguh untuk menjalankan perintah Alloh subhanahu wa ta’ala. Ibrohim sebagai orang tua telah memberikan pemahaman melalui diskusi ilmiah, bahwa yang ingin dikerjakannya adalah perintah Alloh, bukan nafsu. Sehingga Ismail pun menerima, bahkan memberikan jawaban pasti yang seolah menghancurkan gumpalan dan bongkahan keresahan yang menyelimuti hati ayahandanya. Subhanalloh…, sungguh ada hikmah besar tatkala orang tua mau berdiskusi dengan anaknya. Contoh yang tak kalah menarik adalah kisah-kisah kehidupan Nabi sholallohu alaihi wasallam bersama anak-anak para sahabat dan cucu beliau yang sangat menarik bagi pendidik untuk dicermati dan dikaji.

Budaya diskusi dengan anak hendaknya menjadi perhatian pokok orang tua ketika hendak membuat kebijakan yang berkaitan dengan anak. Mereka harus dilatih sejak dini meyampaikan ide dan saran. Dengan demikian ia akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan terampil menyampaikan gagasannya.

Tak dipungkiri salah satu cara mendidik anak menjadi kreatif adalah dengan cara berdiskusi dengan mereka. Dari sinilah sebenarnya kreativitas dan daya kritis anak terbangun. Tentunya dengan bahasa sederhana sesuai tingkat pemahamannya. Membiasakan diskusi sejak dini dengan buah hati sangat banyak manfaatnya, diantaranya:

  1. Menumbuhkan kreatifitas pada diri anak kita.
  2. Mengasah daya pikir anak dalam memahami realita.
  3. Menambah kedekatan orang tua kepada buah hatinya.
  4. Mengarahkan cara berpikir yang benar dan islami.
  5. Membimbing fitroh anak ke arah pemahaman yang lurus dan membentenginya dari pengaruh buruk lingkungan.
  6. Melatih percaya diri pada anak dalam menyampaikan gagasannya.
  7. Mengajari adab-adab berbicara kepada orang tua, dan lain sebagainya.

Dari Hati ke Hati

Terkadang orang tua tidak tahan menghadapi anak yang hiperaktif dan agresif. Mereka selalu bertanya ini itu yang memang bobot pertanyaannya sangat remeh di mata orang dewasa, bahkan menganggap anaknya cerewet. Sehingga orang tuapun seringkali acuh dan enggan berdiskusi dengannya. Padahal di situlah anak mulai berpikir dengan bertukar pikiran, dan juga mulai mencerna masalah yang ada. Pada saat itu sejatinya dia butuh lawan diskusi yang mengerti dan menjawab keingintahuannya.

Oleh karena itu jangan ragu wahai para orang tua, berusahalah menyelami dunia anak yang masih terlalu sederhana dalam berpikir terhadap realita. Jika kita bersifat diktator, justru kita sendirilah yang menjadi pembunuh bakat dan karakter positif pada diri anak-anak kita. Berlemah lembut dan berdiskusilah dari hati kehati dengan sang buah hati tercinta, dan jangan lupa sertakan dia dalam linangan air mata doa. Semoga kesuksesan senantiasa bersama keluarga kita. Amiin..


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05