Oleh: Ali Maulida, M.Pd.I

Tidak ada alasan bagi seorangpun manusia untuk tidak bersyukur kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Setelah manusia terlahir di muka bumi, semua kebutuhannya diberikan dengan sangat berlimpah, yang jikalau mereka menghitung nikmat-nikmat Alloh subhanahu wa ta’ala, niscaya tak ada seorangpun yang mampu menghitungnya.

Anugerah berlimpah ini bukan hanya pada sisi fisik jasadi, tetapi juga meliputi aspek ruhani. Manusia tidak dibiarkan berjalan di muka bumi tanpa arah dan berbuat sesuka hati, tetapi ada tuntunan wahyu yang harus diikuti jika mereka ingin selamat dunia dan akhirat. Jika mereka berpaling dari tuntunan-Nya pasti mereka akan binasa.

Tuntunan inilah risalah Islam yang Alloh berikan kepada para nabi dan Rosul utusan-Nya, risalah yang dibawa oleh Rosululloh Muhammad sholallohu alaihi wasallam adalah penutup dan penyempurna bagi seluruh risalah sebelumnya. Tidak ada satupun manusia yang dapat meraih kebahagiaan hakiki dan kesuksesan sejati kecuali jika mereka meniti cara beragama; berakidah, beribadah, dan berperilaku dalam seluruh aspek kehidupan sesuai tuntunan beliau sholallohu alaihi wasallam.

Beliau sholallohu alaihi wasallam telah menyampaikan seluruh detail tuntunan syariah Islam ini dengan sangat jelas. Hal ini sebagaimana telah beliau tegaskan sebagai pesan di akhir hayatnya;

“Sungguh, telah aku tinggalkan kalian dalam keadaan terang benderang. Malamnya seperti siang harinya. Setiap orang sepeninggalku yang menyimpang darinya pastilah binasa…” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, al-Hakim, dan at-Thobroni)

Apa saja yang mendatangkan kebaikan bagi umatnya telah beliau jelaskan, sebagaimana segala bentuk kemudhorotan dan jalan-jalannya pun telah beliau sampaikan. Intinya, jalan kebahagiaan hanya satu, yaitu syariahnya yang murni, yang tak terkotori dengan noda-noda syirik dan bid’ah. Itulah jalan yang mengantarkan manusia kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :

 وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

(yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. (QS. Al-An’am [6]: 153)

Praktis, semua sangatlah mudah. Kita hanya diperintahkan ber-ittiba’, mengikuti dan mencontoh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Semuanya telah jelas, tak perlu repot ‘meracik dan meramu’ ajaran baru. Tinggal pelajari dari sumber dan dengan metode yang benar, lalu amalkan.

Namun anehnya, walaupun demikian mudahnya syariah Islam, dari masa ke masa selalu banyak orang yang lebih condong ke jalan-jalan alternatif. Sibuk meramu ajaran baru, asyik mengikuti hawa nafsu, dan terbuai dorongan logika yang ‘sok tahu’.

Ritual baru pun diselenggarakan. Ragam ibadah baru tanpa dalilpun tidak sedikit yang dibuat, atau ditambah aneka rupa bentuk bilangan, tempat, atau kaifiat (cara) yang diada-adakan. Padahal hakikatnya semua itu adalah jalan-jalan alternatif yang menipu. Tata cara beragama yang telah memporakporandakan persatuan umat yang telah diikat dalam satu syariah.

Anehnya lagi, para peramu ‘syariah baru’ (baca: bid’ah) dan orang-orang yang tertipu dengan ramuannya tak segan-segan mengklaim bahwa syariah buatan mereka, akidah yang mereka yakini, atau  amalan yang mereka lakoni adalah jalan sesungguhnya yang diridhoi Alloh ta’ala, berpahala besar, jalan bahagia, dan dengan demikian yang menyelisihinya atau meninggalkannya akan merugi dan celaka.

Klaim yang tak berdasar, perasaan jiwa, atau pendapat tokoh agama yang tak berlandaskan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sumber-sumber penyimpangan dalam beragama. Tak sedikit pula umat yang terhanyut dalam retorika, terbuai dengan  kharisma, dan membuat beragam peribadahan dengan tidak peduli lagi apakah Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pernah mengajarkannya kepada kita atau tidak…?

Keanehan yang seakan tak ada habisnya. Para pembuat dan pelopor bid’ah tak segan pula mengaku dan mengklaim cinta pada Alloh  dan Rosul-Nya. Ketika dinasihati dan diperingatkan bahwa perbuatan (baca: tata cara beragama) mereka akan merusak dan menghancurkan Islam, malah justru mereka merasa dan mengaku sedang membela agama.

Di dalam Islam tidaklah cukup untuk menyatakan sesuatu itu benar jika tanpa landasan yang benar. Niat baik saja tak cukup menjadikan sebuah keyakinan dan ibadah menjadi baik. Harus ada dalil (al-Qur’an dan hadits shohih) yang mendasarinya, yang melegitimasi itu semua sebagai bagian dari Islam. Jika tidak, maka sebaik apapun dalam anggapan orang, sebanyak apapun yang melakoninya, semuanya hanya sia-sia, dan tak kan mungkin berbuah pahala.

Ittiba’ adalah ujian bagi orang yang mengaku cinta kepada Alloh, mengklaim sebagai pembela agama-Nya, ingin mencari ridho-Nya, atau beragam pengakuan lain yang semakna.

 Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :

 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ 

“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”. (QS. Ali-Imron [3]: 31)

Hasan al-Bashri rohimahulloh dan para ulama salaf mengatakan: ”Banyak orang yang mengklaim bahwa mereka mencintai Alloh, dan Alloh menguji (kebenaran klaim) mereka dengan ayat ini”.

Ibnu Katsir rohimahulloh pun menjelaskan:

“Ayat ini menjadi hakim (pemutus) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Alloh sedangkan ia tidak mengikuti manhaj (metode beragama) Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Sungguh, orang tersebut berdusta dengan klaimnya, sampai ia mengikuti syariat Muhammad sholallohu alaihi wasallam dan agama beliau dalam seluruh ucapan maupun perbuatan. Hal ini sebagaimana hadits Nabi : “Barangsiapa melakukan suatu amal (peribadahan) yang tidak ada dalam tuntunan kami, maka amal itu tertolak”. (HR. Muslim)

Dengan demikian, kesesuaian tata cara dan metode beragama dengan tuntunan Rosululloh sholallohu alaihi wasallam adalah bukti kebenaran cinta seseorang kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Jika tidak, maka semua pengakuan itu tak lebih dari klaim cinta palsu dan dusta belaka.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05