Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Alhamdulillah, kembali berjumpa dengan saya melalui jalinan udara, untuk sama-sama kita menambah ilmu dan iman, sebagai bekal mengarungi kehidupan di masa yang akan datang, baik dunia maupun di alam keabadian.

Jika kita membaca sejarah atau -biografi para tokoh muda Islam di masa lalu, seperti para sahabat, tabi’in ataupun ulama-ulama muda berikutnya, maka di antara sifat yang sangat menonjol dari mereka adalah keberanian. Ya, banyak sekali kita dapati teladan keberanian dari sosok-sosok sahabat dan generasi terbaik setelahnya. Dan memang, sudah seharusnya sebagai pemuda memiliki sifat berani. Bagaimana dengan Anda? Merasa sudah berani?

Di kesempatan kali ini, kita akan sedikit membahas tentang sifat berani.

Sifat berani adalah sifat mulia dari orang-orang terhormat sejak dulu. Sebaliknya sifat penakut dan pengecut adalah sifat tercela dari orang-orang sejak dulu sampai sekarang. Oleh karena itu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selalu berlindung kepada Allah dari sifat pengecut ini. Dalam bait-bait doanya, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berucap,

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari sifat bakhil dan pengecut.

Nah, dari doa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ini dapat diketahui betapa buruknya sifat pengecut dan mulianya sifat berani.

Mungkin setiap kita punya tekad menjadi pahlawan dalam agama Islam ini. Namun, sudahkah kita memiliki syarat dari kepahlawanan ini? Dan di antara syaratnya adalah keberanian. Karena seorang pahlawan sejati pasti merupakan seorang pemberani sejati.

Tidak akan pernah seseorang disebut pahlawan, jika ia tidak pernah membuktikan keberaniannya. Pekerjaan dan tantangan besar dalam sejarah selalu membutuhkan kadar keberanian yang sama besarnya dengan pekerjaan atau tantangan. Sebab, pekerjaan dan tantangan besar itu selalu menyimpan resiko. Dan, tidak ada keberanian tanpa resiko.

Sebagai contoh, kita tahu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam merupakan sosok pahlawan dalam agama Islam ini. Dan kita juga tahu, bahwa tugas dan tanggung jawab beliau, sangat-sangat besar. Tugas dan tanggung jawab besar tersebut, pun memiliki resiko yang sangat besar pula.

Namun, beliau dengan gagah berani menjalani dan menghadapi segala tantangan yang ada, hingga dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, beliau pun meriah kesuksesan yang amat gemilang. Artinya, beliau merupakan orang yang sangat berani, bahkan beliau adalah orang paling pemberani.

Masya Allah, semoga kita bisa meneladani beliau dalam masalah keberanian ini.

Kemudian, jika kita memperhatikan ayat-ayat tentang perintah jihad dalam Al-Quran, maka pasti perintah jihad tersebut tentunya hanya dapat dilaksanakan para pemberani. Oleh karena itu, dalam Al-Quran Allah subhanahu wa ta’ala memuji ketegaran para mujahid dalam perang, dan sebaliknya membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada resiko kematian. Ya, taruhannya memang tidak ada lagi, kecuali kematian.

Lalu, dari mana datangnya keberanian itu? terlebih keberanian para pahlawan Islam yang gagah perkasa pada masa dahulu?

Secara umum, keberanian itu terbentuk dari dua sebab. Yang pertama, keberanian memang sudah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Jadi, dari awal, karakternya memang sudah pemberani. Sedangkan yang kedua, keberanian itu muncul, tumbuh dan berkembang melalui faktor eksternal atau luar, seperti adanya doktrin yang kuat atau juga dengan latihan.

Nah, keberanian para pahlawan Islam bisa disebabkan dari dua hal tersebut, atau keduanya saling menguatkan. Pada dasarnya mereka sudah pemberani, kemudian ditambah adanya keyakinan dan iman yang kuat terhadap Allah. Sehingga, keberanian mereka pun berlipat-lipat ganda. Masya Allah…

Faktor fitrah dan iman, merupakan mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin. Bahkan meskipun kondisi fisiknya tak terlalu mendukungnya seperti keberanian Ibnu Mas’ud dan Abu Bakar radhiallahu anhu.

Sebaliknya, seseorang bisa menjadi lebih berani dengan dukungan fisik, seperti keberanian Umar, Ali, dan Khalid radhiallahu anhum. Nah, kalau kita baca sepak terjang mereka-mereka ini dalam siroh, Masya Allah, sungguh luar biasa keberaniannya dalam menegakkan Islam dan membela Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Mereka sama sekali tidak peduli dengan diri sendiri. Tidak peduli akibat apa yang akan mereka terima. Yang penting bagi mereka, Islam bisa tegak dan jaya, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dapat selamat dan aman.

Bagaimana dengan kita? Semoga saja, Allah mengaruniakan keberanian kepada kita, untuk membela agama-Nya.

Nah, tadi disebutkan bahwa berani itu muncul dari dua faktor. Ada faktor fitrah atau internal, ada juga faktor eksternal. Kalau ternyata kita dapati, secara bawaan kita tidak terlalu pemberani, jadi harus bagaimana?

Islam sebagai agama yang sangat sempurna, telah mengajarkan cara membentuk keberanian dengan beberapa latihan. Islam menyuruh umatnya melatih anak-anak untuk berenang, berkuda, dan memanah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Ajarilah anakmu berenang sebelum menulis. Karena ia bisa diganti orang lain jika ia tak pandai menulis, tapi ia tidak dapat diganti orang lain jika ia tak mampu berenang.”

Dalam sabda yang lain, beliau mengatakan, “Kekuatan itu pada memanah, kekuatan itu pada memenah, kekuatan itu pada memanah.”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tadi, adalah keterampilan fisik yang mendukung munculnya keberanian fitrah. Itu di antara hal yang bisa dilakukan untuk memunculkan keberanian.

Namun, harus diingat, bahwa tujuan kita mendapatkan keberanian adalah untuk membela agama Allah subhanahu wa ta’ala, menegakkan kalimat tauhid di muka bumi. Bukan keberanian untuk melakukan hal-hal buruk seperti tawuran, duel, perang antar kampung atau yang lainnya, seperti yang sering kita lihat di berita-berita media massa. Karena itu sebetulnya, bukan berani namanya, tapi KONYOL. Dan saya yakin, kita bukan orang yang seperti itu.

Pada akhirnya, sekali lagi kita berharap semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keberanian kepada para pemuda Islam untuk membela dan memperjuangkan agama Allah. Sehingga, dengan keberanian tersebut menjadikan kita meraih kedudukan tinggi di sisi Allah, dan meraih surga-Nya di akhirat kelak. Amin. Wallahu a’lam.