Pada pembahasanan sebelumnya kita telah membahas dan mengetahui kebebasan atau kebahagian yang hakiki menurut Islam. masih terkait hal ini, selanjutnya kita akan membahas bagaimana agar kita bebas dari penghambaan diri kepada makhluk.

Sebelumnya yang harus ditekankan adalah, bahwa landasan utama Islam adalah tauhid, yang berarti pemurnian ibadah, dan penghambaan diri kepada Alloh  semata, dan berpaling dari penghambaan diri kepada selain Alloh  , dan  ini merupakan bukti terbesar yang menunjukkan adanya kebebasan yang hakiki dalam Islam.

Bagaimana tidak, orang yang benar-benar meyakini dan mengamalkan tauhid dalam hidupnya, dia akan terlepas dari semua belenggu penghambaan diri kepada makhluk yang tidak punya kemampuan, untuk memberikan manfaat maupun bahaya kepada dirinya, untuk menuju kepada penghambaan diri kepada Alloh st- , yang di tangan Alloh-lah segala kebaikan, dan Dialah satu-satunya pencipta, pemberi rezki dan pengatur alam semesta ini.

Inilah makna ucapan sahabat yang mulia Rib’iy bin ‘Amir, ketika ditanya oleh salah seorang pembesar kafir, “Seruan dakwah apakah yang kalian bawa?”. Maka beliau menjawab:, “Alloh   yang mengutus kami untuk mengeluarkan, atau membebaskan siapa yang dikehendaki-Nya, dari penghambaan diri kepada makhluk, kepada penghambaan diri kepada Alloh  semata, dan dari kesempitan atau belenggu dunia kepada kelapangannya, serta dari kezhaoliman aturan agama-agama lain kepada keadilan Islam”.

Setiap manusia juga terlahir dengan kecenderungan untuk menghambakan diri dan tunduk kepada sesuatu, maka jika kecenderungan ini tidak diarahkan kepada penghambaan diri yang benar, yaitu kepada Alloh  , maka dengan sendirinya setanlah yang akan menggiringnya menjadi hamba bagi hawa nafsunya.

Dalam Quran surat al-Jaatsiyah ayat 23, Alloh   berfirman,

{أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ}

Yang artinya, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya, dan Alloh menjadikannya tersesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Alloh membiarkannya sesat?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran”.

Makna ayat ini adalah, pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan agamanya apa yang sesuai dengan hawa nafsunya, sehingga tidaklah dia menyukai sesuatu menurut hawa nafsunya kecuali dia akan mengikutinya. Karena dia tidak beriman kepada Alloh , tidak mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, dan tidak menghalalkan apa yang dihalalkan-Nya. Cara beragamanya adalah apa yang diinginkan oleh hawa nafsunya maka itulah yang dikerjakannya.

Orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berusaha mencari-cari dalih untuk mendiskreditkan Islam, dan mengesankan bahwa aturan-aturan syariat Islam adalah belenggu yang mengekang kebebasan manusia. Padahal, kalau diperhatikan dengan seksama, semua dalih yang mereka kemukakan justru membantah pemahaman mereka dan bukan mendukungnya.

Di antara dalih yang mereka kemukakan adalah, sabda Rosululloh   yang mereka pahami dengan keliru,

Hadis yang mengatakan bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman, dan surga bagi orang kafir”. hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim,

Penafsiran yang benar dari hadits ini ada dua, seperti kata Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “Badaai’ul fawaaid”, yaitu yang pertama, bahwa orang yang beriman di dunia ini, keimanannya yang kuat menghalangi dia untuk memperturutkan nafsu syahwat yang diharamkan oleh Alloh  , sehingga dengan keadaan ini seolah-olah dia hidup dalam penjara. Atau dengan kata lain, dunia ini adalah tempat orang yang beriman memenjarakan hawa nafsunya, dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Alloh , berbeda dengan orang kafir yang hidup bebas memperturutkan nafsu syahwatnya.

Dan makna yang kedua, dari hadis yang menyataka bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir adalah, jika dibandingkan dengan keadaan atau balasan orang yang beriman dan orang kafir di akhirat nanti, karena orang yang beriman itu meskipun hidupnya di dunia paling senang dan bahagia, tetap saja keadaan tersebut seperti penjara, jika dibandingkan dengan besarnya balasan kebaikan dan kenikmatan yang Alloh  sediakan baginya di surga di akhirat kelak. Dan orang kafir meskipun hidupnya di dunia paling sengsara dan menderita, tetap saja keadaan tersebut seperti surga, jika dibandingkan dengan pedihnya balasan keburukan dan siksaan yang Alloh  akan timpakan kepadanya di neraka di akhirat nanti.

Jelaslah hadits ini sama sekali tidak menunjukkan apa yang mereka tuduhkan terhadap Islam, bahkan sebaliknya, hadits ini menjelaskan dengan gamblang keindahan syariat Islam.

Mereka juga berdalih dengan beberapa hukum dalam syariat Islam, seperti kewajiban memakai jilbab, atau pakaian yang menutupi semua aurat secara sempurna, bagi perempuan muslimah ketika berada di luar rumah. Mereka mengatakan bahwa jilbab merupakan belenggu yang mengekang kebebasan kaum perempuan.

Hikmah besar diwajibkannya hijab bagi perempuan adalah, justru untuk membebaskan dan menyelamatkan mereka dari gangguan dan kejahatan orang-orang yang mempunyai keinginan buruk,

Sebagaimana firman Alloh  dalam Quran surat al-Ahzaab ayat 59,

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا}

Yang artinya:, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu atau disakiti. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Terkait ayat ini, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan, bahwa ini menunjukkan gangguan bagi wanita dari orang-orang yang berakhlak buruk, akan timbul jika wanita itu tidak mengenakan jilbab yang sesuai dengan syariat. Hal ini dikarenakan jika wanita tidak memakai jilbab, boleh jadi orang akan menyangka bahwa dia bukan wanita yang ‘afifah, yakni terjaga kehormatannya, sehingga orang yang ada penyakit syahwat dalam hatinya, akan mengganggu dan menyakiti wanita tersebut, atau bahkan merendahkan dan melecehkannya, maka dengan memakai jilbab yang sesuai dengan syariat, akan mencegah timbulnya keinginan-keinginan buruk terhadap diri wanita, dari orang-orang yang mempunyai niat buruk.

Dalih lain yang mereka gunakan adalah, kewajiban memasang hijab atau tabir untuk melindungi perempuan dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Mereka mengatakan bahwa ini semua merupakan belenggu yang mengekang kebebasan kaum perempuan.

Padahal yang benar adalah, Hikmah agung kewajiban memasang hijab atau tabir, justru untuk membebaskan laki-laki dan perempuan yang beriman dari kekotoran hati, dan fitnah atau kerusakan yang mungkin timbul tanpa adanya hijab atau tabir. Maka adanya hijab atau tabir antara laki-laki dan perempuan bertujuan untuk menjaga kesucian hati mereka.

Dalam Quran surat al-Ahzaab ayat 53, Alloh    berfirman,

{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ}

Yang artinya:, “Dan apabila kalian meminta sesuatu keperluan kepada isteri-isteri Nabi, maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka”.

Terkait ayat ini, Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu syaikh mengatakan, bahwa dalam ayat ini Alloh menyifati hijab atau tabir sebagai kesucian bagi hatinya orang-orang yang beriman,

laki-laki maupun perempuan, karena mata manusia kalau tidak melihat sesuatu yang mengundang syahwat, karena terhalangi hijaba atau tabir, maka hatinya tidak akan berhasrat buruk. Oleh karena itu, dalam kondisi ini hati manusia akan lebih suci, sehingga peluang tidak timbulnya fitnah atau kerusakan pun lebih besar, karena hijab atau tabir benar-benar mencegah timbulnya keinginan-keinginan buruk dari orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya.

Pembaca yang budiman, demikianlah penjelasan singkat terkait makna kebebasan dalam Islam yang bisa kita kaji dalam Rubrik Manhaj edisi kali ini, semoga bermanfaat bagi kaum muslimin untuk menyadarkan kita hakekat keindahan ajaran Islam yang diturunkan untuk kemaslahatan hidup manusia, sedangkan semua ajakan yang menyimpang dari ajaran Islam pada akhirnya akan menjerumuskan ke dalam lembah kesengsaraan dan penderitaan berkepanjangan di dunia dan akhirat, Wallohu a’lam,

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh. (red/chusni)