Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ 

“Sesungguhnya bagi Alloh tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (QS. Ali ‘Imron [03]: 5)

Saudaraku…

Masih ingatkah anda akan sebuah kisah agung tentang seorang anak muda yang Alloh subhanahu wa ta’ala berikan kelebihan berupa paras tampan dan akhlak mulia? Yang dengan ketampanan dan kemuliaan akhlaknya itu membuat semua orang terpana. Bukan saja kalangan bawah, sampai kalangan atas pun tidak segan-segan untuk memuji ketampanannya. Hingga suatu hari, sang anak muda itu mendapat ujian keimanan dari Alloh.

Ya, ujian yang memaksanya untuk membiarkan hatinya bertempur antara ta’at kepada Alloh atau ta’at kepada syaiton. Ujian yang jika tidak dilandasi dengan keimanan dan rasa muroqobah yang tinggi, maka hancurlah ia. Ujian itu adalah ajakan untuk berbuat zina dari seorang wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dalam strata masyarakat, ialah istri seorang raja bernama Zulaikho. Dan pemuda itu adalah nabi yang mulia, Yusuf alaihissalam.

Singkatnya, dengan pertolongan Alloh ta’ala, akhirnya Nabi Yusuf alaihissalam bisa terselamatkan dari perbuatan itu, meskipun dengan resiko harus difitnah dan dipenjara karenanya. Tapi itu tidaklah seberapa, dibandingkan dengan ancaman neraka jahannam yang panasnya tidak setara dengan api di dunia.

Saudaraku…

Kisah di atas bukanlah cerita fiksi atau dongeng belaka. Tapi itu adalah kisah nyata, kisah yang Alloh subhanahu wa ta’ala abadikan dalam kitab-Nya yang mulia, Al-Qur’anul Karim.

Jika kita merenungi kisah yang terjadi pada Nabi Yusuf alaihissalam, maka kita akan mendapati satu potret kekuatan muroqobah yang sangat sempurna. Sebuah keyakinan yang agung akan keberadaan Alloh subhanahu wa ta’ala, Robbul ‘alamin, yang senantiasa mengawasi setiap jengkal nafas dan aktifitas kita. Begitulah seharusnya sikap seorang muslim.

Dalam sebuah tulisan dikatakan, “Sungguh celaka wahai saudaraku! Jika keberanian anda berbuat maksiat adalah karena anda meyakini bahwa Alloh tidak melihat, maka alangkah besar kekufuran anda. Dan jika anda mengetahui bahwa Alloh mengetahuinya, maka alangkah parah keburukan anda, dan alangkah sedikit rasa malu anda!”

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ 

“Dan Dia bersama kalian dimana saja kalian berada. Dan Alloh Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hadid [57]: 4)

Sebagian ulama mengisyaratkan, bahwa ayat-ayat ini merupakan tadzkirah (peringatan). Alloh Maha Tahu atas dosa-dosa kecil, apalagi dosa-dosa besar. Alloh Maha Tahu atas apa saja yang tersembunyi di dalam dada manusia, apalagi yang tampak secara kasat mata.

Di sinilah pentingnya muroqobah. Muroqobah (selalu merasa ada dalam pengawasan Alloh) adalah salah satu kedudukan dari sikap ihsan, sebagaimana yang pernah diisyaratkan oleh Malaikat Jibril alaihissalam dalam hadits Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Saat itu Jibril alaihissalam bertanya kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam apa itu ihsan? Nabi sholallohu alaihi wasallam menjawab, “Engkau menyembah Alloh seolah-olah engkau melihat Dia. Jika engkau tidak melihat Alloh maka sesungguhnya Dia melihat engkau.” (HR Muslim).

Saudaraku…

Pernahkah anda melihat seorang siswa menyontek di hadapan guru? Ataukah anda pernah melihat, seorang pencuri dengan sengaja mencuri motor disaat pemilik motor ada di tempat? Secara akal sehatpun, kedua perbuatan tersebut tidaklah mungkin dilakukan. Karena siapapun ia, pasti mengerti betul konsekuensi yang akan diterimanya. Begitulah contoh sederhana jika kita ingin menggambarkan sikap muroqobah.

Seseorang yang sifat muroqobahnya sudah menancap dalam hati, maka ia akan senantiasa berhati-hati dalam mengarungi kehidupan. Ia akan melihat, menimbang dan mengukur setiap aktifitas yang dilakukan. Jika sekiranya aktifitas itu akan mengundang kemurkaan Alloh subhanahu wa ta’ala, maka ia tidak segan-segan untuk meninggalkannya. Tetapi sebaliknya, jika ia melihat sebuah amalan besar maupun kecil, yang itu bisa mendatangkan kecintaan Alloh subhanahu wa ta’ala, maka iapun tidak segan-segan untuk mengerjakannya, karena ia yakin bahwasanya Alloh subhanahu wa ta’ala adalah Rob yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui.

Saudaraku…

Mulailah bermuhasabah diri. Lihatlah diri kita, apakah sudah menjadi hamba yang sadar akan pengawasan Alloh subhanahu wa ta’ala, ataukah kita masih lupa, atau bahkan pura-pura lupa. Ingatlah, bahwa setiap amal kita akan dipertanggungjawabkan. Sebesar apapun, sehalus apapun bahkan serapih apapun kita melakukan amal tersebut, pasti dan pasti akan dipertanggungjawabkan!!

Hiasilah perilaku kita dengan berbagai amal soleh, amal yang bisa mendatangkan keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Lupakan kemaksiatan dan tataplah masa depan dengan keimanan dan ketakwaan pada Alloh ta’ala.

Allohu ta’ala a’lam.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05