Islam adalah satu-satunya agama yang sangat memperhatikan perkara kesucian dibanding dengan agama lain. Kesucian yang dimaksudkan di sini mencakup kesucian jiwa dan kesucian anggota badan dari hadats serta najis yang menghalangi peribadahan seseorang.

Suci dari hadats dan najis merupakan syarat utama dibanyak ibadah dalam Islam. Oleh karena itu hendaknya seorang muslim memahami secara benar permasalahan najis dan hadats di dalam Islam tersebut.

Perbedaan Mendasar antara Hadats dan Najis

Sebelum kita membahas ibadah apa saja yang dilarang ketika berhadats, maka alangkah baiknya kita fahami terlebih dahulu perbedaan antara hadats dan najis. Dengan demikian seorang muslim tidak salah persepsi dan mencampuradukkan permasalahan tentang kewajiban dan larangan ketika berhadats dan bernajis. Secara global ada perbedaan dan persamaan antara hadats dan najis, diantaranya sebagai berikut:

  1. Hadats adalah segala sebab atau perkara yang ada pada badan dan menghalangi sahnya sholat atau ibadah yang semisalnya. Sedangkan najis adalah segala sesuatu yang menjijikkan secara syar’i dan menghalangi sahnya sholat.
  2. Hadats dibagi para ulama menjadi hadats besar dan kecil. Hadats besar adalah perkara apa saja yang mengharuskan mandi wajib seperti junub, jima’, haid dan nifas. Sedangkan hadats kecil adalah perkara apa saja yang menyebabkan wudhu seperti buang air besar dan kecil, menyentuh kemaluan, kentut dan lain-lain. Adapun najis adalah suatu benda yang secara syar’i harus dibersihkan zatnya hingga hilang warna, bau atau rasanya. Najis secara umum dibagi menjadi menjadi tiga berdasarkan cara menghilangkannya: a) najis berat seperti jilatan anjing, (b) najis pertengahan seperti kotoran manusia dan berbagai hewan haram lainnya, dan (c) najis ringan seperti kencing bayi laki-laki yang baru mengkonsumsi ASI saja.
  3. Setiap najis dan hadats keduanya mencegah seseorang melakukan ibadah sholat dan towaf.
  4. Dari segi mensucikannya; sesuatu yang terkena najis cukup dibersihkan pada tempat yang terkena najis tersebut tanpa melebihi anggota badan lain yang tidak terkena. Contohnya jika yang terkena najis ujung baju, maka cukup di basuh dan dibersihkan ujung baju itu saja. Adapun hadats maka cara membersihkannya dengan cara tertentu dan tidak hanya pada tempat yang menjadi sebab munculnya hadats saja. Seperti orang yang kentut maka disucikan dengan berwudhu, orang yang junub maka wajib mandi dengan membasahi seluruh badannya.
  5. Berdasarkan pendapat yang kuat (rojih) dari kalangan para ulama, menghilangkan hadats membutuhkan niat khusus karena hal tersebut bagian dari ibadah, seperti mandi, tayamum dan berwudhu. Berbeda dengan menghilangkan najis, maka tidak membutuhkan niat karena ia bagian dari amal “tark” yaitu amal yang memang secara tabiat ditinggalkan manusia. Walaupun ada pendapat ulama yang mengatakan bahwa menghilangkan najis membutuhkan niat sebagaimana dalam menghilangkan hadats, namun pendapat tersebut pendapat yang kurang kuat. Wallohu a’lam.
  6. Hadats dibersihkan cukup dengan membasuh anggota wudhu atau mandi. Adapun najis wajib menghilangkan zat, bau dan warnanya.
  7. Dalam kondisi sedikit maka sesuatu yang najis dimaafkan oleh syariat. Adapun dalam membersihkan hadats maka tidak boleh sedikitpun anggota yang wajib di basuh saat berwudhu atau mandi tidak terbasuh.

Ibadah-ibadah yang Dilarang Saat Hadats

Di dalam Islam ada beberapa ibadah yang secara syar’i dilarang ketika seseorang berhadats. Di antara ibadah tersebut adalah:

a.  Menyentuh Mushaf al-Qur’an.

Dalil yang digunakan bahwa orang berhadats dilarang menyentuh mushaf al Qur’an kecuali dengan keadaan suci adalah firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

 لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. al-Waqiah [56]: 79)

Memang tidak dipungkiri bahwa ada perbedaan penafsiran dikalangan ulama berkaitan dengan makna “al Muthohharun atau yang disucikan” di dalam ayat tersebut. Ada yang mengatakan maksud yang disucikan adalah kalangan malaikat. Dengan demikian mereka berpendapat dibolehkan menyentuh mushaf meskipun berhadats, alasannya karena yang dimaksudkan “yang disucikan” di dalam ayat tersebut adalah para malaikat dan bukan manusia.

Pendapat yang kedua maksud dari disucikan adalah golongan yang bersuci dari kalangan manusia. Dengan demikian mereka berpendapat bahwa tidak boleh menyentuh mushaf kecuali dengan bersuci. Namun demikian, pendapat yang lebih pertengahan adalah pendapat yang mengatakan bahwa kalaulah memang yang dimaksudkan ayat tersebut secara khusus adalah para malaikat, namun secara umum manusia masuk di dalam isyarat ayat tersebut. Selain itu, sebagaimana yang dinukil Ibnu Taimiyyah rohimahulloh bahwa para ulama empat madzhab berpandangan bahwa menyentuh mushaf (secara langsung) harus dalam keadaan bersuci. Berkata Ibnu Hubairoh rohimahulloh menguatkan akan pendapat ini di dalam kitab al Ifshoh.

“Telah bersepakat (maksudnya adalah imam empat madzhab) bahwasanya tidak boleh bagi orang yang berhadats untuk menyentuh mushaf.”

Walaupun ada beberapa ulama yang memaknai larangan menyentuh mushaf saat berhadats adalah hadats besar seperti junub dan haid. Adapun hadats kecil maka menurut mereka dibolehkan menyentuh mushaf. Jadi seandainya seorang yang berhadats terpaksa harus menyentuh mushaf karena darurat maka sebisa mungkin menggunakan pembatas seperti kain dan sejenisnya.

b.  Mendirikan sholat baik sholat fardhu maupun sholat sunnah.

Diharamkan bagi orang yang berhadats menjalankan ibadah sholat baik fardhu maupun sunnah. Dalil yang menjelaskan larangan tersebut adalah firman Alloh subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat keenam tentang wajibnya berwudhu atau bertayamum ketika tidak mendapatkan air sebelum menjalankan sholat. Selain ayat tersebut terdapat juga hadits Nabi sholallohu alaihi wasallam yang menjelaskan permasalahan yang sama.

“Tidaklah diterima sholat yang tidak di awali dengan Thoharoh/bersuci, begitu juga tidak diterima sedekah dari orang yang berkhianat (mengambil harta yang bukan haknya kemudian ia sedekahkan harta tersebut)” (HR. Tirmidzi)

Jadi jelas sekali bagi orang yang berhadats yaitu terlarang menjalankan sholat baik fardhu maupun sunnah.

c.  Menjalankan Thowaf di Ka’bah.

Thawaf adalah ibadah yang disyaratkan suci bagi pelakunya. Oleh karena itu orang yang berhadats tidak sah menjalankan thowaf. Dalam Islam thowaf ibarat sholat, hanya saja ketika thowaf seseorang tidak batal karena berbicara dengan orang lain jika dipandang perlu. Dalil dari hal ini adalah hadits berikut ini,

Thowaf di sekeliling ka’bah seperti hanya melakukan ibadah sholat, hanya saja dibolehkan berbicara ketika thowaf, Barangsiapa yang berbicara di dalam thowaf maka hedaknya jagan berbicara kecuali dengan perkataan yang baik”. (HR. Tirmidzi)

 

Tiga point diatas adalah ibadah yang dilarang baik saat berhadats besar maupun hadats kecil. Adapun amalan yang secara khusus dilarang saat seseorang melakukan hadats besar adalah sebagi berikut:

a.  Membaca al-Qur’an.

Secara umum diharamkan bagi orang yang berhadats besar untuk membaca Al Qur’an sebelum bersuci. Baik hadats tersebut junub maupun haid. Namun para ulama memberikan kelonggaran bagi wanita yang haid untuk membaca al Qur’an jika takut lupa. Sebab waktu haid biasanya relatif lama dibanding dengan waktu junub. Akan tetapi bagi orang yang junub dan haid dibolehkan membaca doa meskipun doa tersebut berasal dari al Qur’an selama tidak diniatkan untuk membaca al Qur’an.

b.  Berdiam diri di masjid.

Hal ini sebagaimana dengan firman Alloh subhanahu wa ta’ala pada surat an-Nisa ayat ke-43, yang menjelaskan larangan sholat dalam keadaan mabuk dan larangan menghampiri masjid ketika junub kecuali sekedar berlalu untuk suatu keperluan.

Jika kita pelajari, dari kandungan ayat tersebut jelas sekali bahwa orang junub di larang berdiam diri di masjid. Dan termasuk dari makna junub adalah wanita haid yang berdiam diri di masjid untuk membaca al-Qur’an atau mendengarkan ceramah. (Lihat: Fatwa Lajnah Daimah, No. 5167)

Jadi yang dibolehkan bagi orang yang junub adalah sekedar lewat di masjid untuk suatu keperluan misalnya mengambil barang yang ketinggalan dan sebagainya. Demikian beberapa amalan yang dilarang saat berhadats. Semoga bermanfaat. Wallohu A’lam Bishowab…?

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05