Oleh: Ustadz Arifin, S.H.I

Kita telah melewati bulan yang agung lagi mulia, yaitu bulan Romadhon. Bulan untuk melatih amal sholih, bulan taubat, bulan kembali kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, bulan kebaikan, bulan ketakwaan, dan bulan berbekal untuk meniti perjalanan akhirat.

Barangsiapa diantara kita yang memiliki keinginan dan tekad kuat untuk memaksimalkan bulan Romadhon, niscaya dengan izin Alloh ia mampu menorehkan prestasi kebaikan ibadah pada bulan itu. Pertanyaan yang harus kita jawab, apakah setelah Romadhon berlaku, kita hanya menjadi seorang hamba yang beribadah pada bulan Romadhon semata ataukah kita mampu mempertahankan prestasi ibadah kita di bulan selain Romadhon?

Jujur saja, di antara kita kebanyakan bersemangat menunaikan berbagai macam ibadah pada bulan Romadhon. Setelah Romadhon lewat, kita menjadi malas dan kembali seperti halnya sebelum Romadhon tiba.

Kita tidak bisa merasakan betapa lezat dan nikmatnya beramal sholih, padahal itulah yang menyebabkan kita konsisten dalam beramal. Kita juga belum bisa merasakan kegembiraan dan kelapangan hati karena ketaatan yang telah bisa merasakan kegembiraan dan kelapangan hati karena ketaatan yang telah kita perbuat, padahal itulah yang menjadikan kita terus-menerus beramal sholih.

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata, “Saya mendengar Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata, “JIka engkau tidak menjumpai kelezatan dan ketengangan dalam jiwamu setelah beramal, maka pertanyakanlah amal itu. Sesungguhnya Alloh shubhanahu wa ta’ala Yang Maha Tinggi lagi Maha Bersyukur, yakni sesungguhnya Dia pasti akan membalas sesorang yang beramal di dunia ini dengan kelezatan yang dia rasakan dalam hatinya, ketentraman, dan kesejukan jiwa. Namun, jika dia tidak mendapatkan yang demikian ituu, maka amal itu cacat. Walhasil, gembira karena Alloh, dekat dengan-Nya, dan hati menjadi sejuk karena-Nya, semua itu sebagai pembangkit bertambahnya ketaatan dan motivator kuat meniti jalan menuju kepada-Nya”.

Allah memerintahkan kepada Rosul-Nya yang mulia agar beribadah kepada-Nya hingga ajal menjemputnya. Ibadah secara terus menerus dan konsisten. Ibadah bukan pada waktu bulan tertentu saja. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Hijr[15]: 99)

Syaikh as-Sa’di rohimahulloh berkata, “Terus-meneruslah engkau pada semua waktu untuk mendekatkan diri kepada Alloh dengan berbagai macam ibadah. Maka Rosululloh shalallahu alaihi wasallam melaksanakan perintah Robb-Nya, beliau shalallahu alaihi wasallam tekun dan terus-menerus beribadah hingga berjumpa dengan Alloh subhanahu wa ta’ala.” (Taisirul Karimirrohman fi Tafsir Kalamil Mannan, 1/435)

Yang dimaksud (sampai dengan datang kepadamu yang diyakini) adalah terus-menerus dalam beribadah sepanjang hidup. Hal ini sebagaimana yang dikatakan laki-laki sholeh, “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Tafsir Qurtubi 10/64)

Hasan al-Bashri rohimahulloh berkata:

“Wahai manusia, konsistenlah dan konsistenlah. Sesungguhnya Alloh tidaklah menjadikan batas akhir amal seoranng mukmin selain kematian.” (Az-Zuhud, Ibnu Mubarok, 2/7)

Perintah pada ayat di atas tentunya bukan hanya kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam saja, namun berlaku juga bagi umatnya. Sesungguhnya umat Muhammad shalallahu alaihi wasallam diperintahkan agar beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala bukan hanya pada bulan Romadhon atau bulan tertentu saja, namun setahun penuh. Dikatakan kepada Bisyr al-Khafi rohimahulloh:

“Kenapa manusia beribadah dan bersungguh-sungguh pada bulan Romadhon? Beliau menjawab, “Celakalah manusia yang mereka hanya mengetahui hak Alloh pada bulan Romadhon. Sesungguhnya orang yang sholih adalah orang yang beribadah dan bersungguh-sungguh setahun penuh.”

Asy-Syibli rohimahulloh ditanya, “Manakah yang paling utama, bulan Rojab atau Sya’ban. Beliau menjawabm, Jadilah hmab Robbani dan janganlah engkau menjadi hamba Sya’ban.” (As-Sibaq Nahwal Jinan, Kholid Abu Syadi, 2/28)

Ketahuilah bahwa kita telah merasakan betapa nikmatnya beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala di bulan Romadhon. Kita rela begadang menunaikan sholat di kegelapan malam. Kita banyak membasahi lisan dengan membaca al-Qur’an. Kita begitu ringan mengeluarkan harta untuk sedekah. Bahkan berbagai ragam ibadah kepada Alloh begitu mudahnya dilakukan. Namun, mengapa pada bulan Syawal ini kita terpedaya dan terkalahkan oleh rayuan setan sehingga kita tidak konsisten untuk beribadah kepada Alloh?

Oleh karena itu, waspadailah surut dalam menunaikan ketaatan dan malas beribadah. Waspadalah, berpaling dari Alloh subhanahu wa ta’ala setelah menyambut ketaatan kepada-Nya. Waspadalah, mundur ke belakang setelah maju menunaikan ibadah kepada Alloh. Demi Alloh, Dia tidak akan merasa bosan hingga kita bosan. Jika kita telah mencapai ketinggian derajat pada bulan Romadhon di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala, maka janganlah kita kembali kepada derajat yang lebih rendah dengan meninggalkan ibadah di bulan Syawal. Marilah kita menjadi hamba Romadhon. Barangsiapa beribadah kepada Romadhon sesungguhnya Romadhon akan sirna. Barangsiapa beribadah kepada Alloh, sesungguhnya Dia Maha Hidup lagi terus-menerus makhluk-Nya.

Wallohu ta’ala a’lam.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05