Dari Atin Hidayat di Cijagung, Sukabumi.

Assalamu’alaikum pa ustad, apakah seorang koruptor termasuk orang yang punya hutang?  Lalu disaat kematiannya bolehkah disholati?

 [divide]

Jawaban:

Wa’alikumsalam warohmatullohi wabarokaatuh.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa korupsi adalah, “Penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dsb.) untuk keuntungan pribadi atau orang lain.” (KBBI Hal. 462).

Dan dalam syariat, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Sekalipun dalam terminologi bahasa Arab, ghulul berarti sikap seorang mujahid yang menggelapkan harta rampasan perang sebelum dibagi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah).

Kemudian dalam buku Nadhratun Na’im disebutkan bahwa di antara hal yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta rakyat umat Islam (harta negara), Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri. (HR. Abu Daud)

Ibnu Hajar Al Haitami berkata: “Sebagian para ulama berpendapat bahwa menggelapkan harta milik umat Islam yang berasal dari baitul maal atau kas negara dan zakat termasuk ghulul“. (Az Zawajir an Iqtirafil Kabair, jilid II, Hal. 293).

Dan Istilah ghulul untuk korupsi harta negara juga disetujui oleh komite fatwa kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa No. 9450, yang berbunyi, “Ghulul, yaitu: mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebelum dibagi oleh pimpinan perang dan termasuk juga ghulul harta yang diambil dari baitul maal atau uang negara dengan cara berkhianat atau korupsi”. (Fataawa Lajnah Daimah, jilid XII, Hal 36)

Dari penjelasan tersebut bahwa korupsi adalah bentuk pencurian dengan menyelewengankan amanah yang telah diberikan negara terhadapnya dan seorang yang diberi amanah baik berupa menjaga uang, barang atau yang lainya, maka ketika dia mengkhianati atau mengambil dari sebagian uang atau barang yang dia dititikan atau diamanahi maka dia harus menggantinya atau mengembalikannya terhadap uang atau barang yang ia khianati atau yang ia korup tersebut.

Dan hukumannya adalah:

Pertama, koruptor diwajibkan mengembalikan uang negara yang diambilnya, sekalipun telah habis digunakan. Negara berhak untuk menyita hartanya yang tersisa dan sisa yang belum dibayar akan menjadi hutang selamanya.

Ketentuan ini berdasarkan sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam, “Setiap tangan yang mengambil barang orang lain yang bukan haknya wajib menanggungnya hingga ia menyerahkan barang yang diambilnya“. (HR. Tirmidzi)

Kedua, hukuman ta’zir.

Hukuman ta’zir adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku sebuah kejahatan yang sanksinya tidak ditentukan oleh Alloh, karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. (Almausuah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah,  jilid XII, hal 276.)

Kejahatan korupsi serupa dengan mencuri, hanya saja tidak terpenuhi persyaratan untuk dipotong tangannya. Karena itu hukumannya berpindah menjadi ta’zir.

Jenis hukuman ta’zir terhadap koruptor diserahkan kepada ulil amri (pihak yang berwenang) untuk menentukannya. Bisa berupa hukuman fisik, harta, kurungan, moril, dan lain sebagainya, yang dianggap dapat menghentikan keingingan orang untuk berbuat kejahatan. Di antara hukuman fisik adalah hukuman cambuk.

Diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa Nabi menjatuhkan hukuman cambuk terhadap pencuri barang yang kurang nilainya dari 1/4 dinar.

Hukuman kurungan (penjara) juga termasuk hukuman fisik. Diriwayatkan bahwa khalifah Utsman bin Affan pernah memenjarakan Dhabi bin Al-Harits karena dia melakukan pencurian yang tidak memenuhi persyaratan potong tangan.

Denda dengan membayar dua kali lipat dari nominal harga barang atau uang negara yang diselewengkannya merupakan hukuman terhadap harta. Sanksi ini dibolehkan berdasarkan sabda Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam terhadap “Pencuri buah kurma dari pohonnya lalu dibawa pergi, hukumannya dia harus membayar dua kali lipat”. (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)

Kemudian apakah harus disholatkan? Terkait dengan hal ini terdapat beberapa hadits diantaranya:

Musadad telah menceritakan hadis kepada kami bahwa Yahya ibn Sa’id dan Bisr ibn al-Mufadhdhal menceritakan hadis dari Yahya ibn Sa’id, dari Muhammad ibn Yahya ibn Hbban, dari Abi ‘Amrah, dari Zaid ibn Khalid al-Juhani (diriwayatkan) bahwa salah seorang sahabat Nabi meninggal dunia pada waktu peperangan Khaibar. Sahabat memberitahukan hal itu kepada Rosululloh sholallohu alaihi wassalam, kemudian beliau bersabda: “Shalatkanlah kawanmu itu.” Berubahlah wajah orang-orang itu karena (mendengar) sabda tersebut. Kemudian Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. menegaskan, temanmu itu telah melakukan ghulul di jalan Alloh”.

Kamipun segera memeriksa barang-barangnya, lalu kami menemukan perhiasan milik orang Yahudi yang harganya tidak mencapai dua dirham. (HR. Abu Dawud)

Kemudian Hadis di atas dikuatkan oleh Imam Nasa’i berikut: Ubdaidillah ibn Said mengkhabarkan hadis kepada kami.

Ia berkata Yahya ibn Said telah menceritakan hadis dari Yahya ibn Said al-Anshary, dari Muhammad ibn Yahya ibn Habban dari Abu ‘Amrah dari Zaid ibn Khalid. Ia berkata bahwa ada seseorang mati di medan perang Khaibar. Kemudian Rosululloh shalAllohu alaihi wassalam bersabda: “Shalatkanlah untuk sahabatmu itu (sedang aku sendiri tidak ikut shalat), karena ia telah mencuri harta rampasan perang di jalan Alloh.” Kamipun segera memeriksa perbelakalan perang tersebut dan kami mendapatkan di dalam perbekalannya kharaz (perhiasan) milik orang Yahudi yang nilainya tidak sampai dua dirham. (HR. al-Nasa’i, Kitab al-Jana’iz)

Kemudian hadits Dari Zaid ibn Khalid al-Juhannni, ia berkata bahwa salah seorang dari kaum muslimin meninggal di perang Khaibar. Hal ini disampaikan kepada Rosululloh sholallohu alaihi wassalam, kemudian beliau bersabda: “Shalatkanlah jenazah teman kalian!” berubahlah wajah orang-orang di sana mendengar pernyataan Nabi Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Menegaskan “Sungguh temanmu itu telah melakukan ghulul di jalan Alloh”. Kemudian kami menyeldiki barang-barang orang yang mati tersebut, kami temukan sebuah perhiasan dari bangsa Yahudi yang nilainya tidak mencapai dua dirham. (HR. Ahmad)

Dalam hadits tersebut ada kata perintah untuk menyolati pelaku korupsi, meskipun beliau sholallohu alaihi wasallam tidak melaksanakannya atau tidak menyolatinya tapi Rosululloh sholallohu alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya untuk menyolatinya, dan dari perintah tersebut meyolati jenazah orang yang muslim korupsi adalah perintah yang harus ditunaikan. Wallohu a’alm.

Dijawab oleh Tim Lajnah Ilmiah Radio Fajri


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05