Nuryadi di Lebak Kantin,ustad apa/bagaimana hukum riba bagi peminjam dan yg meminjamkan, jika tidak ada jalan lain selain pinjam ke renternir bagaimana hukum dan dalilnya?  Terima kasih.

Jawaban:

Mengenai hukum orang yang meminjam atau pun meminjamkan riba maka hukumnya sudah jelas haram sebagaimana satu hadits yang sangat sering kita dengar, dari Ali bin Abi Thalib rodhiallohu ‘anhu, beliau mengatakan,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَةً: آكِلَ الرِّبَا، وَمُوكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ

Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam melaknat 10 orang: pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksi transaksi riba, dan orang mencatat transaksinya.” (H.R. Ahmad 635).

Sedangkan Dalam riwayat Baihaqi terdapat tambahan:

وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Mereka semua sama.(Baihaqi dalam As-Shugra, 1871).

Sebagaimana keterangan dalam kitab Aunul Ma’bud, Pemberi makan riba pada hadis tersebut adalah para peminjam uang riba. Jadi sudah sangat jelas sekali bukan hanya yang meminjamkan riba saja, tapi peminjam riba saksinya dan semua pihak yang terlibat dalam transaksi riba hukumnya haram dan diancam api neraka oleh Alloh ta’alaa.

Pendek kata, bagi orang yang sedang memiliki masalah keuangan, meminjam uang riba sama dengan menciptakan masalah baru baginya baik itu pada bank riba maupun pada rentenir.

Lalu pertanyaan berikutnya, mengenai bagaimana dengan orang yang butuh banyak uang dan tidak ada jalan lain selain pinjam ke renternir atau bank riba?

Pertanyaan inilah yang mungkin menjadi alasan terbesar bagi kebanyakan orang untuk tetap gandrung dengan pinjaman riba. Namun sebenarnya, pertanyaan ini masih terlalu global, sehingga perlu kita rinci untuk bisa memberikan jawaban yang berbeda. Rincian itu sebenarnya merupakan turunan dari pertanyaan tersebut.

Benarkah tidak ada jalan lain selain meminjam pada rentenir?

Perlu kita tancapkan dalam hati dan sanubari kita bahwa Islam adalah agama sempurna, maka kita bisa mendapatkan jawaban yang benar untuk semua masalah. Tak terkecuali masalah keuangan. Untuk menjawab pertanyaan tadi, ada beberapa catatan yang menunjukkan bahwa seorang muslim tidak pantas mengambil harta haram riba dengan alasan apapun, karena islam memiliki solusi bagi mereka yang membutuhkan harta, diantaranya:

  • Berhutang/ meminjam kepada keluarga, saudara, teman atau yang lainnya tanpa riba sedikitpun.
  • Meminta harta zakat kepada lembaga-lembaga zakat dan shodaqoh jika memang kita termasuk orang yang membutuhkan.
  • dalam Islam ada manusia yang diizinkan untuk meminta-minta. Sehingga andaipun dia tidak tercover dengan harta zakat, dia masih bisa mendapatkan harta dari sumber yang lain untuk menutupi kebutuhan pokoknya. Diantara kondisi tersebut adalah:
  1. Ketika seseorang menanggung beban diyat(denda) atau pelunasan hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai dia mampu melunasinya. Setelah lunas, dia wajib untuk meninggalkan mengemis.
  2. Ketika seseorang ditimpa musibah yang menghabiskan seluruh hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup.
  3. Ketika seseorang tertimpa kefakiran yang sangat berat, sehingga disaksikan oleh 3 orang berakal,  pemuka masyarakatnya bahwa dia tertimpa kefakiran, maka  halal  baginya  meminta-minta  sampai  dia  mendapatkan kecukupan bagi kehidupannya.

Pada tiga kondisi ini, seseorang diperbolehkan untuk meminta-minta sumbangan. Dalil kesimpulan ini adalah hadis dari Sahabat Qabishah bin Mukhariq rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: Seseorang yang menanggung beban (hutang orang lain, diyat/denda), ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti. Dan seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup. Dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (HR Muslim no.1044, Abu Dawud no.1640, dll)

  • Menerapkan sifat qona’ah(merasa cukup terhadap setiap pemberian dari Alloh ta’alaa)

Jika kita menerapka beberapa solusi dalam islam seperti tadi, kita akan kesulitan mencari alasan lain untuk membolehkan seseorang pinjam uang dari bank riba atau rentenir. Selain untuk tujuan yang bukan bagian dari kebutuhan utama hidupnya, semacam modal usaha. Jika karena latar belakang modal usaha, meminjam modal dari bank, hakikatnya adalah mengawali usaha dengan transaksi riba. Bisa jadi itu akan menghilangkan keberkahan usahanya. Sebagai solusi, dia bisa membuka investor untuk turut menanamkan modal pada sektor usaha yang dijalani.

Kesimpulannya, tidak ada alasan darurat untuk mencari pinjaman di bank riba atau rentenir. Karena dalam kondisi darurat, kaum muslimin tetap haram berurusan dengan riba karena islam memiliki solusi seperti yang tadi telah disebutkan. Sedangkan untuk urusan usaha dan bisnis, masih ada seribu alternatif yang halal, tanpa harus melibatkan riba.

Wallohu a’lam.

Oleh: Tim Lajnah Ilmiyah FAJRI FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05