Janah di Bojonggede… Apakah orang hamil dan menyusui yang tidak bisa ikut puasa romadhon dan sudah membayar fidyah, tetap wajib membayar hutang puasanya dilain hari? jika waktu itu saya bayar fidyahnya 1/2 liter perhari sudah betul belum? jika belum, bagaimana cara bayar kekurangannya?

Jawaban :

Bismillah… Kondisi fisik seorang wanita dalam menghadapi kehamilan dan saat-saat menyusui memang berbeda-beda. Ada yang merasa tidak bermasalah dengan keadaan fisik dirinya dan sang bayi sehingga dapat menjalani puasa dengan tenang. Ada pula para ibu yang memiliki kondisi fisik yang lemah yang mengkhawatirkan keadaan dirinya jika harus terus berpuasa di bulan Ramadhan begitu pula para ibu yang memiliki buah hati yang lemah kondisi fisiknya dan masih sangat tergantung asupan makanannya dari sang ibu melalui air susu sang ibu.

Kedua kondisi terakhir, memiliki konsekuensi hukum yang berbeda bentuk pembayarannya diantaranya :

  1. Untuk ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan dirinya saja bila berpuasa, maka wajib untuk mengqadha tanpa fidyah di hari yang lain ketika telah sanggup berpuasa. Keadaan ini disamakan dengan orang yang sedang sakit dan mengkhawatirkan keadaan dirinya.
  2. Untuk ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan dirinya dan buah hati bila berpuasa, dalam keadaan ini wajib mengqadha saja sebanyak hari-hari puasa yang ditinggalkan ketika sang ibu telah sanggup melaksanakannya, dan tidak ada fidyah baginya.
  3. Untuk ibu hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan keadaan si buah hati saja. Jika berdasarkan diagnosa dokter terpercaya bahwa puasa bisa membahayakan anaknya seperti kurang akal atau sakit, maka para ulama berbeda pendapat tentang proses pembayaran puasa sang ibu. Sebagian ulama mewajibkan sang ibu untuk membayar qadha saja. Sebagian lain mewajibkan sang Ibu untuk membayar fidyah saja.

Dalill yang digunakan adalah sama sebagaimana dalil para ulama yang mewajibkan qadha dan fidyah, yaitu perkataan Ibnu Abbas rodhiallohu anhu, “Wanita hamil dan menyusui, jika takut terhadap anak-anaknya, maka mereka berbuka dan memberi makan seorang miskin.” (HR. Abu Dawud)

Dan ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil bahwa wanita hamil dan menyusui hanya membayar fidyah adalah, firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 184.

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya jika mereka tidak berpuasa membayar fidyah yaitu membayar makan satu orang miskin.” (Qs. Al-Baqarah: 184)

Jadi, kesimpulannya kalau dengan puasa tersebut wanita hamil khawatir dengan kondisi janin dan wanita menyusui khawatir ASI nya jadi tidak ada dan sang anak jadi kelaparan, maka cukup baginya membayar fidyah tanpa mengqodho di bulan yang lainnya. Wallohu A’lam…

Adapun cara membayar fidyah dengan memberikan makanan kepada orang miskin ada dua:

  1. Dengan dibuatkan makanan siap saji, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari puasa yang ditinggalkan, sebagaimana yang dilakukan Anas bin Malik rodhiallohu anhu ketika di sudah tua.
  2. Memberi bahan makanan kepada mereka yang belum dimasak. Para ulama mengatakan: besarnya: 0,75 kg untuk gandum atau 1,5 kg untuk selain gandum….. akan tetapi, untuk pembayaran fidyah model kedua ini, selayaknya diberikan dengan sekaligus lauknya, baik daging atau yang lainnya.

Dan untuk pertanyaan Anda yang hanya memberikan beras setengah kilo saja karena ketidak tahuan Anda pada hukum masalah ini, maka wallohu A’lam tidak perlu mengulang pembayaran fidyah, dan mohon ampun kepada Alloh subhanahu wa ta’ala atas segala kekeliruan yang telah dilakukan, dan semoga Alloh subhanahu wa ta’ala memaafkan kekeliruan Anda, tapi jangan sampai hal ini terulang kembali di masa yang akan datang.

Wallohu A’lam…

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah Fajri FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05