Telah tetap dalam sunnah disyari’atkannya muamalah dengan orang-orang kafir dalam masalah jual beli dan muamalah-muamalah keduniaan yang tidak mengandung unsur membantu memerangi kaum muslimin atau mendatangkan bahaya pada mereka.

Dalil-dalilnya sebagaimana berikut:

  1. Abdurrohman bin Abi Bakar rodhiallohu ‘anhumaberkata: “Kami bersama Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallamkemudian datang orang musyrik yang kusut rambutnya lagi tinggi dengan membawa kambing yang dia giring. Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dijual atau diberikan?” Dia menjawab: “Tidak, Dijual.” Maka beliau membeli darinya seekor kambing. (HR. Bukhori)
  2. Dari ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha, berkata: “Rosulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menunda pembayaran dan menggadaikan baju besi beliau padanya.” (HR. Bukhori)
  3. Dari Ibnu Abbas rodhiallohu ‘anhuma, berkata: “Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallamditimpa oleh kesusahan. Hal itu sampai kepada Ali rodhiallohu ‘anhusehingga dia keluar mencari pekerjaan untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dia kirim pada Nabi Alloh sholallohu ‘alaihi wa sallam. Ali mendatangi kebun milik seorang laki-laki Yahudi. Ali mengairi sebanyak 17 timba air untuk orang tersebut. Tiap timba dinilai satu buah kurma. Maka orang Yahudi itu membebaskan Ali rodhiallohu ‘anhu untuk memilih 17 kurma ajwah dari kurmanya. Lalu Ali membawanya kepada Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro)
  4. Dari ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha, istri Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, berkata: “Rosulullah dan Abu Bakar mempekerjakan seorang laki-laki dari Bani Ad-Dail penunjuk jalan yang cakap, sementara laki-laki itu ada di atas agama orang-orang kafir Quraisy dengan menyerahkan padanya dua kendaraannya dan menjanjikan (penyerahan) dua kendaraannya padanya di gua Tsur setelah 3 malam pada pagi hari ke-3.” (HR. Bukhori)
  5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullohberkata: “Kemudian sesungguhnya seorang laki-laki kalau safar ke negeri harb(yang diperangi) untuk membeli sesuatu darinya, hukumnya boleh menurut kami, sebagaimana hadits tentang perdagangan Abu Bakar rodhiallohu ‘anhu pada masa hidupnya Rosulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam ke negeri Syam, padahal Syam adalah negeri harb.” (Iqtidhoush Shirotil Mustaqim 2/15)

Nash-nash ini menjadi dalil bahwa tidak ada dosa dalam bermuamalah dengan orang-orang kafir dalam urusan perdagangan dan muamalah-muamalah lain yang tidak ada kaitannya dengan perang.

Imam Bukhori membuat suatu bab, beliau berkata: “Yang menjadi sebab (dibolehkannya) hal itu adalah adanya saling keterikatan kemaslahatan dunia dan tukar-menukar manfaat perdagangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk semua negeri pada apa yang dimiliki selain mereka.” (Bab: Jual beli dengan orang-orang musyrik dan ahlul harb (orang-orang yang diperangi))

Adapun perkara-perkara kemiliteran, maka tidak boleh bermuamalah dalam perkara tersebut dengan orang-orang yang diperangi, karena muamalah apa pun dengan mereka dalam masalah kemiliteran mengandung unsur membantu dan menguatkan mereka dan ini adalah perkara yang tidak boleh bagi seorang muslim memiliki peran di dalamnya.

Ibnu Baththol rohimahulloh berkata: “Bermuamalah dengan orang-orang kafir hukumnya boleh, kecuali menjual sesuatu yang bisa membantu orang-orang yang memerangi kaum muslimin.”

Karena ini, para ulama rohimahumulloh menetapkan disyari’atkannya membeli dari negeri kufur, membawa barang dagangan kepadanya, dan mengecualikan darinya senjata dan apa saja yang sejalan dengannya yaitu bekal dan persenjataan.

As-Sarkhosi rohimahulloh berkata: “Tidak dihalangi para pedagang untuk masuk ke negeri yang diperangi dengan membawa barang-barang dagangan selain kuda dan senjata karena dengan itu mereka menjadi kuat untuk memerangi kaum muslimin. Mereka melarang membawa senjata pada mereka dan demikian juga besi, karena besi bahan dasar senjata.”

Alloh ta’ala berfirman:

وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat…” (Al-Hadid: 25).(Al-Mabsuth, As-Sarkhosi 10/151)

Al-Kasani rohimahulloh berkata: “Tidak masalah membawa pakaian, perhiasan, makanan, dan barang-barang yang serupa kepada mereka, karena tidak ada makna memberi bekal dan bantuan. Atas dasar itu, berlaku kebiasaan dari para pedagang seluruh negeri, mereka masuk ke negeri yang diperangi untuk berdagang tanpa menampakkan penolakan dan pengingkaran pada mereka.” (Badai’ush Shona’i’ 15/288)

Hukum ini tidak terbatas pada orang-orang yang berperang dengan kaum muslimin, tapi mencakup juga orang-orang kafir yang sedang dalam perjanjian damai sebagaimana As-Sarkhosi rohimahulloh berkata: “Tidak dihalangi orang-orang yang berdagang dari membawa barang-barang dagangan kepada mereka kecuali kuda, senjata, dan besi karena mereka adalah orang-orang yang diperangi, meskipun mereka mengadakan perjanjian damai. Tidakkah engkau perhatikan setelah berlalu waktu mereka akan kembali memerangi kaum muslimin.” (Al-Mabsuth, As-Sarkhosi 10/151)

Demikian juga apabila seorang prajurit masuk ke negeri Islam maka tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menjual senjata atau perbekalan perang padanya.

Al-Kasani rohimahulloh berkata: “Seorang prajurit apabila masuk negeri Islam maka tidak boleh baginya untuk membeli senjata. Kalaupun sudah membeli, tidak boleh baginya untuk memasukkannya ke negeri perang, karena alasan yang telah kami jelaskan.” (Bada’iush Shona’i’ 15/288)

Ibnu ‘Abdilbar rohimahulloh berkata: “Mereka melarang –orang-orang yang diperangi– membeli segala sesuatu yang bisa menjadi kekuatan bagi mereka untuk melawan kaum muslimin yaitu senjata, kuda perang, pelana kuda, minyak tanah, besi yang menjadi bahan senjata, dan segala sesuatu yang menjadi bekal perang.” (Al-Kafi fi fiqhi ahlil madinah (1/481)

Al-Haddad rohimahulloh dalam Al-Jauhiroh An-Niroh berkata: “Tidak selayaknya menjual senjata kepada orang-orang yang berperang karena hal itu menguatkan mereka untuk memerangi kita karena senjata tidak cocok kecuali untuk berperang. Demikian juga besi, karena besi bahan dasar senjata. Demikian juga kuda, bagal (peranakan kuda dan keledai), dan keledai karena hal itu menguatkan mereka untuk memerangi kita. Demikian juga tidak dibeli dari mereka budaknya kafir dzimmi karena dia termasuk sesuatu yang diminta bantuan dengan mereka untuk berperang. Kalau seorang prajurit masuk negeri kita, lalu membeli senjata maka dia dihalangi darinya dan tidak mungkin baginya untuk memasukkannya kepada mereka.” (Al-Jauhiroh An-Niroh 6/85)

Ini adalah hukum bermuamalah dengan orang-orang yang berperang dan hokum bermuamalah dengan kelompok kafir dan yang diperangi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: “Adapun muamalah dengan Tartar maka boleh padanya apa saja yang boleh pada orang-orang seperti mereka dan haram padanya apa saja yang haram muamalah dengan orang-orang seperti mereka. Seseorang boleh membeli ternak, kuda, dll sebagaimana dia membeli ternak dan kuda dari orang Turkmenistan, Arab, dan Kurdi. Boleh untuk menjual pada mereka makanan, pakaian, dan yang semacamnya sebagaimana boleh menjualnya pada orang-orang seperti mereka. Adapun jika dia menjual pada mereka dan selain mereka apa saja yang bisa membantu mereka pada hal-hal yang haram, seperti kuda dan senjata bagi orang yang dengannya melakukan peperangan yang haram, maka ini tidak boleh.”

Alloh ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ. وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran!” (Al-Maidah: 2)

Kaidah umum untuk masalah ini adalah semua jenis muamalah dengan kelompok kafir yang di dalamnya terdapat unsur membantu dan menguatkannya maka tidak disyari’atkan. Sesungguhnya para ulama hanya menetapkan larangan senjata dan perkara-perkara kemiliteran, tidak yang lain, karena secara umum hal itu merupakan bentuk bantuan dan pertolongan.

Apa yang dijelaskan tentang perdagangan, juga berlaku untuk manajemen.

Wallohu a’lam. Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam.

Syaikh Abul Mundzir Asy-Syinqithi hafizhohullah (Anggota Al-Lajnah Asy-Syar’iyah)

Diterjemah oleh: Abu Hamzah hafizhohullah

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05