Dari Muhammad Zaelani di Bengkulu

Assalammu’alaikum Warahmatullah,

Pak ustad, saya mempunyai nenek dari istri saya yang berprofesi sebagai seorang dukun yang sudah terkenal di kota saya, kami sekeluarga sudah mengingatkan untuk meninggalkan perbuatan ini, namun hanya Alloh yang berkehendak.

Sebagai seorang nenek sudah pasti sayang sama cucu dan cicitnya sehingga setiap hari memberikan makanan, uang dan barang-barang lainya kepada cucu dan cicitnya termasuk saya. Apakah wajib kami tolak? Apakah hukumnya pemberian dari dukun tersebut?

Terimakasih.

Wassalammu’alaikum.

[divide]

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warrohmatullohi wabarokaatuh.

Sudah kita pahami bersama dukun/paranormal dan sebutan lainnya adalah haram dan orang yang melakukannya adalah kufur, karena Dia mengaku mengetahui perkara gaib padahal sesuatu yang gaib hanya diketahui oleh Alloh. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Alloh.’(QS An-Naml: 65)

Mengenai penghasilan dukun, Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menyebut nya sebagai hulwanul kahin [arab: حُلْوَان الكَاهِنِ], yang secara bahasa berarti ‘manisan’ dukun yakni upah dukun dan seorang muslim haram untuk memakannya. Keterangan itu terdapat dalam hadis dari Abu Mas’ud Al-Anshari, beliau mengatakan,

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melarang memakan uang hasil jual anjing, upah pelacur, dan hulwan kahin (upah dukun).” (HR Bukhori, no. 2237)

Jadi sudah jelas bahwa upah/penghasilan dukun adalah haram.

Kemudian mengenai bolehkah diterima ketika sang nenek yang berprofesi dukun itu memberikan hadiah kepada cucu atau anaknya?

1. Jika sang dukun (nenek) tadi memiliki penghasilan lain yang halal, maka ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan, diantaranya :

Pertama: Ada ulama yang memasukkan kasus di atas ke dalam hadits keenam Arbain An-Nawawiyyah. Sehingga, bentuk sikap waro’ (hati-hati) untuk masalah ini adalah menjauhi harta (misalnya: hadiah, jamuan ketika bertamu ke rumahnya, dan sebagainya) orang tersebut. Namun, hukum sikap ini adalah dianjurkan, tidak wajib, karena dengan sikap ini, kita menjadi lebih bersih dari kemungkinan yang tidak diharapkan.

Kedua: Sejumlah (ulama lain) berpendapat bahwa yang menjadi tolok ukur adalah jenis harta yang paling dominan. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang haram maka kita jauhi harta tersebut. Jika yang paling dominan adalah harta yang berasal dari sumber yang halal maka kita boleh memakannya, selama kita tidak mengetahui secara pasti bahwa harta yang dia suguhkan atau dia hadiahkan kepada kita adalah harta yang berasal dari sumber yang haram.

ketiga: Sejumlah ulama yang lain mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut selama kita tidak mengetahui bahwa harta tertentu yang dia berikan kepada kita adalah harta yang haram. Jika kita mengetahui bahwa harta yang dia berikan kepada kita adalah harta yang berasal dari sumber yang haram, kita tidak boleh memakan harta tersebut saja, sedangkan hartanya yang lain tetap boleh kita makan. Dalilnya adalah orang-orang Yahudi yang memberi makanan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, padahal mereka adalah para rentenir. Meski demikian, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam tetap memakan makanan yang diberi oleh orang-orang Yahudi itu.

2. Jika sang dukun (nenek) tadi tidak memiliki penghasilan lain yang halal, alias penghasilannya hanya dari sumber yang haram yaitu sebagai dukun, para ulama khilaf tentang hal ini,

Pertama, hukumnya haram. Hal ini berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak pula seperti hadits Abu Mas’ud Al-Anshari, beliau mengatakan,

“Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melarang memakan uang hasil jual anjing, upah pelacur, dan hulwan kahin (upah dukun).” (HR Bukhori)

Kedua, hukumnya boleh. Ibnu Mas’ud rohimahulloh, mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang jalan haram –yang ditempuh orang tersebut dalam memperoleh hartanya– itu menjadi tanggung jawabnya, karena cara mendapatkan harta itu antara kita dengan dia berbeda. Orang tersebut mendapatkan harta itu melalui profesi yang haram, namun ketika dia memberikan harta tersebut kepada kita, dia memberikannya sebagai hadiah, hibah, jamuan tamu, atau semisalnya kepada kita.

Perbedaan cara mendapatkan harta menyebabkan berbedanya status hukum harta tersebut. Sebagaimana dalam kisah Bariroh. Bariroh mendapatkan sedekah berupa daging, lalu daging tersebut dia hadiahkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, sedangkan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam tidaklah diperkenankan untuk memakan harta sedekah. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Daging tersebut adalah sedekah untuk Barirah, namun hadiah untuk kami.’ (HR. Bukhori dan Muslim, dari Aisyah)

Meski daging yang dihadiahkan kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam itu adalah daging yang disedekahkan kepada Bariroh, tetapi status hukumnya berbeda karena terdapat perbedaan cara mendapatkannya. Berdasarkan pertimbangan ini, sejumlah shahabat dan ulama mengatakan bahwa kita boleh memakan harta orang tersebut, sedangkan tentang adanya dosa, maka itu menjadi tanggungan orang yang memberikan harta tersebut kepada kita. Alasannya, kita mendapatkan harta tersebut dengan status hadiah, sehingga tidak ada masalah jika kita memakannya.

Kemudian di antara ulama yang menguatkan pendapat Ibnu Mas’ud adalah Ibnu Abdil Bar Al-Maliki, dalam kitabnya ‘At-Tamhid’.” (Syarah Arbain Nawawiyyah karya Syekh Shalih Alu Syekh)

Dari Dzar bin Abdullah, dia berkata, “Ada seseorang yang menemui Ibnu Mas’ud lalu orang tersebut mengatakan, ‘Sesungguhnya, aku memiliki tetangga yang membungakan utang, namun dia sering mengundangku untuk makan di rumahnya.’ Ibnu Mas’ud mengatakan, ‘Untukmu enaknya (makanannya) sedangkan dosa adalah tanggungannya.’(Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam Al-Mushannaf)

Dari Salman Al-Farisi, beliau mengatakan, “Jika Anda memiliki kawan, tetangga, atau kerabat yang profesinya haram, lalu dia memberi hadiah kepada Anda atau mengajak Anda makan di rumahnya, terimalah! Sesungguhnya, rasa enaknya adalah hak Anda, sedangkan dosanya adalah tanggung jawabnya.(Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam Al-Mushannaf)

Wallohu a’lam.

Dijawab oleh tim lajnah Fajri FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05