Oleh: Umar Muhsin, Lc

 وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا 

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Alloh apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Alloh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”  (QS. An-Nisa [4]: 104)

Saudaraku Fillah….

Secara tersurat, ayat ini berbicara tentang para singa-singa Alloh yang bertempur di jalan-Nya. Ayat ini secara tegas melarang para mujahidin untuk berperilaku merasa lemah, pesimis dan merasa tidak berdaya dalam mengahadapi musuh-musuh Alloh. Karena, sudah menjadi sunnatulloh (ketetapan Alloh) dalam peperangan yang terjadi antara dua kubu, akan ada di antara para mujahidin yang terluka bahkan ada yang gugur sebagai para syuhada. Maka, hendaknya kondisi ini, tidak lantas membuat mereka menjadi patah arang, lemah semangat apalagi sampai lari dari medan pertempuran. Karena pada saat yang sama, di kubu musuhpun megalami nasib yang sama, dan terkadang jauh lebih tragis.

Akan tetapi, ada satu perkara yang akan menjadi pembeda antara para mujahidin dan musuh-musuhnya. Yaitu rasa berharap yang digantungkan para mujahidin hanya kepada Alloh. Di mana, rasa berharap ini tidak dimiliki oleh musuh-musuh Alloh. Dan di antara harapannya yang niscaya terjadi selain pahala yang melimpah adalah mendapatkan kemenagan atau gugur sebagai syuhada. Inilah yang menjadi kata kunci bagi bangkitnya semangat para mujahidin untuk kembali ke jalur pertempuran dengan semngat juang yang tinggi dan lebih bergairah lagi.

Walaupun secara tersurat ayat di atas secara khusus berbicara tentang pelajaran bagi para mujahidin. Tetapi secara tersirat, ayat ini juga mengandung pelajaran bagi umat Islam pada umumnya. Terutama yang berkaitan dengan sikap berharap kepada Alloh. Ayat ini sangat cocok untuk menjadi motivator bagi kita semua. Baik pria maupun wanita. Baik anak muda maupun orang tua. Baik sebagai pedagang, tukang ojeg, guru, maupun profesi-profesi lainnya.

Dan tidak diragukan lagi, bahwa masing-masing kita pasti memiliki harapan atau cita -cita dalam kehidupan dunia ini. Mungkin ada di antara kita yang berharap untuk menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi pedagang sukses. Ada yang ingin menjadi guru teladan dan lain sebagainya. Bahkan dalam pengertian yang luas, masing-masing kita memiliki harapan yang banyak dan beragam sekali dari mulai yang biasa sampai yang luar biasa.

Usaha Harus Selalu Mengiringi Harapan

Pada dasarnya, semua harapan yang kita cita-citakan baik yang biasa maupun yang luar biasa, ingin dapat dihadirkan ke alam realita.Dan untuk mewujudkannya perlu adanya usaha yang maksimal sesuai dengan sunnatulloh yang ada. Jika harapan kita adalah menjadi orang kaya, maka kita harus bekerja keras. Jika harapan kita adalah ingin menjadi orang pandai, maka kita harus rajin belajar dan seterusnya.

Akan tetapi, dalam pandangan Islam. seseorang dianggap tidak cukup hanya mengandalkan kerja kerasnya untuk menjadi orang kaya. Seseorang juga tidak cukup hanya mengandalkan rajin belajarnya untuk menjadi orang pandai. Karena kita semua menyadari tentang hakikat diri-diri kita, yaitu makhluk yang lemah. Sehebat apapun kerajinan dan kesungguhan seseorang dalam belajar. Dan sekuat apapun tenaga yang dikeluarkan untuk bekerja keras, namun tetap itu semua tidak mengubah status kita di mata Alloh sebagai makhluk yang diciptakan dalam kondisi lemah; simaklah baik-baik firman Alloh; Tuhan Pencipta kita semua:

 وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“…dan manusia dijadikan bersifat lemah.”  (QS. An-Nisa [4]: 28)

Dan faktanya, terkadang kita semua mengalami perkara-perkara yang jauh dari harapan yang sudah ditetapkan. Harapan yang secara matematis, akan begitu mudah untuk diwujudkan. Harapan yang secara logis-empiris, begitu gampang untuk direalisasikan. Tetapi kenyataan berbicara lain. Harapan tersebut terkadang 50% terwujud, bahkan pada tataran tertentu, harapan tersebut telah pupus untuk diwujudkan. Sehingga terkadang melahirkan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam, yang pada gilirannya akan menimbulkan rasa putus asa.

Oleh karena itu, untuk menghindari hal ini, di samping terusmenerus berdoa, seorang muslim harus menggantungkan seluruh harapannya hanya kepada Alloh. Dan menggantungkan harapan kepada Alloh tidak hanya dilakukan pada saat-saat terjepit, genting atau menemui jalan buntu. Tetapi sejatinya, harapan tersebut dilakukan oleh kita semua dalam setiap kondisi. Baik sebelum berusaha untuk meraih harapan tersebut, di tengah-tengah perjalanan melakukannya dan setelah berusaha. Inilah potret muslim sejati yang mengiringi seluruh harapannya dengan ketergantungan kepada Alloh. Sehingga hal ini akan melahirkan ketenagan, kepuasan bahkan kebahagiaan dalam jiwanya, walaupun harapan tersebut pudar di tengah jalan atau gagal sama sekali.

Berharap kepada Alloh adalah Ibadah

Menggantungkan harapan kepada Alloh adalah sebuah sikap yang dibutuhkan oleh setiap kita, terutama di saat-saat genting. Jika kita seorang pedagang, maka untuk menghindari kekecewaan yang mendalam karena kerugian yang besar misalnya; kita butuh sikap berharap hanya kepada Alloh. Jika kita adalah seorang mahasiswa, ketika nilai ujian rendah misalnya; kita butuh rasa berharap hanya kepada Alloh. Bahkan jika kita seorang dai sekalipun, menggantungkan harapan hanya kepada Alloh adalah sebuah kebutuhan primer. Sehingga dapat mengobati kekecewaan kita, jika ada di antara objek dakwah kita yang jauh dari harapan yang kita inginkan.

Di samping mendatangkan ketenagan jiwa, berharap kepada Allohpada dasarnya adalah bagian dari peribadatan hati seorang hamba kepada Alloh. Di mana, dalam Istilah syar’i dikenal dengan kata al-rojâ’ (berharap). Kata ini, bersamaan dengan al-khouf (takut) dan al-mahabbah (cinta) memiliki posisi yang strategis dan fundamental dalam struktur bangunan Islam yang harus senantiasa mengiringi derap langkah seorang hamba dalam mengarungi samudra kehidupan yang begitu berliku-liku.

Jadi, gantugkanlah setinggi mungkin harapan kita hanya kepada Alloh. Karena Dia-lah satu-satunya Dzat yang pantas untuk kita arahkan seluruh harapan. Dan harapan yang paling utama adalah perjumpaan dengan Alloh. Inilah harapan yang paling tinggi yang harus menghujam di dalam dada-dada kita sehingga kebahagiaan tiada tara di surga-Nya adalah suatu hal yang mutlak untuk kita raih. Wallohu a’lam.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05