Rosululloh sholallohu alihi wasallam pernah bersabda:

“Barangsiapa yang dunia menjadi tujuannya, maka Alloh akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan di hadapan kedua matanya, serta tidak akan datang dunia kepadanya kecuali apa yang telah ditulis oleh Alloh baginya. Sebaliknya barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya, maka Alloh akan menghimpun baginya urusannya dan Dia jadikan kekayaan di dalam hatinya, serta dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al-Albani).

Hadits di atas menerangkan kepada kita bahwa tujuan hidup manusia itu ada dua:

Pertama, dunia dan perhiasannya.

Ini mencakup apa saja selain ridho Alloh dan surga-Nya, seperti keinginan untuk dipuji dan disanjung, kedudukan dan kebesaran di hati manusia, harta dan jabatan, dan lain sebagainya. Semua tujuan itu adalah remeh dan hina dalam pandangan Alloh ta’ala. Siapa yang tujuan hidupnya terfokus pada hal-hal di atas, maka ia akan sengsara di dunia dan di akhirat.

Kedua, akhirat dan ridho Alloh subhanahu wa ta’ala.

Inilah tujuan hidup seorang mukmin sejati. Dan inilah yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh. Siapa yang tujuan hidupnya adalah akhirat dan ridha Alloh, maka dia akan dicukupi oleh Alloh semua urusannya.

Dalam al-Qur’an, berulang kali Alloh subhanahu wa ta’ala menekankan pentingnya niat yang ikhlas, di antaranya Dia berfirman:

 مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا (19)

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki, kemudian Kami jadikan baginya neraka Jahannamyang ia akan memasukinyadalam keadaan tercela dan terusir. Dan berangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat serta beramal untuk akhirat dengan sungguh-sungguh, sedang ia adalah seorang mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya akan dibalasi oleh Alloh.” (QS. Al-Isroo’: 18-19)

Boleh jadi, seseorang melakukan amal-amal yang besar, namun tidak diterima oleh Alloh subhanahu wa ta’ala, amal tersebut menjadi sia-sia, dan pelakunya hanya akan menuai siksa, karena ada kecacatan dalam niatnya.

Dari Abu Hurairoh rodhiallohu anhu, dia berkata,

“Aku pernah mendengar Rosululloh sholallohu alihi wasallam bersabda:

‘Sesungguhnya orang yang pertama-tama diadili pada hari kiamat kelak ialah (pertama) orang yang mati syahid. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Alloh. Maka dia pun mengakuinya. Alloh bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang karena Engkau hingga syahid.’ Alloh berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau berperang supaya engkau dikatakan ‘dia adalah orang yang gagah berani.’ Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintah agar dia diseret di atas wajahnyalalu dilemparkan ke dalam neraka.

(kedua) Seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta menghafal al-Qur’an. Dia didatangkan ke pengadilan, lalu diperlihatkan nikmat-nikmat Alloh. Maka dia pun mengakuinya. Alloh bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku menghafal al-Qur’an karena-Mu. Alloh ta’ala berfriman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan ‘dia adalah orang yang berilmu’ dan engkau menghafal al-Qur’an agar dikatakan ‘dia adalah qori (pandai membaca)’. Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu). Kemudian diperintahkan agar diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

(ketiga) Orang yang diberi kelapangan rizki oleh Alloh dan berbagai macam harta. Lalu di didatangkan ke pengadilan dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Alloh. Maka dia pun mengakuinya. Alloh bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau suka agar harta dibelanjakan di jalan itu, melainkan aku belanjakan hartaku di jalan itu karena-Mu’. Alloh berfirman, ‘Engkau dusta. Tetapi engkau melakukan hal itu agar dikatakan ‘dia seorang pemurah’. Dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya, hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim, no 1905, Nasa’I, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)

Tatkalah Mu’awiyah rodhiallohu anhu mendengar hadits ini, dia menangis sesenggukan hingga pingsan. Setelah siuman, dia berkata, “Alloh dan Rosul-Nya benar.”

Alloh ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/11/15/people-of-the-book-(jews-and-christians)-are-of-two-kinds,-those-who-can-see-the-truth,-and-those-who-choose-not-to#sthash.xHjWmJS9.dpuf

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/11/15/people-of-the-book-(jews-and-christians)-are-of-two-kinds,-those-who-can-see-the-truth,-and-those-who-choose-not-to#sthash.xHjWmJS9.dpuf

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/11/15/people-of-the-book-(jews-and-christians)-are-of-two-kinds,-those-who-can-see-the-truth,-and-those-who-choose-not-to#sthash.xHjWmJS9.dpuf

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/11/15/people-of-the-book-(jews-and-christians)-are-of-two-kinds,-those-who-can-see-the-truth,-and-those-who-choose-not-to#sthash.xHjWmJS9.dpuf

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/11/15/people-of-the-book-(jews-and-christians)-are-of-two-kinds,-those-who-can-see-the-truth,-and-those-who-choose-not-to#sthash.xHjWmJS9.dpuf

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/11/15/people-of-the-book-(jews-and-christians)-are-of-two-kinds,-those-who-can-see-the-truth,-and-those-who-choose-not-to#sthash.xHjWmJS9.dpuf

 مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/11/16/people-of-the-book-(jews-and-christians)-are-of-two-kinds,-those-who-can-see-the-truth,-and-those-who-choose-not-to#sthash.Ctu1TwBg.dpuf
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ – See more at: http://www.alim.org/library/quran/ayah/compare/11/15/people-of-the-book-(jews-and-christians)-are-of-two-kinds,-those-who-can-see-the-truth,-and-those-who-choose-not-to#sthash.xHjWmJS9.dpuf

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16).

Beliau juga berkata, “Jika itu yang diperlakukan kepada tiga macam orang tersebut, lalu bagaimana dengan selain mereka?”

Hal ini karena Alloh ta’ala adalah Dzat Yang Maha Kaya dan sangat tidak suka dipersekutukan. Alloh befriman dalam hadits qudsi-Nya:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh dengan persekutuan. Barangsiapa yang melakukan suatu amal dengan menyekutukan Aku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR. Muslim, no. 2985)

Hadits di atas juga menekankan pentingnya ikhlas dalam semua amal shalih kita. Hal ini karena Alloh tidak akan menerima amal sholih kita kecuali dengan dua syarat, yaitu ikhlas karena Alloh dalam niatnya, dan mencontoh Rosululloh sholallohu alihi wasallam dalam pelaksaannya. Oleh karena itu, perhatian para ulama salaf terhadap niat sangatlah besar. Tidak sedikit di antara mereka yang memulai kitab-kitabnya dengan mencantumkan hadits:

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya. Dan seseorang itu hanya akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, akan dicatat kepada Alloh dan Rosul-Nya. Tapi barangsiapa yang hijrahnya untu mencari dunia atau menikahi wanita, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Fudhail bin ‘Iyadh rohimahulloh ketika menjelaskan firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang telah menjadikan kematian dan kehidupan agar Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2), ia berkata, bahwa yang dimaksud dengan siapa yang terbaik amalnya adalah yang ikhlas dan paling shawab (benar), yakni mencontoh Rosululloh sholallohu alihi wasallam.

Perhatian Salafus Sholih Terhadap Niat

Karena pentingnya masalah niat ini, maka Umar bin Khoththob rodhiallohu anhu pernah berdoa, “Ya Alloh, jadikanlah semua amalku amal yang sholih, dan jadikanlah ia karena-Mu semata, serta jangan Engkau jadikan karena seorangpun.

Abdulloh bin Mas’ud rodhiallohu anhu berkata, “Perkataan tidak akan bermanfaat tanpa amal perbuatan, perkataan dari amal perbuatan tidak akan bermanfaat tanpa niat.”

Abdulloh bin Mubarok rohimahullloh bekata, “Berapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niatnya, dan berapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niatnya.”

Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri rohimahulloh berkata, “Mereka para shalafus sholih) biasa mempelajari niat untuk suatu amal sebagaimana kalian biasa mempelajari amal.”

Sahl bin Abdulloh at-Tastari rohimahulloh pernah ditanya, “Apakah yang paling berat bagi jiwa menurutmu?” Beliau menjawab, “Ikhlas, karena jiwa tidak mendapatkan bagian apapun dengan ikhlas tersebut.”

Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi seorang muslim yang menginginkan keselamatan di dunia dan akhirat untuk selalu memperhatikan keikhlasan niatnya. Inilah yang dituntut oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dalam setiap amal-amal kita. Dengan keikhlasan tersebut, Alloh akan memberkahi suatu amal dan menerimanya serta menyediakan balasan yang agung di sisi-Nya. Semoga Alloh ta’ala mengilhamkan kepada kita ikhlas dan ittiba’ (mencontoh) Rosul-Nya sholallohu alihi wasallam.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05