Oleh: Ust. Umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Sebagaimana kita tahu, dewasa ini tidak sedikit manusia yang menyembah tuhan-tuhan berupa makhluk yang dibentuk, seperti pohon, batu, ataupun manusia. Bahkan tak sedikit di antara kaum muslimin yang sadar ataupun tidak sadar telah terjatuh ke dalam perbuatan kesyirikan dalam rububiyah Allah Subhanahu Wata’ala atau melakukan perbuatan syirik dalam perbuatan-perbuatan Allah. Seperti meyakini bahwa ada zat yang bisa menciptakan selain Allah, menurunkan air hujan dan perbuatan-perbuatan Allah lainnya .

Jika kita mentadabburi ayat-ayat Allah, baik yang kauniyah, yaitu ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta, dan juga ayat-ayat-Nya yang ada dalam al-Qur`an. Maka, sebenarnya Allah telah banyak  memperkenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya, yang menunjukkan ke-rububiyah-an Allah Ta’ala. Di antaranya firman Allah:

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۢ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

“Sesungguhnya Tuhan kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang. Masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-A’raf: 54)

Allah juga mengenalkan diri, kepada hamba-Nya melalui sifat dan ciri-ciri yang penuh keindahan dan kesempurnaan. Seperti firman Allah dalam surat:

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَ‍ُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ ٢٥٥

“Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at disisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. al-Baqarah: 255)

Inilah Rabb, Tuhan yang maha Bijaksana, Maha Berkuasa yang telah memperkenalkan diri kepada hamba-hamba-Nya, menunjukkan kepada mereka ayat-ayat-Nya sebagai saksi dan keterangan, mensifati diri-Nya dengan sifat-sifat sempurna yang menunjukkan akan keberadaan-Nya, kerububiyahan-Nya serta keesaan-Nya, sejalan dengan syari’at para Nabi, tuntutan akal serta fitrah para makhluk. Dan juga hal tersebut disepakati oleh seluruh umat manusia.

Untuk semakin membuat kita yakin akan ketuhanan dan kerububiyahan Allah Subhanahu Wata’ala, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan, di antaranya:

Pertama, Penciptaan alam ini dan apa yang ada di dalamnya bukti adanya Allah Yang Maha Pencipta.

Kita sebagai manusia tentu menyadari bahwa kita hidup di dunia ini dikelilingi alam semesta. di atas kita ada langit yang tak bertiang, bintang-bintang yang beredar, dan bumi membentang. Pada bumi ini terdapat serpihan-serpihan berdampingan yang berbeda dan tumbuh sesuai dengan perbedaannya, padanya terdapat berbagai jenis buah-buahan, dan pada setiap makhluk akan kita dapati bahwa ia berpasang-pasangan.

Alam ini tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi, merupakan suatu kepastian akan adanya Pencipta, maka siapakah yang menciptakannya dengan keteraturan yang menakjubkan ini, menyempurnakannya dengan kesempurnaan yang indah, dan menjadikannya sebagai tanda bagi mereka yang melihatnya, melainkan Allah Yang Esa dan Berkuasa yang tidak ada Rabb selain-Nya.

Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman:

 أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; Sebenarnya mereka tidak meyakini apa yang mereka katakan.” (QS. ath-Thur: 35-36)

Kedua ayat ini mencakup tiga hal yang sangat penting, yaitu, Apakah mereka diciptakan dari sesuatu yang tidak ada?, Kemudian, Apakah mereka menciptakan dirinya sendiri?, dan yang ketiga, Apakah mereka yang menciptakan langit dan bumi?.

Apabila mereka diciptakan dari sesuatu yang tidak ada, tidak menciptakan diri mereka sendiri, dan tidak pula menciptakan langit dan bumi, maka dipastikan kalau dia harus menetapkan keberadaan Pencipta yang menciptakan mereka dan menciptakan langit serta bumi, Dialah Allah Yang Esa lagi Maha Perkasa.

Kemudian bukti rububiyah Allah yang kedua adalah fitrah manusia.

Seluruh makhluk yang diciptakan, memiliki fitrah untuk menetapkan keberadaan Pencipta, bahwasanya Dia lebih Mulia, lebih Besar, lebih Agung dan lebih sempurna dari segala sesuatu. Hal ini melekat dalam fitrah yang kelekatannya melebihi ilmu-ilmu pasti dan tidak memerlukan dalil kecuali bagi dia yang telah terganggu fitrahnya dan mengalami kondisi yang memalingkan fitrahnya dari kebenaran Allah.

Berkaitan dengan hal ini, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. ar-Rum: 30)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda,

“Tidak ada seorangpun yang dilahirkan kecuali berada dalam fitrahnya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasroni atau Majusi. Sebagaimana seekor binatang ternak yang melahirkan anak yang sempurna anggota tubuhnya, apakah kalian merasa adanya hidung yang dipotong pada hewan tersebut? Abu Hurairah berkata: jika berkehendak maka bacalah oleh kalian: “Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.” (HR. Bukhari)

Adapun dalil dan bukti rububiyah Allah yang ketiga adalah Ijma’ seluruh umat:

Dalam kitab al-Islam Ushuluhu wa Mabadiuhu karya Syeikh Doktor Muhammad Abdulloh Shaleh As Suhaim dikatakan, “Telah sepakat seluruh umat yang terdahulu dan kini bahwa alam ini memiliki Pencipta, dan Dia adalah Allah Tuhan Penguasa Alam dan Dialah Pencipta langit dan bumi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menciptakan, sebagaimana tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya.

Tidak pernah dinukil dari umat manapun dari umat-umat terdahulu yang menyatakan bahwa mereka berkeyakinan bahwa tuhan-tuhan mereka bersekutu bersama Allah dalam menciptakan langit dan bumi, bahkan mereka berkeyakinan bahwa Allah lah yang menciptakan mereka dan menciptakan tuhan-tuhan mereka.

Tidak ada Ilah dan tidak pula Pemberi rejeki selain-Nya, manfaat serta mudharat berada di tangan-Nya, Allah berfirman, ketika mengabarkan tentang pengakuan orang-orang musyrik akan Rububiyyah-Nya:

وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ٦١ ٱللَّهُ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ٦٢

“Sesungguhnya jika kalian tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka dapat dipalingkan dari jalan yang benar. Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Sesungguhnya jika kalian menanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.” (QS. al-‘Ankabut: 61-63)

Kemudian bukti rububiyah Allah yang keempat adalah akal.

Tidak ada jalan bagi akal kecuali dengan menetapkan bahwa alam semesta ini memiliki Pencipta Yang Agung. Karena akal  akan berpendapat bahwa alam ini diciptakan dan diadakan, ia tidak menciptakan dirinya sendiri dan yang diadakan menuntut adanya yang mengadakan.

Manusia menyadari bahwa dirinya pernah melewati berbagai musibah dan kesulitan, tatkala ia tidak berdaya dalam menghadapinya, maka ia hadapkan wajahnya ke langit dan meminta pertolongan kepada Rabb-nya agar dilapangkan dari kesusahan, disingkap darinya tabir kesedihan. Walaupun pada kebanyakan harinya ia mengingkari Rabb-nya dan menyembah berhala.

Ini adalah fakta yang tidak dapat terbantahkan dan harus diakui dan ditetapkan. Bahkan binatang pun tatkala merasakan adanya musibah akan mengangkat kepala dan mengarahkan pandangannya ke langit. Allah telah mengabarkan tentang manusia bahwasanya apabila tertimpa suatu mudharat ia bersegera menuju Rabb-nya untuk meminta agar Dia menghilangkannya, Allah berfirman:

۞وَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَا رَبَّهُۥ مُنِيبًا إِلَيۡهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُۥ نِعۡمَةٗ مِّنۡهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدۡعُوٓاْ إِلَيۡهِ مِن قَبۡلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادٗا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِۦۚ قُلۡ تَمَتَّعۡ بِكُفۡرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ ٨

“Apabila manusia itu ditimpa kemudhorotan, dia memohon pertolongan kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudhorotan yang pernah dia berdo’a kepada Allah untuk menghilangkannya sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah.” (QS. az-Zumar: 8)

Tentunya masih banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan tentang rububiyah Allah Subhanahu Wata’ala. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap mentauhidkannnya. Amin, Wallahu A’lam.