Ada dua hal yang melandasi perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya. Pertama, faktor harapan dan cita-cita berkeluarga kedua orang tuanya. Cita-cita adalah harapan tertinggi yang sangat ingin diraih dan senantiasa diupayakan dengan rencana dan segala kemampuan yang paling maksimal. Sebab, membentuk keluarga bukanlah tujuan, tapi sarana untuk mencapai sebuah tujuan.

Faktor yang kedua adalah kesadaran untuk melaksanakan tugas terpenting dalam berkeluarga. Apakah tugas terpenting dalam berkeluarga itu? Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, mereka tidak mendurhakai Alloh dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya.” (QS. At-Tahrim: 6)

Karena itu, pastikan kita tidak salah dalam menetapkan cita-cita berkeluarga. Jangan sampai cita-cita kita dalam berkeluarga hanya sebatas pengerjaan terhadap hal-hal yang sepele atau bersifat dunia belaka. Seperti banyak para orang tua yang berlelah-lelah, menghabiskan banyak waktu yang sia-sia untuk mendidik anaknya menjadi penyanyi, agar nantinya bisa ikut lomba menyanyi, kemudian bisa memiliki harta yang banyak dari menyanyi. Jelas saja, keluarga yang hanya menempatkan rel cita-cita keluarga pada hal seperti ini tidak akan menjadi sukses dan hanya akan berakhir dengan kerugian.

Jadi, keluarga sukses adalah keluarga yang di dunia berhasil menjalankan misi sebagai pemimpin orang yang bertakwa dan di akhirat, berhasil mencapai visinya terbebas dari neraka. Inilah makna dari doa yang kita pinta:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat; dan jauhkan kami dari api neraka.”

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ 

“Maka barangsiapa yang telah dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses.” (QS. Ali Imron: 185)

Untuk meraih kesuksesan dalam berkeluarga, posisi anak menjadi penting sebagai aset yang akan melanjutkan “dinasti” kesholihan. Do’a nabi Zakaria mengingatkan kita tentang dinasti ini. Beliau alaihissalam memohon kepada Alloh subhanahu wa ta’ala agar diberikan keturunan, kendatipun ubannya telah tampak, dan tulang-tulangnya lemah, namun ia menyadari, bahwa keturunan adalah modal atau aset  berharga di dalam melanjutkan cita-citanya yang mulia, yaitu bedakwah di jalan Alloh subhanahu wa ta’ala.

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا (4) فَأَتَتْ بِهِ قَوْمَهَا تَحْمِلُهُ ۖ قَالُوا يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا (5)

“Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra..,” (QS. Maryam: 4-5)

Oleh karena itu, mari didik anak-anak kita. Perlakukan dan persiapkan mereka agar mampu menjadi pemimpin umat dan bangsa; perlakukan dan bekali mereka agar mampu menjadi penyelamat orang tua dan keluarganya dari neraka.

Ada dua ciri yang menandakan bahwa kita telah merasakan anak adalah aset penting keluarga, yaitu:

  1. Jika ada rasa khawatir jika anak yang dititipkan Alloh kepada kita tidak menjadi seperti yang diamanahkan.
  2. Jika ada rasa cemas jika anak yang sebagai modal berharga untuk meraih sukses keluarga menjadi sia-sia tidak berguna.

Alloh subhanahu wa ta’ala pun menyuruh kita, orang tua, punya rasa khawatir terhadap anak-anak kita.

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 

“Dan hendaklah takut (cemas) orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap keadaan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)

Di ayat itu Alloh ta’ala juga memberi resep kepada kita agar tidak meninggalkan anak-anak  yang lemah. Resepnya adalah tingkatkan kapasitas moral kita dengan bertakwa kepada Alloh, menambah kapasitas konsepsional kita sehingga kita mampu berkata yang benar (qaulan sadiidan), dan perbaiki kualitas amal kita (tushlihu’ ‘amal). 

Resep itu harus dilakukan secara bersama-sama dalam keluarga, bukan sendiri-sendiri. Ini terlihat dari ayat itu ditulis Alloh dengan bentuk jamak. Jadi klop dengan prinsip ta’awun alal birri wat taqwa (tolong menolong dalam ketakwaan) dan al-mu’minuna wal mu’minaat ba’duhum auliyaa’u ba’d (lelaki yang beriman dan wanita yang beriman mereka satu sama lain saling bantu-membantu).

Langkah-langkahnya seperti ini. Mulailah kedua orang tua, yaitu kita, memperbaiki diri. Lalu, hadirkan untuk anak kita lingkungan terbaik dan hindarkan mereka dari lingkungan yang merusak. Beri mereka makanan yang terjamin gizi dan kehalalannya. Berikan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan visi dan misi keluarga. Tentu saja siapkan anggaran yang cukup. Setelah itu, bertawakalah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Doakan selalu anak kita.

Dalam memberikan pendidikan kepada anak, yang harus menjadi titik tekan adalah:

  1. Mengikatnya dengan (suasana) Al-Qur’an,
  2. Menjadikannya terus menerus merasa dalam pengawasan Alloh,
  3. Menumbuhkan cinta kepada Nabi sholallohu alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Menjadikan mereka sebagai sumber panutan dan rujukan hidup.
  4. Membiasakannya mencintai segala hal yang diridhoi Alloh ta’ala dan menjadikannya bencit terhadap yang dimuraki Alloh,
  5. Membekalinya dengan keterampilan memimpin dan berjuang,
  6. Membekalinya dengan keterampilan hidup,
  7. Membekalinya dengan keterampilan belajar,
  8. Menjadikannya mampu menggunakan berbagai sarana kehidupan (sains dan teknologi).

Semoga kita bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak kita sehingga mereka bisa menjadi anak-anak yang sholeh sesuai tuntunan Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Amiin..

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05