Fajar di Bekasi…. Pak ustadz saya mau tanya bagaimana cara mengganti puasa bagi laki-laki.

Jawab :

Sebelum menjawab pertanyaan tentang cara menqodho puasa, perlu dirinci sebelumnya kenapa pembaca mengenai meninggalkan puasa Romadhon.

Karena Para ulama berpendapat tentang orang yang sengaja membatalkan puasa atau tidak berpuasa tanpa ada uzur. Ada yang berpendapat tetap wajib qodho’, ada pula yang tidak mewajibkan.

Ibnu Hazm rohimahulloh dan ulama belakangan seperti Syaikh Muhammad bin  Sholih Al Utsaimin rohimahulloh berpendapat bahwa bagi orang yang tidak berpuasa dengan sengaja tanpa ada udzur, tidak wajib baginya untuk mengqodho’ puasa.

Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh menjelaskan, “Amalan ketaatan seperti puasa, sholat, zakat dan selainnya yang ditinggalkan tanpa ada udzur, ibadah-ibadah tersebut tidak ada kewajiban qodho’, dan taubatlah yang nanti akan menghapuskan kesalahan-kesalahan tersebut. Jika dia bertaubat kepada Alloh dengan sesungguhnya dan banyak melakukan amalan sholih, maka itu sudah cukup daripada mengulangi amalan-amalan tersebut.”

Itulah yang harus dilakukan oleh orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja tanpa ada udzur. Yaitu dia harus bertaubat dengan ikhlash, menyesali dosa yang telah dia lakukan, kembali melaksanakan puasa Romadhon jika berjumpa kembali, bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan, dan taubat tersebut dilakukan sebelum datang kematian atau sebelum matahari terbit dari sebelah barat.

Sedangkan jika Anda meninggalkan puasa Romadhon karena udzur syar’i, seperti sakit, safar dan sebagainya, maka wajib menggantinya dengan qodho puasa di luar bulan Romadhon sesuai jumlah hari yang Anda tinggalkan selama Romadhon. Misalnya kita sakit selama 3 hari yang menyebabkan kita tidak puasa selama 3 hari tersebut di bulan Romadhon, maka wajib kita mengqodho mengganti puasa tersebut diluar bulan Romadhon, selama tiga hari puasa juga.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (QS. Al-Baqoroh: 185)

Kemudian perlu diketahui pula bahwa Tidak Wajib Untuk Berurutan Ketika Mengqodho’ Puasa

Maksudnya Apabila kita memiliki kewajiban qodho’ puasa selama beberapa hari, maka untuk menunaikan qodho’ tersebut tidak mesti berturut-turut. Misal kita punya qodho’ puasa karena sakit selama lima hari, maka boleh kita lakukan qodho’ dua hari pada bulan Syawal, dua hari pada bulan Dzulhijah dan sehari lagi pada bulan Muharram. Dasar dibolehkannya hal ini adalah,

فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqoroh: 185). Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tidak mengapa jika (dalam mengqodho’ puasa) tidak berurutan”.

Dan terakhir perlu diperhatikan pula dalam mengqodho puasa Romadhon adalah menyegerakan mengqodho’nya jika tak memiliki halangan atau kesulitan dalam mengqodho’nya. Sebab walaupun Qodho’ Romadhon boleh ditunda, maksudnya tidak mesti dilakukan setelah bulan Romadhon yaitu di bulan Syawal. Bahkan boleh dilakukan sampai bulan Sya’ban, asalkan belum masuk Romadhon berikutnya.

Wallohu a’lam.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05