Siapakah di antara kita yang tidak memiliki orang tua? Pasti jawabannya tidak ada! Bagaimana pun keadaan seseorang, pastilah ia memiliki orang tua, meskipun kenyataan memang tidak selalu berkata sama. Yang jelas, apapun keadaannya, seseorang tidak akan terlahir tanpa perantara kedua orang tua.

Menjadi sebab keberadaan anak tentu merupakan jasa yang besar bagi orang tua. Terlebih keduanya telah merawat kita dengan penuh kasih sayang. Islam pun sangat menjunjung tinggi hak-hak orang tua. Islam mengajarkan kita untuk berbakti kepada keduanya dan melarang keras mendurhakai keduanya.

Sebagai seorang Muslim yang baik, tentu menyadari betapa penting dan mulianya berbakti kepada orang tua dengan melaksanakan etika, adab dan akhlak-akhlak mulia sesuai petunjuk Islam sebagai bukti cinta kita pada keduanya. Di antara adab-adab terhadap orang tua yang harus diketahui dan diamalkan adalah sebagai berikut:

  1. Senantiasa mendoakan kebaikan dan memohon ampunan bagi kedua orang tua, baik ketika keduanya masih hidup maupun telah tiada.

Adab ini telah diperintahkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

 وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا …

“…Dan ucapkanlah: “Wahai Robbku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isro’ [17]: 24)

  1. Menasihati keduanya agar senantiasa bertakwa kepada Alloh dengan nasihat yang lembut dan penuh kasih sayang. Jika harus membantah, maka bantahlah dengan santun.

Ketika orang tua kita melakukan kemaksiatan, jangan menegurnya dengan cara membentak. Perhatikanlah bagaimana teladan Nabi Ibrahim alaihissalam ketika menasihati ayahnya yang melakukan kesyirikan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا 

“Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS. Maryam [19]: 42)

Mengagumkan, Nabi Ibrahim alaihissalam bahkan menggunakan kata-kata yang paling lembut, yang menunjukkan kasih sayang kepada ayahnya, meskipun sang ayah telah terjatuh ke dalam dosa paling besar, yaitu kesyirikan.

  1. Berbicara kepada kedua orang tua dengan penuh kelembutan dan tidak mengucapkan kata-kata yang menyakiti keduanya.

Mengenai hal ini, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 … فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“…Maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isro’ [17]: 23)

Apabila perkataan “ah” saja telah dilarang, maka semua bentuk perkataan yang maknanya lebih kasar dari itu, tentu lebih dilarang.

  1. Selalu menaati perintah orang tua di dalam semua perkara selain kemaksiatan kepada Alloh.

Karena tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam bermaksiat kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, seperti firman-Nya:

 وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا …

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik….” (QS. Luqman [31]: 15)

  1. Bersikap tawadhu’ (rendah diri) di hadapan keduanya.

Tidak selayaknya kita berlaku sombong kepada orang tua di saat telah memperoleh kesuksesan atau mempunyai jabatan. Sehebat apapun kita saat ini, ketika dilahirkan dalam keadaan yang lemah dan sangat membutuhkan perawatan dari keduanya. Kedua orang tualah yang merawat kita dengan kasih sayang, memberi makan, minum, pakaian, pendidikan dan hal-hal yang lainnya.

  1. Senantiasa menjaga kehormatan, nama baik, kemuliaan, serta memelihara harta keduanya. Jadi, jangan mudah mengambil sesuatu milik keduanya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
  2. Jangan pelit alias bakhil kepada kedua orang tua dalam memberi.

Karena pada dasarnya semua harta kita adalah milik orang tua kita. Alloh subhanahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menafkahi kedua orang tua sesuai dengan kemampuan kita. Alloh berfirman:

 يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ ….

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kalian nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim….” (QS. al-Baqoroh [2]: 215)

  1. Sigap dalam memenuhi panggilan orang tua walaupun ketika sedang mempunyai urusan, bahkan meski sedang menunaikan sholat sunnah.

Pernahkah mendengar kisah Juraij sang ahli ibadah dari Bani Israil yang diriwayatkan oleh Imam Muslim? Ia seorang ahli ibadah yang dituduh berzina dengan seorang pelacur lantaran doa dari ibunya. Pasalnya, sang ibu kesal karena Juraij lebih memilih sholat sunnah daripada memenuhi panggilannya. Ibunya kemudian mendoakan agar Juraij tidak meninggal sebelum ditampakkan baginya suatu ujian.

Dari hal ini, kita harus waspada dan menghindari segala perbuatan yang memancing doa yang buruk dari orang tua, terkhusus doa ibu.

  1. Secara urutan prioritas, orang tua yang paling berhak untuk dimuliakan adalah ibu kita, kemudian bapak kita.

Inilah yang diperintahkan oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam diriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiallohu anhu bahwa:

Datang seorang laki-laki kepada Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, kemudian berkata, “Siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbakti kepadanya?” Maka beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab lagi, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Baru kemudian bapakmu.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

  1. Jangan mencela atau melaknat keduanya.

Apakah mungkin ada orang yang berakal dan beriman begitu tega melaknat orang tuanya sendiri? Menurut akal sehat, hal tersebut tidak mungkin terjadi kecuali bagi mereka yang hati nuraninya sudah rusak. Akan tetapi, seseorang bisa secara tidak langsung mencela atau melaknat orang tuanya sendiri. Bagaimana? Yaitu ketika ia mencela atau melaknat ibu bapak orang lain. Sehingga orang lain akan membalas mencela ibu bapaknya.

Hal ini sudah diwanti-wanti oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dengan sabdanya:

“Sesungguhnya di antara dosa besar adalah seseorang melaknat orang tuanya sendiri –kemudian para sahabat merasa heran– lalu ditanyakan kepada beliau: “Bagaimana seseorang akan melaknat kedua orang tuanya?” Maka beliau menjawab: “Yaitu dia mencaci ayah orang lain kemudian orang tersebut mencaci ayahnya, dan ia mencaci ibu orang lain, kemudian orang tersebut mencaci ibunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

  1. Senantiasa mengunjunginya.

Jika kita telah berkeluarga dan hidup terpisah, kunjungilah mereka di saat masih hidup dan ziarahilah ketika mereka telah wafat. Bershodaqohlah atas nama mereka dan banyaklah berdoa bagi mereka berdua.

  1. Tidak mendurhakai keduanya dan memancing kemurkaannya.

Alloh subhanahu wa ta’ala dan Rosul-Nya telah memberikan ancaman yang keras baik di dunia maupun akhirat, bagi siapa saja yang berani mendurhakai kedua orang tua. Sedangkan di antara adzab yang dipercepat di dunia adalah bisa jadi anak-anak kita pun akan berbuat kedurhakaan sebagaimana kita telah mendurhakai orang tua.

Untuk menghindari kedurhakaan kepada orang tua di antaranya adalah dengan mentaati segala perintahnya selama bukan dalam hal kemaksiatan, tidak berkata dan berbuat kasar, tidak menyakiti fisik maupun psikisnya, berdusta, merendahkan harga diri dan kehormatannya, mengambil hartanya secara semena-mena serta akhlak-akhlak buruk lainnya yang harus dijauhi.

Begitu besarnya dosa durhaka kepada orang tua, Rosululloh sholallohu alaihi wasallam sampai menyebutkannya di urutan kedua setelah dosa syirik.

Diriwayatkan dari ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiallohu anhu bahwa datang seorang Arab badui dan bertanya kepada beliau,

“Wahai Rosululloh, apakah –yang termasuk– dosa-dosa besar itu?” Beliau menjawab, “Menyekutukan Alloh.” Ia bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab, “Kemudian mendurhakai kedua orang tua.” (HR. al-Bukhori)

Pembaca yang budiman, inilah sebagian kecil di antara adab-adab kepada orang tua. Semoga yang sebagian kecil ini bisa mewakili yang lainnya. Kita berharap dengan menjalankan adab-adab ini, akan menjadi pelindung bagi kita dari kekasaran hati, kekeringan perasaan, kedurhakaan dan pintu kemaksiatan kepada orang tua. Dan yang paling utama adalah, akhlak ini akan membantu membukakan pintu-pintu surga bagi kita. Amin. Wallahu a’lam.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05