Ari di Ciomas Bogor… bolehkah jika waqaf rumah diganti dg uang? Di karenakan konflik dengan keluarga, sebab rumah waqaf itu dibeli oleh anggota keluarga yang lain. Bagaimana jika sudah terlanjur dilakukan?

Jawaban :

Bismillah… Waqaf adalah pemilik harta menahan hartanya yang diambil manfaatnya, sehingga tidak diwariskan, tidak dijual, dan tidak dihibahkan, dan manfaatnya diberikan pada sesuatu yang termasuk jenis-jenis ketaatan untuk mencari wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Dari keterangan tersebut, kita mengetahui bahwa pada asalnya, waqaf tidak boleh dijual. Karena, jika dijual dan barang waqafnya sudah tidak ada wujudnya, maka bukan lagi waqaf. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang cukukp panjang riwayat Bukhori dan Muslim.

Kemudian bagaimana jika tanah waqaf tersebut menjadi tanah sengketa antar sesama anggota keluarga, semisal karena waris atau keperluan perluasan rumah misalkan, apakah perlu untuk dijual dan dibelikan tanah yang lain untuk dijadikan sebagai waqaf dan dimanfaatkan? Apakah hal itu boleh?

Di sini terdapat dua pendapat yaitu :

  1. Tidak Boleh Dijual. Ini disebutkan sebagai pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i. Tetapi, Imam Malik rahimahullah juga berpendapat, jika imam (penguasa) berpendapat bahwa penjualan itu lebih mashlahat, maka hal itu boleh dan imam menjadikan peruntukan hasil dari penjualaln tersebut pada yang semisalnya.
  2. Waqaf tidak boleh dijual dan tidak boleh ditukar, kecuali jika manfaat-manfaat waqaf terbengkelai, maka boleh dijual dan boleh ditukar dengan lainnya. Demikian ini pendapat Imam Ahmad.

Dalam pendapat kedua inipun terdapat dua pendapat yaitu :

  1. Mengganti karena kebutuhan. Seperti waqaf terbengkelai, lalu dijual, dan dengan uangnya dibelikan penggantinya. Ini semua boleh, karena yang menjadi pokoknya, jika sesuatu yang dimaksudkan itu tidak terjadi, maka gantinya berlaku sebagai menggantikannya.
  2. Mengganti untuk mashlahat yang lebih besar. Seperti ada sebuah masjid lalu dibangun masjid lain yang lebih mashlahat bagi penduduk suatu daerah dari pada masjid pertama, dan masjid yang pertama dijual. Menurut imam Ahmad dan ulama lainnya, yang seperti itu dan semacamnya dibolehkan.

Kembali kepada soal yang ditanyakan, Setelah kita mengetahui penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang lebih kuat, adalah yang membolehkan menjual rumah wakaf tersebut dan menggantinya dengan rumah waqaf yang lebih baik di tempat lain, jika hal itu mendatangkan mashlahat yang lebih besar dan menghindari madhorot yang dikhawatirkan terjadi.

Wallohu A’lam…

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah Fajri FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05

%d bloggers like this: