Hamba Allah di Bogor.. Pak Ustadz kalau orang meninggal tetapi keluarganya suka dibayarkan fidiah untuk mengganti Sholat atau ibadah yang ditinggalkan orang yang meninggal tersebut, itu fidiah bukannya untuk membayar puasa Ramadhan? Apakah ada ajarannya dalam Al qur’an & Hadist.. Kalau ada surat Apa? & Hadist riwayat siapa?

Jawaban :

Bismillah… fidyah untuk mengganti sholat yang ditinggalkan semasa hidupnya orang yang meninggal, maka ini tidak ada anjurannya. Adapun untuk puasa, Ada 2 kondisi bagi orang yang meninggal terkait dengan kewajiban puasa Ramadhan diantaranya sebagai berikut :

  1. Orang tersebut wafat sebelum sempat berpuasa karena waktu yang sempit atau adanya uzur seperti sakit sehingga tidak sanggup berpuasa, maka orang yang wafat dalam kondisi seperti ini menurut mayoritas fuqoha tidak berkewajiban apapun, sebab ia tidak melalaikan atau meremehkan puasa Ramadhan. Ia tidak berdosa karena tidak mampu melaksanakan puasa hingga ajal menjemputnya. Hukum wajibnya gugur sebagaimana halnya kewajiban haji. Ahli waris dan wali dari orang yang meninggal ini tidak berkewajiban menggantikan puasa atau membayarkan fidyahnya.
  2. Orang tersebut wafat setelah ia berkemungkinan melakukan puasa yakni mengqodho’nya. Maka ada perbedaan pendapat dalam hal ini.

Menurut mayoritas fuqoha walinya tidak perlu berpuasa untuknya, melainkan hanya membayarkan fidyah yang dikeluarkan dari harta yang ditinggalkan orang tersebut. Bahkan menurut qaulul jadid mazhab Syafi’i, jika walinya berpuasa untuknya maka puasanya tidak sah karena puasa merupakan ibadah badaniyah mahdhoh sama halnya dengan shalat yang tidak bisa diwakilkan pada saat masih hidup atau pun sesudah meninggal.

Yang wajib dilakukan oleh ahli waris atau walinya  hanyalah membayarkan fidyah baginya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar; “Barangsiapa mati, sedangkan dia mempunyai tanggungan puasa selama sebulan, hendaknya dia diwakili oleh walinya untuk memberi makan seorang miskin setiap hari.” (HR Ibnu Majah)

Menurut sebagian mazhab Hambali, sekelompok muhaddits mazhab Syafi’i, Abu Tsaur al-Auza’i, dan sebagainya, berpendapat bahwa ahli waris dan wali orang yang sudah wafat tersebut disunahkan berpuasa baginya sebagai tindakan kehati-hatian demi terbebasnya mayat dari tanggungannya.

Dalil mereka adalah beberapa hadits, di antaranya yang diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mati sedangkan dia memiliki tanggungan puasa, hendaknya walinya berpuasa untuknya.” (HR.Muttafaq ‘alaihi)

Tentu ahli waris atau wali dari orang yang sudah meninggal apabila tidak tahu berapa hutang puasa yang belum dibayar almarhum atau almarhumah tidak berkewajiban membebankan dirinya dengan sesuatu yang tidak ia ketahui. Yang dapat dilakukan oleh ahli waris atau wali adalah memohonkan ampunan pada Allah atas dosa-dosa yang pernah diperbuat almarhum atau almarhumah semasa hidupnya, menunaikan wasiatnya, menyambung silaturrahim dengan orang-orang yang pernah menjalin hubungan dengan beliau semasa hidup, membayar utang piutang beliau atau mewakafkan atau menginfaqkan harta untuk atau atas nama beliau. Wallahu a’lam.

Dari penjelasan ini dan ketidaktahuan tentang qodho’ puasa almarhum, maka yang dapat Anda lakukan adalah bersedekah atas nama almarhumah. Dalam hadits diterangkan tentang sampainya pahala sedekah kepada mayit.

Dari Abdullah bin Abbas rodhiallohu anhu bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada di tempat, lalu ia datang kepada Nabi sholallohu alaihi wasallam untuk bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?” Rasululullah sholallohu alaihi wasallam menjawab: “Ya”. Saad berkata: “Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya.” (HR. Bukhari)

Wallohu A’lam…

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah Fajri FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05