Ibadah adalah wujud penghambaan seorang hamba kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Ibadah harus meneladani ajaran Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, karena beliaulah pengemban terakhir risalah agung dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Suatu amalan ibadah hanya akan diterima oleh Alloh apabila dikerjakan secara ikhlas mengharap ridho-Nya semata dan sesuai dengan teladan rosul-Nya sholallohu alaihi wasallam.

Rosululloh Sholallohu Alaihi Wasallam Berwudhu

Seperti yang sudah dimaklumi bahwa wudhu merupakan syarat sahnya sholat. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh tidak akan menerima sholat salah seorang di antara kalian sehingga dia berwudhu” (HR. Bukhori)

Jadi, wudhu sangat menentukan diterima atau tidaknya sholat seseorang. Kaidah fiqih mengatakan: “Sesuatu yang tidak sempurna sebuah kewajiban kecuali dengannya maka ia adalah wajib”, maka kita wajib mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan wudhu.

Jika seorang muslim hendak berwudhu, hal pertama yang harus ia lakukan adalah berniat di dalam hati lalu membaca basmalah. Hal tersebut berdasarkan pada sabda Rosululloh sholallohu alaihi wasallam: “Tidak sempurna wudhu seseorang yang tidak membaca basmalah” (HR. Ahmad dihasankan oleh al-Albany dalam Irwa’ al-gholiil)

Namun jika dia terlupa, wudhu’nya sah dan tidak perlu mengulanginya. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam mencuci kedua telapak tangan beliau sebanyak tiga kali sebelum memulai wudhu. Kemudian beliau mengambil air dengan telapak tangan kanannya lalu berkumur-kumur dengan setengah dari air tersebut dan mengeluarkannya. Lalu beliau memasukkan sisa air tersebut ke dalam hidung, dengan cara menghirupnya keras-keras, dan mengeluarkannya kembali dengan tangan kiri. Beliau melakukan hal ini tiga kali.

Beliau mengambil air kembali dengan telapak tangan kanannya, lalu mempertemukannya dengan tangan kirinya kemudian membasuh wajah dengan keduanya. Beliau melakukan hal ini tiga kali. Kemudian beliau membasuh kedua tangannya tiga kali, dan meratakannya hingga ke siku-siku dimulai dari yang sebelah kanan.

Kemudian beliau membasahi kembali kedua tangannya, lalu mengusap kepala dan kedua telinganya satu kali. Dimulai dari bagian depan kepala kemudian ke bagian depan. Kemudian langsung membasuh kedua telinga dengan sisa air ditangan. Lalu beliau membasuh kedua kaki hingga mata kaki.

Berdasarkan firman Alloh ta’ala:

وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Dan basuhlah kaki-kaki kalian sampai kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 6)

Setelah selesai berwudhu beliau sholallohu alaihi wasallam membaca:

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak diibadahi selain Alloh Yang Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Wajib membasuh semua anggota wudhu secara berkelanjutan. Tidak boleh mengakhirkan membasuh salah satu anggota wudhu hingga yang dibasuh sebelumnya mongering, inilah yang dimaksud dengan tertib dan berurutan dalam berwudhu.

Tayammum Rosululloh Sholallohu Alaihi Wasallam

Orang yang tidak memperoleh air untuk bersuci, atau orang sakit yang tidak memungkinkan bersuci dengan menggunakan air, karena lemah atau khawatir akan bertambah parah atau kesembuhannya akan tertunda, maka ia boleh bertayammum.

Tayammum dilakukan dengan menepukkan kedua telapak tangan ke tanah yang suci satu kali kemudian meniup keduanya, lalu menyapu mukanya dengan telapak jari-jari, hingga pergelangan tangan dengan kedua telapak tangannya.

Alloh azza wa jalla berfirman:

وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَآئِطِ أَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ

“Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau bersetubuh dengan perempuan, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (suci) sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu.” (QS. Al-Maidah: 6)

Kemudian Rosululloh sholallohu alaihi wasallam menepukkan kedua tangannya ke tanah satu kali, lalu menyapukannya ke muka dan ke dua telapak tangannya.

Bagaimana Orang Sakit Bersuci?

Apabila sakitnya ringan dan tidak dikhawatirkan akan bertambah parah jika menggunakan air. Juga tidak memperlambat proses penyembuhannya, atau tidak menambah rasa sakit, atau bukan penyakit yang serius seperti pusing, sakit gigi, atau orang sakit masih dapat menggunakan air hangat dan tidak berbahaya karenanya, maka dalam kondisi seperti itu ia tidak boleh bertayammum.

Sebab tayammum itu dibolehkan untuk menghindari bahaya, padahal dalam kondisi seperti ini tidak ada sesuatu yang membahayakan, dan karena itu ia juga memperoleh air.

Jika ia mengidap penyakit yang bisa membahayakan jiwa, atau salah satu anggota tubuhnya, atau penyakit yang mengkhawatirkan akan timbulnya penyakit lain yang dapat membahayakansalah satu anggota tubuhnya atau khawatir kehilangan fungsi, maka dalam kondisi seperti ini ia boleh bertayammum

Hal ini berdasarkan firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)

Jika ia mengidap penyakit yang membuatnya tidak bisa bergerak, sementara tidak ada orang yang mengantarkan air kepadanya, maka boleh baginya bertayammum. Kalau dia tidak dapat bertayammum, maka ditayammumkan oleh orang lain.  Dan jika tubuh, pakaian atau tempat tidurnya terkena najis,  sementara ia tidak mampu menghilangkan atau bersuci darinya, diperbolehkan melakukan sholat dalam keadaan seperti itu.

Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

فَاتَّقُوا۟ اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertaqwalah kalian kepada Alloh menurut kemampuan kalian.” (QS. At-Taghobun: 16)

Dan tidak boleh baginya menunda waktu sholat dalam keadaan bagaimanapun. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah (seseorang) berlebih-lebihan dalam melaksanakan agama, kecuali dia akan binasa.” (HR. Bukhori)

Inilah teladan Rosul yang berhubungan dengan orang sakit. Kita memohon kepada Alloh ta’ala semoga kita semua mampu meneladani Rosululloh sholallohu alaihi wasallam.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05