Dari Yusuf di Cikarang,

Assalamu’alaikum..

Ustadz, saya ingin bertanya. Mana yang harus diprioritaskan, berkurban atau membayar hutang?

[divide]

Jawab:

Ibadah kurban merupakan salah satu amalan sunah yang utama dalam Islam. Ibadah ini tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Ibadah kurban juga salah satu syiar agama Allah SWT yang harus diagungkan sebagai bukti ketakwaan kepada Allah SWT sebagaimana firman-Nya, “Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS al-Hajj [22]: 32).

Akan tetapi, jika masih mempunyai beban utang yang harus segera dilunasi maka yang lebih utama adalah mendahulukan pelunasan utangnya daripada melaksanakan ibadah kurban. Hal itu karena beberapa sebab, antara lain:

Pertama. Melunasi utang itu hukumnya wajib, sedangkan ibadah kurban menurut jumhur ulama hukumnya adalah sunah muakadah. Umat Islam harus mendahulukan yang wajib daripada yang sunah karena kita tidak boleh meninggalkan atau melalaikan yang wajib demi melakukan hal yang sunah. Bahkan, bagi yang mengikuti pendapat bahwa berkurban itu wajib maka tetap saja melunasi utang itu lebih didahulukan. Karena, berkurban itu wajib bagi yang mampu, sedangkan orang yang berutang dianggap tidak mampu.

Kedua. Rasulullah SAW juga mengajak kepada umat agar sebisa mungkin untuk tidak berutang.
Dan, kalau berutang, harus berusaha secepat mungkin melepaskan dirinya dari lilitan utang. Dalam satu hadis dijelaskan bahwa Nabi SAW enggan menshalatkan mayat yang masih mempunyai tanggungan utang. Dari Salamah bin al-Akwa’ ra ia berkata, “Kami pernah duduk bersama Nabi SAW. Ketika di hadirkan kepada beliau satu jenazah, kemudian orang-orang berkata, ‘Shalatilah jenazah ini.’ Maka beliau bertanya, ‘Apakah orang ini punya utang?’ Mereka menjawab,’Tidak.’ Kemudian, beliau bertanya kembali, ‘Apakah dia meninggalkan sesuatu?’  Mereka menjawab, ‘Tidak.’  Maka beliau menshalatkan jenazah tersebut. Kemudian, didatangkan lagi jenazah lain kepada beliau, lalu orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, shalatilah jenazah ini.’  Maka beliau bertanya, ‘Apakah orang ini punya utang?  Dijawab, ‘Ya.’ Kemudian, beliau bertanya lagi, ‘Apakah dia meninggalkan sesuatu?’  Mereka menjawab, ‘Ada, sebanyak tiga dinar.’  Maka beliau pun menshalati jenazah tersebut. Kemudian, didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu orang-orang berkata, ‘Shalatilah jenazah ini.’  Maka beliau bertanya, ‘Apakah ia meninggalkan sesuatu?’  Mereka menjawab, ‘Tidak ada.’ Lalu beliau bertanya lagi, ‘Apakah ia mempunyai utang?’  Mereka menjawab, ‘Ada, yaitu tiga dinar.’ Maka Nabi bersabda, ‘Shalatilah saudaramu ini.’ Berkata Abu Qatadah, ‘shalatilah wahai Rasulullah, nanti utangnya aku yang menanggungnya.’ Maka beliau pun menshalatkan jenazah itu.’  (HR Bukhari).

Ketiga. Dosa utang yang belum dibayarkan merupakan satu-satunya dosa yang tidak diampunkan oleh Allah SWT atas seseorang yang mati syahid dalam medan perjuangan di jalan Allah SWT. Abdullah bin ‘Amru bin al-Ash meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Mati sewaktu berjihad di jalan Allah dapat menghapus semua dosa, kecuali utang.” (HR Muslim).

Keempat. Kecuali, jika tempo pembayaran utang itu masih cukup waktu untuk dibayarkan secara kredit yang waktu pembayarannya sudah ditentukan. Dan ia, berkeyakinan akan mampu membayar utang pada waktunya, maka dibolehkan baginya melaksanakan ibadah kurban. Tetapi, jika ia merasa tidak akan mampu maka sebaiknya uang tersebut ditabungkan untuk melunasi utangnya terlebih dahulu.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05