Kupegang Romadhon kali ini…

Barangkali esok aku sudah tiada…

Keras kugenggam dengan geraham…

Semoga bahagia saat menemui-Nya…

Alhamdulillah, setelah satu tahun tak bersua, akhirnya Romadhon akan kembali menyapa kita dengan belaian keberkahannya. Beruntunglah orang-orang yang menyemburat rasa bahagia dalam hati ketika menyambutnya dan meranalah orang-orang yang menyembilu rasa sedih dalam hati ketika menghadapinya.

Sahabat Fajri yang Budiman… Tahukah, mengapa di setiap datangnya Romadhon ada kebahagiaan menggelora yang senantiasa menghampiri jiwa kita? Setidaknya ada 4 hal yang menjadi alasannya, yaitu:

1. Lebih Mudah Dalam Memburu Tahta Ketakwaan.

Setiap kali senja Sa’ban merunduk di ufuk barat, itulah pertanda gerbang Romadhon dibuka dan itulah pertanda bulan berburu tahta ketakwaan dimulai. Ketakwaan adalah harta paling berharga bagi seorang manusia. Ia mahkota yang seandainya raja-raja dunia mengetahui kedudukannya yang tinggi, niscaya mereka akan mengerahkan segala yang dimiliki untuk menukarnya atau kalau perlu, merebutnya. Visi dan misi kita dalam berpuasa adalah untuk meraih ketakwaan, mari kita tadabburi firman Alloh:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(QS. Al Baqarah: 183).

Tentu saja, tahta ketakwaan memang tak hanya dapat diburu di bulan Romadhon, tetapi di luar Romadhon pun perburuan itu senantiasa terbuka, hanya saja, terkhusus di bulan Romadhon, perburuan itu memiliki karakteristik yang berbeda. Tak sekedar melepas para hamba-Nya dalam kompetisi meraih derajat termulia itu, Alloh Yang Maha Kasih Sayang terhadap hamba-Nya pun menaburkan karunia yang sangat besar di bulan ini sehingga siapapun dapat lebih mudah, lebih bergairah, serta dapat lebih fokus dalam meraih tahta ketakwaan tersebut.

Dapat kita sadari, betapa karunia pahala, keberkahan serta ampunan sangat melimpah ruah pada bulan ini. Setiap kebaikan akan digandakan berkali lipat pahalanya, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits qudsi:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Alloh Ta’ala berfirman : “setiap amal manusia adalah untuknya, kecuali puasa, maka sesungguhnya ia (puasa ini) adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan membalasnya (secara khusus)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tapi maaf, meskipun setiap gerak lisan maupun fisik yang bernilai peribadatan dari orang yang berpuasa akan berlipat pahala di sisi-Nya, jangan sampai kita menyandarkan keyakinan kita kepada klaim hadits yang berbunyi “Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan dan amalannya dilipatkan (pahalanya-pent).” Padahal hadits tersebut merupakan hadits dhoif(lemah) sebagaimana pernyataan Al Baihaqi rahimahulloh:

مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ ضَعِيفٌ وَسُلَيْمَانُ بْنُ عَمْرٍو النَّخَعِيُّ أَضْعَفُ مِنْهُ

“Ma’ruf bin Hassan (salah satu perawi hadits ini) adalah perawi yang lemah dan Sulaiman bin ‘Amr An Nakh’i lebih lemah darinya.” [Lihat kitab Syu’ab Al Iman, 5/423 (Syamela)].

Maka orang yang berbahagia dengan kedatangan Romadhon tak kan menghabiskan kesempatan berharganya dengan tidur sepanjang waktu, karena ia paham bahwa itu bukanlah sarana menuju tahta ketakwaan, melainkan hanya “cara para pecundang” untuk melepaskan semua karunia yang Alloh subhanahu wa ta’ala berikan sehingga membuat puasanya yang ia tahan-tahan dengan susah payah hanya berhujung pada, “Mendapat lapar dan dahaga saja (tanpa beroleh pahala)”.

Oleh sebab itu… Mari kita isi hari-hari Bulan Romadhon yang mulia ini dengan berbagai aktivitas kebaikan seperti: membaca Al-Qur’an bahkan mengkhatamkannya, menghafal Al-Qur’an, nenuntut ilmu syar’i, berdakwah, memberi makan orang berbuka puasa, sholat tarawih, meraih lailatul qodar, dan lain sebagainya yang tentunya untuk mengharap pahala di sisi Alloh dalam meraih ketakwaan yang hakiki.

Jangan biarkan bulan Ramadhan ini berlalu begitu saja sebelum kita diampuni oleh Allah Ta’ala. Rosululloh shaollallohu ‘alaihi wasallam pun mewasiatkan kepada kita akan hal itu. Dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shaollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku, Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya), Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al jami’)

Itulah Sahabat Fajri yang budiman… bulan Romadhon memang benar-benar spesial. Aloh ‘Azza wa jalla betul-betul memanjakan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk dapat meraih tahta ketakwaan dengan semudah-mudahnya.

 2. Menghabiskan Waktu untuk Bermanja-Manja dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah bagian dari limpahan karunia itu yang memiliki pahala, keberkahan serta ampunan yang besar bagi para pembacanya. Namun lebih spesifik kita katakan, bahwa al-Qur’an adalah primadona bagi para pemburu tahta ketakwaan. Romadhon adalah al-Qur’an dan al-Qur’an adalah Romadhon, tak kan mungkin keduanya dipisahkan. Seorang yang melewati hari-hari Romadhon tanpa ditingkahi syahdu kalam Ilahi sama saja ia telah menyembelih Romadhon, lalu menguburnya dalam lubang kemunafikan. Maka seorang beriman yang mengerti dengan adanya berbagai kemudahan beribadah di dalam Romadhon, pasti akan memanfaatkan sebagian besar waktunya itu untuk bermanja-manja dengan al-Qur’an, mendalami samudera hikmahnya serta berusaha mengejewantahkanya dalam realita kehidupan. Betapa sadarnya ia, bahwa tiap huruf dalam al-Qur’an adalah helaian nafas bagi hatinya, sehingga ketika ia meninggalkan al-Qur’an, ia pun sadar, bahwa itu berarti pertanda hatinya sedang sakit, atau bahkan mungkin sedang sekarat menunggu ajalnya. Wal’iyadzubillah.

In syaa Alloh semoga hadits ini menjadi motivasi yang utama bagi kita dalam menjadikan Al-Qur’an sahabat setia khususnya di Bulan Romadhon yang penuh keberkahan:

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

“Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata: “Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469)

 

3. Dapat Mengenal Lebih Dalam Tentang Arti Sebuah Makanan

Romadhon, dalam makna yang dekat dengan perut adalah saat kita mampu menjaga makanan kita agar terjaminkan kedekatan agung dengan Alloh ‘Azza wa jalla. Di saat puasa, kita jaga pencernaan kita dari yang halal dan thayyib sejak terbit fajar hingga terbenarmnya mentari semata karena mentaati Alloh dan mencintai-Nya. Maka sungguh ia menjadi cermin, bahwa di luar Romadhon, kita harus menjaganya dari yang syubhat dan yang haram. Jika dari yang halal saja kita bisa menjaga –selama Romadhon-, maka dari yang syubhat, apalagi haram, in syaa Alloh kita bisa. Kita bisa..!! Maka itulah makna puasa. Itulah produknya. Itulah takwa dalam maknanya bagi perut kita: berhati-hatilah menjaga makananmu!

Karena sekerat daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih layak baginya. Karena darah yang mengalir dari saripati makanan haram, setan berselancar ria di pembuluh-pembuluhnya. Karena anggota tubuh yang dialirinya, mudah terresonansi oleh frekuensi kemaksiatan. Tergetar hati kita bukan oleh Asma Alloh, tetapi oleh selainnya. Berdesir jantung kita bukan oleh kalimat-kalimat-Nya yang suci mulia, tetapi justru oleh huruf, suara, dan rerupa yang menjijikkan nista.

Jagalah makananmu, begitu yang coba kita pahami dari pesan yang disampaikan oleh Romadhon. Karena, betapa setiap tetes barang haram, kan menjauhkan dari Alloh selautan. Setiap keratnya, menghalangi doa-doa dan komunikasi mesra kita dengan-Nya sekuat benteng beton berlapis-lapis tebalnya. Sebagaimana hadits Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam:

Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” [Shahih Muslim, kitab Zakat bab Qabulus Sadaqah 3/85-86].

Imam An-Nawawi berkata bahwa yang dimaksud lama bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah seperti haji, ziarah, bersilaturrahmi dan yang lainnya. Pada zaman sekarang ini berapa banyak orang yang mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian yang haram baik dari harta riba, perjudian atau harta suap dan yang lainnya. [Syarah Shahih Muslim 7/100].

4. Karena Kita, Bukanlah Perekayasa Cinta

Adakah seorang yang merasa bahagia berjumpa dengan kekasihnya, kemudian ketika berpisah ia tak merindukan perjumpaan dengannya lagi? Jika kita termasuk kekasih yang seperti itu, maka ketahuilah bahwa kita hanyalah seorang: “Perekayasa Cinta”. Kita hanya seorang penebar cinta palsu. Berkata cinta namun hanya sebagai hiasan di bibir saja.

 Begitulah seorang yang mengaku merindu Romadhon padahal tak sekerat pun ada rasa-rasa bahagia yang membuncah dari lubuk hatinya ketika Romadhon menyapa..!! Adakah benar ia mengaku merindu Romadhon sementara persiapan menyambut Romadhon walau hanya dengan sekedar doa kerinduan pun tak pernah sekalipun terlontar? Dan…, adakah diri kita termasuk di dalamnya? Wal’iyadzubillah, jika benar demikian, maka pantas jika kita menyandang predikat Perekayasa Cinta, atau lebih tepatnya kita katakan sebagai orang yang tidak yakin dengan janji-janji Alloh swt maupun dengan kabar-kabar yang diberitakan-Nya. Benarkah demikian? Wallahu a’lam.

 Hanya kita yang benar-benar mampu membuktikannya. Jika memang bukan, ataupun tak ingin termasuk golongan yang berpredikat seperti itu, maka mari, kita hilangkan sikap malas, futur, leha-leha, dan terlenakan dengan dunia… kita ganti semua itu dengan 2 sayap, sayap semangat dan tekad kuat… Ketika bulan Romadhon menyapa kita, sudah seharusnya kita telah mengkondisikan jiwa dan hati kita dengan kebahagiaan akan segera berjumpa dengan Romadhon, kerinduan akan kampung surga yang dijanjikan, serta semangat dan tekad kuat untuk bertaubat dan menggantinya dengan ta’at kepada Alloh , Robb yang telah memberikan begitu banyak kebaikan kepada kita, yang meskipun kita sendiri seringkali lupa akan kebaikan-kebaikan tersebut, tetapi Alloh tak pernah lupa dan lelah untuk mengajak kita, serta memanggil kita dengan lembut untuk kembali bertaubat dan bersimpuh di hadapan-Nya.

 Sahabat Fajri yang budiman,

 Marilah kita sambut Romadhon dengan penuh kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan senantiasa bertaubat kepada-Nya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

 

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“….Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur [24] : 31).

 

Marhaban Yaa Romadhon…

 

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05