Oleh: Ust. Solahudin, Lc., M.A.

Di kesempatan kali ini kita akan membicarakan masalah besar yang dihadapi oleh manusia baik dulu maupun sekarang, baik yang tua apalagi pemudanya. Masalah itu adalah berkaitan dengan WANITA.

Tentunya, bukan sekadar masalah wanita secara dzatnya, tapi masalah yang dilakukannya. Di antara masalah yang ditimbulkan oleh wanita dan berdampak besar bagi suatu masyarakat adalah ketika wanita mengumbar aurat kepada laki-laki yang bukan mahrom.

Fenomena  wanita  muslimah yang tidak  berjilbab  dan  menampakkan  auratnya kepada laki-laki  adalah  fitnah  yang  menimpa  kebanyakan  negara  di  dunia,  termasuk negara kita ini. Penyebab dari masalah ini memang macam-macam.

Ada yang memang tidak tahu bahwa jilbab itu kewajiban, ada yang tidak peduli kalau jilbab itu wajib, ada juga yang sudah tahu tapi merasa keberatan untuk memakai jilbab dengan segudang alasan, dan sebab-sebab lainnya. Padahal, dalam Islam, mengumbar aurat kepada laki-laki yang bukan mahrom atau disebut juga dengan tabarruj, adalah kemungkaran yang besar dan merupakan faktor terbesar datangnya  azab.

Apakah mungkin, gara-gara tidak menutup aurat bisa sampai mengundang adzab? Iya, benar. Karena  mengumbar aurat  dapat  menyebabkan  perbuatan maksiat lainnya, dan bisa jadi lebih parah. Seperti tindakan perkosaan, perzinaan, hilangnya rasa malu dan menyebarnya kerusakan.

Belum lagi, jika kita melihat efek tersebut bagi para pemuda muslim. Mereka yang melakukan tindakan maksiat dan kriminal tersebut, di antara sebabnya adalah karena terpancing oleh wanita-wanita yang mengumbar aurat.

Sangat disayangkan memang, banyak wanita yang mengaku muslimah, namun mereka malah berlomba-lomba menampakkan kecantikan dan pesonanya kepada laki-laki yang bukan mahrom bukan juga suaminya. Mereka tidak sadar dengan bahaya besar yang akan menimpanya, jika tidak segera bertaubat dan terus menerus mengumbar aurat.

Di antara bahaya dari tabarruj atau mengumbar aurat adalah,

Pertama, rusaknya akhlak kaum lelaki khususnya para pemuda yang terdorong melakukan zina yang diharamkan, seperti yang sudah disinggung.

Kemudian yang kedua, mencelakan diri wanita sendiri, karena Tabarruj itu menunjukkan niat jelek dari apa yang ia suguhkan untuk menggoda orang-orang jahat dan bodoh

Yang ketiga, maraknya praktek memperdagangkan wanita sebagai sarana promosi atau untuk meningkatkan usaha perdagangan dan sebagainya.

Yang keempat, dari bahaya tabarruj adalah tersebarnya penyakit. Hal ini sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang artinya,

“Tidaklah perbuatan zina nampak pada suatu kaum sampai mereka mengumumkannya kecuali akan tersebar di antara mereka penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang belum pernah ada pada orang-orang dulu.”

Di antara bahaya tabarruj yang berikutnya adalah, mempermudah mata melakukan maksiat, padahal, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Kedua mata zinanya adalah melihat.”

Jadi, dengan mengumbar aurat, seorang wanita telah membuat banyak laki-laki yang berzina dengan menggunakan matanya, ketika ia tidak menundukkan pandangan.

Masya Allah, jadi, masalah mengumbar aurat, bukan masalah yang ringan dan sepele. Bukan sekadar masalah hak asasi manusia, urusan masing-masing. Lebih dari itu, perbuatan ini akan berefek pada perbuatan maksiat lainnya yang lebih buruk dan besar.

Oleh karena itulah, Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada para wanita muslimah, baik yang gadis maupun sudah menikah, untuk menggunakan hijab. Perintah tersebut tertuang dalam al-Qur’an:

“Wahai Nabi! Katakan kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orang-orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun maha penyayang.” (QS. al-Ahzab: 59)

Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa maksud jilbab dalam ayat ini adalah sesuatu yang dikenakan  perempuan untuk menutupi  kepala dan badannya melapisi pakaiannya agar tertutup auratnya.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan para wanita orang-orang mukmin agar menutupkan jilbab-jilbab mereka pada sisi-sisi keindahan mereka seperti rambut, wajah dan lain-lain, agar dikenal bahwa ia adalah seorang wanita yang menjaga kesuciannya sehingga terhindar dari fitnah dan orang lain pun tidak tergoda untuk mengganggunya.

Bahkan sahabat muda, bukan hanya gadis, remaja atau pemudi saja yang diwajibkan untuk menutup aurat dan menjaga kehormatan ini. bahkan wanita yang sudah tua pun, dianjurkan untuk menjaga kehormatan. Allah ta’ala berfirman,

“Para perempuan tua yang telah berhenti dari haid dan mengandung yang tidak ingin menikah lagi, maka tidak berdosa menanggalkan pakaian luar mereka dengan tidak bermaksud menampakan perhiasan, hanya saja memelihara kehormatan adalah lebih baik bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. an-Nur: 60)

Dalam ayat ini Allah ta’ala mengabarkan bahwa para perempuan tua yang telah berhenti dari haid dan mengandung, juga sudah tidak ingin menikah lagi, mereka tidak berdosa jika menanggalkan pakaian dari wajah dan tangan mereka, dengan syarat tidak bermaksud menampakan perhiasan mereka.

Dari sini kita tahu bahwa wanita yang menampakan perhiasan dan auratnya, selain muka dan tangan, tetap berdosa meskipun telah tua.

Nah, inilah yang seharusnya dilakukan oleh para wanita muslimah, termasuk pemudinya untuk menutup aurat mereka. Lalu, masalahnya sekarang, terlalu banyak wanita yang mengumbar auratnya di luaran sana. Hampir di setiap tempat, dapat kita temui wanita-wanita yang mengumbar aurat. Jadi, bagaimana seharusnya kita sebagai pemuda?

Untuk masalah ini, Allah memerintahkan kepada laki-laki beriman dan para perempuan beriman agar menjaga pandangan mereka. Karena membebaskan pandangan merupakan jalan datangnya penyakit hati dan terjadinya tindakan keji.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluannya. (QS. an-Nur: 30)

Nah, inilah di antara solusi untuk menjaga diri dari fitnah wanita yang mengumbar aurat, yaitu dengan menundukkan pandangan. Kita berharap, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah taufiq kepada para muslimah untuk menutup aurat mereka dengan jilbab syar’i, juga menjaga para pemudanya dari fitnah ini. amin. Wallahu a’lam.