At-Tawwab adalah salah satu nama indah Alloh subhanahu wa ta’ala yang Dia perkenalkan kepada hamba-hamba-Nya. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“.. kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqoroh [2]: 37)

Dan firman-Nya yang lain:

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. at-Taubah [9]: 104)

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam telah menjelaskan bagaimana gembiranya Alloh subhanahu wa ta’ala dengan taubat hamba-Nya. Dalam hadits riwayat Anas rodhiallohu anhu bahwa Nabi sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Sungguh Alloh sangat gembira karena taubat hamba-Nya, lebih dari gembiranya salah  seorang dari kalian yang berada di tengah gurun bersama kendaraannya, namun tiba-tiba kendaraannya itu terpisah darinya, padahal kendaraan itu membawa bekal makanan dan minumannya. Maka berputusasalah dia. Kemudian dia menuju ke sebuah pohon dan merebahkan diri di bawah bayang-bayang pohon tersebut. Dia benar-benar telah putus harapannya untuk mendapatkan kendaraannya kembali. Dalam keadaan seprti itu, tiba-tiba kendaraaan itu sudah berdiri di dekatnya, dan serta merta langsung meraih tali kekangnya. Kemudian karena saking gembiranya, dia mengatkan, ‘engkau hambaku, dan aku Tuhanmu’. Dia salah mengucap karena saking gembiranya.” (HR. Muslim)

Alloh mengetahui bahwa hamba-hamba-Nya tidak luput dari keterbatasan dan kekurangan, yang merupakan karakter makhluk yang memanga telah Alloh subhanahu wa ta’ala ciptakan demikian. Di samping untuk diampuni, adanya karakter seperti itu untuk menunjukkan belas kasihan dan pengampunan-Nya. Disebutkan dalam hadits Abu Ayyub:

Saya pernah mendengar Rosululloh bersabda: ‘kalau kalian itu bukan orang-orang yang berbuat dosa, maka Alloh pasti akan menciptakan makhluk yang berbuat dosa, supaya Alloh bisa mengampuni mereka.” (HR.Muslim)

Dalam riwayat lain:

Kalau kalian tidak mempunyai dosa yang akan diampuni Alloh, maka Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang berdosa agar Dia mengampuni mereka.” (HR.Muslim)

Dan Riwayat Anas, Nabi sholallohu alaihi wasallam bersabda:

“Semua anak cucu Adam itu banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertaubat”. (HR. Tirmidzi)

Seruan Alloh kepada para Hamba-Nya untuk Bertaubat

Alloh menyeru hamba-hamba-Nya agar mensucikan diri dengan bertaubat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ…

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Robbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…, (QS. at-Tahrim [66]: 8)

Dalam firman-Nya pula:

… وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“… Bertaubatlah kalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. an-Nur [24]: 31)

Alloh pun memberitahukan bahwa orang-orang yang melakukan dosa kemudian mereka tidak mau bertaubat adalah orang-orang yang dzolim,

 … وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

”… Barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzolim.” (QS. al-Hujurot [49]: 11)

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam telah memerintahkan umatnya untuk bertaubat dan memohon ampun. Beliau bersabda:

“Hai manusia, bertaubatlah kepada Alloh, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)

Sesungguhnya taubat itu menghilangkan dampak dari keburukan dan memberkahi serta mensucikan jiwa.

Taubat yang tulus (Nasuha)

Taubat yang diterima Alloh adalah taubat yang tulus, yang telah Alloh serukan kepada kita di dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ…

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS. at-Tahrim [66]: 8)

Taubat yang tulus adalah taubat yang benar. Dan taubat akan benar-benar tulus jika disertai dengan,

  1. Kesadaran akan kesalahan yang telah diperbuat

Taubat itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang mengakui bahwa itu terjadi karena kalalaian dan sikap mereka yang terlalu meremehkan. Mereka inilah orang-orang yang berusaha keras untuk melepaskan diri mereka dari dosa-dosa tersebut. Dan perlu dicatat bahwa awal sebuah pertaubatan adalah kesadaran dari diri sendiri akan dosa dan penyimpangan yang ia lakukan.

  1. Pembenahan Tingkah Laku

Orang yang bertaubat harus merubah jalannya dan menjauhi lingkungan yang membuatnya melakukan dosa itu. Jika ia mempunyai teman-teman yang buruk perilakunya atau tempat-tempat hiburan yang melenakan maka ia harus meninggalkan teman yang buruk perilakunya itu dan mencari teman-teman yang baik yang selalu mengingatkannya kepada Alloh dan membantunya untuk selalu istiqomah dalam tingkah lakunya. Kebiasaannya untuk mendatangi tempat-tempat yang keji dan maksiat itu, harus diganti dengan mendatangi masjid dan mempelajari hal-hal yang bermanfaat. Kebiasaanya untuk membaca buku-buku yang isinya buruk, harus diganti dengan kebiasaan mempelajari agama Islam. Dalam firman-Nya:

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kecuali mereka yang telah taubat dan Mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqoroh [2]: 160)

 إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan Mengadakan perbaikan. karena Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. ali- Imron [3]: 89)

Sedangkan bentuk taubat orang kafir adalah dengan beriman dan melakukan amalan-amalan yang baik. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

… فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“… Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. at-Taubah [9]: 5)

Ini tidak berarti orang yang bertekad untuk bertaubat dan telah mulai memperbaiki perilakunya, kemudian tidak berhasil dan putus asa untuk mengharap rahmat dari Alloh. Tetapi, dia harus selalu mencoba dan terus mencoba hingga perilakunya selalu terkontrol di jalan yang lurus dan mendpatkan lingkungan yang mendukung. Karena kebanyakan orang yang berusaha bertaubat setelah mencapai sisi yang aman, tapi kemudian tidak benar-benar memahami makna usahanya ini, maka dia akan terjangkiti keputusaan dan terjerat oleh jerat setan.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:

Ada seorang hamba berbuat dosa, kemudian ia berkata, ‘Ya Alloh, ampunilah dosaku. Kemudian Alloh berfirman, ‘seorang hamba telah melakukan dosa, dan dia tahu bahwa dia mempunyai tuhan yang mengampuni dosa, dan dia melakukan dosa kemudian kembali melakukan dosa, lalau berkata, ‘wahai tuahanku, ampnialah dosaku! ‘maka Alloh kemudian berfirman, ‘hamba-Ku telah melakukan dosa. Dia tahu bahwa dia mempunyai tuhan yang Maha Mengampuni dosa dan dia telah melakukan dosa. Kemudian dia kembali melakukan dosa, lalu dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku, maka Alloh berfirman, ‘hambaku telah melakukan dosa. Berbuatlah sesukamu, aku telah mengampunimu”. (HR. Muslim)

  1. Memperlihatkan kebenaran

Jika bentuk kekekjian itu adalah menyembunyikan kebenaran, seperti orang-orang yahudi dan nasrani yang menyembunyikan sifat-sifat Rosululloh dalam kitab-kitab mereka atau orang-orang yang menyembunyikan kebenran padahal mereka mereka menyaksikannya, maka mereka harus memperlihatkan kebenaran yang mereka sembunyikan itu sampai mereka diampuni.

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kecuali mereka yang telah taubat dan Mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. al-Baqoroh [2]: 160)

  1. Bertaubat dari tindakan keji yang menyangkut hak-hak hamba

Jika taubatnya itu karena menyalahi hak-hak sesama hamba, maka bagi yang bersangkutan harus meninggalkan sikap yang salah tersebut sampai Alloh mengampuninya.

Menunda-nunda Waktu untuk Bertaubat

Hamba harus menyegerakan taubat sebelum ajal menjemputnya atau sebelum azab turun. Karena Alloh tidak akan menerima taubat pada saat ajal dan telah sampai di kerongkongan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah taubat itu diterima Alloh dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. an-Nisa [4]: 18)

Selain itu, selayaknya untuk diketahui bahwa pengetahuan hamba terhadap nama-nama yang agung ini merupakan pintu yang mulia untuk meraih kedudukan yang tinggi, terlebih lagi dengan diiiringi oleh kesungguhan dalam merealisasikan konsekuensinya, seprti konsisten dalam beristighfar, meminta ampunan, bertaubat, mengharap penghapusan dosa, dijauhkannya dari keputusasaan serta perasaan pesimis.

Alloh subhanahu wa ta’ala Maha Pengampun dan Pemaaf, tidak memberatkan dosa meskipun banyak dan tidak pula kejahatan yang besar. Seorang hamba akan selalu dalam kebaikan selama dia memohon ampunan kepada Robbnya.

Pintu-pintu ampunan dan taubat selalu terbuka, dan senantiasa Dia Maha Mengampuni dan memaafkan. Selain itu, Dia menjanjikan ampunan dan maaf kepada yang melaksanaakan sebab-sebabnya, sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

 وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ

“dan Sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.”  (QS. Thoha [20]: 82)

Ya Alloh, anugerahkan kepada kami ampunan-Mu dan muliakanlah kami dengan maaf-Mu serta terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.

Artikel: Gerimis


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05