Oleh: Ibrohim Bafadhol, M.Pd.I.

Asy-Syafi termasuk salah satu nama Alloh subhanahu wa ta’ala yang ditetapkan dalam sunnah nabawiyyah. Dari Aisyah rodhiallohu anha, bahwasannya Nabi sholallohu alaihi wasallam memohonkan perlindungan untuk sebagian istrinya seraya mengusap dengan tangan beliau yang kanan dan berdoa:

Ya Alloh Robb manusia, hilangkanlah penyakit dan sembuhkanlah karena hanya Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan darimu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikit pun penyakit. (HR. Bukhori dan Muslim)

Arti dari asy-Syafi’ (Maha Menyembuhkan) yaitu hanya dari-Nya, kesembuhan, kesembuhan hati dari berbagai macam syubhat, keraguan, iri, dengki, dan aneka ragam penyakit hati lainnya, dan kesembuhan raga dari berbagai jenis penyakit, dan tidaklah ada yang mampu melakukan semua itu selain-Nya. Oleh karena itu, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Nya dan tidak ada yang dapat menyembuhkan, melainkan Dia semata. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrohim alaihissalam yang tersebut dalam firman-Nya,

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,(QS. asy-Syu’ara [26]: 80)

Maksudnya, Dia semata Yang Maha Menyembuhkan tiada sekutu bagi-Nya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk meyakini dengan keyakinan yang bulat bahwasanya tiada yang dapat menyembuhkan, kecuali Alloh subhanahu wa ta’ala semata. Hal tersebut telah diterangkan oleh Nabi sholallohu alaihi wasallam dalam sabda beliau, “Tiada yang dapat menyembuhkan selain Engkau”.

Dengan demikian, maka diantara sarana bertawassul kepada Alloh subhanahu wa ta’ala yang paling baik dalam memohon kesembuhan dari berbagai macam penyakit adalah bertawassul kepada-Nya dengan keesaan-Nya dalam hal rububiyyah, dan bahwasannya kesembuhan hanya ada di tangan Alloh subhanahu wa ta’ala semata, dan bahwasanya tidak ada hak memberikan kesembuhan bagi seorang pun, kecuali dengan izin-Nya, segala penciptaan adalah milik-Nya, perintah seluruhnya adalah hak-Nya, dan segala sesuatu di bawah pengaturan-Nya, apa yang Dia kehendaki, maka akan terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki, maka tidak akan terjadi, dan tiada daya dan upaya, melainkan dengan pertolongan Alloh subhanahu wa ta’ala semata.

Adapun sabda Nabi sholallohu alaihi wasallam pada doa di muka, ya Alloh Robb manusia, di dalamnya mengandung tawassul kepada Alloh dengan perantaraan rububiyyah-Nya kepada seluruh manusia, dengan menciptakan mereka dan mengatur segala perkara dan urusan mereka. Di tangan–Nya urusan menghidupkan dan mematikan, kesehatan dan penyakit, kecukupan dan kekurangan, serta kekuatan dan kelemahan hamba-hamba-Nya.

Sabda beliau, “Dan sembuhkanlah karena hanya Engkau-lah yang Maha Menyembuhkan”, terkandung permohonan kesembuhan kepada Alloh yaitu sehat wal ‘afiat dan keselamatan dari penyakit seraya bertawassul kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dengan nama agung tersebut yang menunjukkan keesaan-Nya semata dalam hal menyembuhkan, dan bahwasanya kesembuhan hanya di tangan-Nya.

Sabda beliau, “tiada kesembuhan, kecuali kesembuhan dari-Mu”,  padanya terkandung penegasan keyakinan tersebut dan pengokohan keimanan, dan sebagai ikrar bahwasanya kesembuhan tidak mungkin ada, kecuali dari Alloh dan bahwa suatu pengobatan apabila tidak sesuai dengan kehendak Alloh untuk mendapatkan keselamatan dan kesembuhan, maka pengobatan itu tidak akan bermanfaat dan berfaedah sedikitpun.

Sabda Nabi sholallohu alaihi wasallam, “kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikit pun penyakit”. Yakni yang tidak menyisakan penyakit dan meninggalkan rasa sakit.

Contoh ruqyah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab shohihnya dari Abu Sa’id al-Khudri rodhiallohu anhu,

“Sesungguhnya Jibril datang menemui Nabi sholallohu alaihi wasallam lalu bertanya: Ya Muhammad, engkau mengeluhkan (rasa sakit)? Beliau menjawab: Ya Jibril berkata: “Dengan menyebut nama Alloh aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejahatan segala jiwa atau mata yang hasad, Alloh semata yang menyembuhkanmu, dengan nama Alloh aku meruqyah.”

Keyakinan seorang hamba bahwasanya Yang Maha Menyembuhkan hanyalah Alloh semata dan bahwasanya kesembuhan itu hanya ada di tangan-Nya, tidak mencegah untuk menempuh sebab-sebab yang  bermanfaat untuk berobat dan mencari pengobatan serta mengonsumsi obat-obatan yang manjur. Telah datang dari Nabi sholallohu alaihi wasallam beberapa hadits yang memerintahkan untuk berobat dan menerangkan beberapa jenis obat yang manjur lagi bermanfaat, dan bahwasanya hal tersebut tidak menafikan tawakal kepada Alloh dan meyakini bahwa kesembuhan hanya ada di tangan-Nya.

Imam Muslim rohimahulloh telah meriwayatkan dalam kitab shohihnya dari Jabir bin Abdulloh rodhiallohu anhu, dari Nabi sholallohu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: “Setiap penyakit itu ada obatnya, maka apabila obat yang digunakan itu cocok untuk menyembuhkan penyakitnya, maka akan dapat menyembuhkan dengan izin Alloh.” (HR. Muslim)

Dalam Shohih al-Bukhori dari Abu Huroiroh rodhiallohu anhu ia berkata: Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah Alloh menurunkan suatu penyakit melainkan Dia telah menurunkan obat penawarnya.”

Dalam kitab al-Musnad dan yang lainnya dari Usamah bin Syuraik rodhiallohu anhu ia berkata, “Aku pernah berada di sisi Rosululloh sholallohu alaihi wasallam lalu sekelompok orang Arab pedalaman datang dan bertanya: “Wahai Rosululloh, bolehkah kami berobat? Beliau menjawab: Ya, boleh, wahai hamba-hamba Alloh berobatlah kalian, karena sesungguhnya Alloh tidak menciptakan penyakit melainkan Dia menciptakan pula kesembuhannya kecuali satu penyakit. Mereka bertanya: apa itu? Beliau menjawab: Usia tua.”

Oleh karena itu, beberapa hadits tersebut mengandung penetapan terhadap hukum sebab dan akibat, dan perintah untuk berobat, dan bahwasannya hal tersebut tidak menafikan tawakal kepada Alloh. Karena hakikat tawakal kepada Alloh subhanahu wa ta’ala adalah bersandarnya hati kepada-Nya untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagi hamba dalam urusan agama dan dunia, dan menolak apa yang dapat membahayakan dirinya dalam hal agama dan dunia, dan bersandarnya hati tersebut harus dibarengi dengan melakukan sebab-sebab yang bermanfaat.

Demikian pula menolak penyakit dengan mencari kesembuhan yang bermanfaat dan obat yang manjur tidak menafikan keimanan.

Bahkan, hakikat tawakal tidak akan sempurna, melainkan dengan melakukan sebab-sebab yang telah disiapkan oleh Alloh sebagai tuntunan untuk mendapatkan akibatnya, baik secara takdir maupun syara’, dan meningggalkannya merupakan celaan terhadap tawakal tersebut.

Kemudian wajib bagi hamba untuk mengetahui tiga hal dalam memahami perkara yang berhubungan dengan sebab-sebab:

Pertama, ia tidak boleh menetapkan sesuatu menjadi sebab, melainkan apa yang telah diterangkan oleh dalil bahwa hal tersebut adalah sebab, baik secara syara’ maupun takdir.

Kedua, ia tidak boleh bersandar kepada sebab tersebut, tetapi dia harus bersandar kepada yang menjadikannnya dan menakdirkannnya sebagai sebab (yakni Alloh).

Ketiga, dan hendaklah ia mengetahui bahwa sebab-sebab tersebut meskipun begitu kuat, maka sesungguhnya semua itu berkaitan erat dengan qodho Alloh dan takdir-Nya, tidak dapat semua itu keluar dari ketentuan-Nya. Alloh subhanahu wa ta’ala mengatur kesemuanya itu berdasarkan kehendak-Nya. Apabila berkehendak, maka Dia akan tetapkan sebabnya dan jika berkehendak, maka Dia akan mengubah sebab itu sesuai kehendak-Nya pula agar para hamba tidak bersandar kepada sebab tersebut, dan agar mereka mengetahui kesempurnaan kekuasaan-Nya dan bahwasanya pengaturan mutlak dan kehendak mutlak hanya milik Alloh semata, sebagaimana yang telah diutarakan di awal dalam sabda Nabi sholallohu alaihi wasallam, “Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan melainkan dari-Mu.”

Demikianlah penjelasan ringkas tentang salah satu nama Alloh yang agung yaitu asy-Syafi (Dzat Yang Maha Menyembuhkan). Kita memohon kepada Alloh Yang Maha Agung, Robb manusia, Maha Penghilang penyakit, Maha Menyembuhkan yang tidak ada kesembuhan, melainkan kesembuhan dari-Nya, semoga Dia menyembuhkan orang yang sakit dari kita dan orang-orang yang sedang sakit dari golongan kaum muslimin. Wallohu a’lam…


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05