Dari Hamba Alloh,

Assalamu’alaikum, Ada dua pertanyaan yang ingin saya tanyakan.

1. Sering sekali saya melihat ketika khotib sedang kutbah jum’at, ada orang yang berdzikir memakai alat, apakah itu dibolehkan?

2. Sholat shubuh berjamaah bila imam mengangkat tangan membaca qunut, apakah kita ikut mengangkat tangan juga atau diam saja?

sukron

[divide]

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Imam Muslim  meriwayatkan hadis, Abu Hurairoh berkata, Rosululloh  bersabda;

Barangsiapa yang berwudhu, lalu memperbagus wudhunya kemudian ia mendatangi (sholat) Jum’at, kemudian (di saat khutbah) ia betul-betul mendengarkan dan diam, maka dosanya antara Jum’at saat ini dan Jum’at sebelumnya ditambah tiga hari akan diampuni. Dan barangsiapa yang bermain-main dengan tongkat, maka ia benar-benar melakukan hal yang batil (lagi tercela)

Imam Nawawi  berkata, “Hadis ini menunjukkan larangan berbicara dengan berbagai macam bentuknya ketika imam berkhutbah. Baik itu berdzikir, mengobrol atau sibuk dengan sesuatu.

Al Qodhi  berkata bahwa Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i berpendapat wajibnya diam dan mendengarkan saat khutbah. Dan termasuk adab adalah diam sambil memperhatikan ketika imam berkhutbah. Wallohu a’lam

Selanjutnya yang kedua tentang qunut…

Qunut shubuh termasuk perkara khilafiyyah, dan yang paling mendekati kebenaran bahwasanya amalan ini tidak disyariatkan karena tidak memiliki dalil yang shohih. Namun apabila imam berqunut shubuh maka makmum boleh mengikutinya, mengangkat kedua tangan dan mengamininya, karena Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti.” (HR.Al-Bukhori dan Muslim).

Beliau shallallhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Mereka (imam-imam) tersebut sholat untuk kalian, kalau mereka benar maka kalian mendapat pahala, dan kalau mereka bersalah maka kalian mendapat pahala dan mereka menanggung kesalahannya.” (HR. Al-Bukhori)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitabnya Majmu Al-Fatawa;

“Dan demikian pula jika ma’mum di belakang imam yang berqunut shubuh atau witir maka dia juga berqunut, sama saja apakah qunutnya sebelum ruku’ atau setelahnya, kalau imam tidak berqunut maka makmum juga tidak berqunut.”

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh juga berkata:

“Oleh karena itu seyogyanya bagi seorang makmum mengikuti imam di dalam perkara yang boleh di dalamnya berijtihad, kalau imam qunut maka dia qunut, kalau imam meninggalkan qunut maka dia tidak qunut.”

Imam Ahmad rohimahulloh telah menegaskan bahwa seseorang jika berma’mum kepada seseorang yang melakukan qunut shubuh, maka hendaklah mengikutinya dan mengamini doanya, padahal Imam Ahmad rahimahullah dikenal termasuk orang yang berpendapat tidak disyariatkannya qunut ketika sholat shubuh, akan tetapi beliau memberi keringanan dalam hal ini, yaitu dalam masalah mengikuti imam yang berqunut shubuh karena menghindari perselisihan yang akhirnya terjadi yaitu perselihan diantara hati.”

Wallahu a’lam.


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05