Pertanyaan: Apabila warisan tidak segera dibagikan atau ditahan-tahan supaya warisan tersebut tidak dibagikan mohon penjelasanya, dengan alasan masih ditempati oleh salah satu ahli waris, tolong penjelasanya, terimakasih. Dari Hamba Alloh.

 Jawaban:

Alloh memulai ayat warisan dalam surat An-Nisâ` dengan firman-Nya:

 يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ

“Alloh mensyari’atkan bagi kalian tentang (pembagian harta warisan untuk) anak-anak kalian”.

Dalam kitab Taisirul-Karimir-Rahmân fî Tafsiri Kalamir-Rahmân dikatakan “Ayat ini, di antaranya sebagai petunjuk, jika Alloh lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya dibandingkan kedua orang tua. Pasalnya, Alloh berwasiat kepada kedua orang tua (untuk berbuat baik kepada anak-anak mereka) padahal begitu besar rasa sayang mereka kepada anak-anak”.

Kita harus ingat, bahwa warisan merupakan hak bagi segenap ahli waris yang menjadi bagian mereka. Alloh sudah menunjukkan pembagiannya secara langsung.

Penundaan hanya akan melahirkan kezholiman kepada para pemilik hak tersebut. Apalagi bila pemilik hak tersebut berada dalam kondisi ekonomi yang belum tercukupi.

Jadi, salah satu saudara anda harus difahamkan agar tidak menghalangi pembagian harta warisan tersebut, karena merupakan hak dari para penerima waris. Bermusyawarahlah dengan saudara saudara Anda secara baik-baik. Atau bila diperlukan, Anda bisa mencari orang yang disegani untuk melunakkan hatinya tersebut. Semakin lama dilakukan penundaan dalam pembagian harta waris, maka akan semakin besar potensi pertikaian antar saudara.

Rosululloh  bersabda berkaitan dengan hak waris :

أَلْحِقُوْاْ الْفَرَائِضَ بِأَهْلِهَا

“Serahkanlah bagian dari harta waris itu kepada para pemiliknya” [HR Bukhori dan Muslim]

Kapan jatah warisan ini boleh dijual?

Untuk menjawab hal ini, kita perlu memahami bahwa ada dua bentuk warisan yang diterima oleh seseorang:

Pertama, harta warisan yang diterima oleh ahli waris bentuknya terpisah dengan harta warisan yang diterima ahli waris yang lain. Misalnya tabungan.

Kedua, harta warisan yang diterima ahli waris, bentuknya masih menyatu dengan hak ahli waris yang lain. Misalnya sepetak tanah beserta rumah.

Harta warisan dengan bentuk semacam ini, tidak bisa dijual secara langsung, kecuali dengan izin semua pihak yang turut memiliki harta itu. Meskipun ahli waris itu hanya menjual apa yang menjadi haknya.

Dan aturannya: Pertama Ahli waris yang hendak menjual rumah atau tanah, harus memberi tahu ke saudaranya yang lain bahwa dia ingin menjual kapling tanahnya.

Kedua Jika ada salah satu saudaranya yang berminat untuk membeli, dia yang paling berhak untuk membelinya sebelum orang lain.

Dan ketiga Jika tidak ada yang hendak membeli, baik karena tidak berminat atau karena tidak punya uang maka pemilik berhak untuk menjual ke orang lain, sementara semua saudaranya, tidak berhak untuk menghalanginya. Karena dia sudah minta izin. Allohu a’lam. (Admin/FU)

%d bloggers like this: