Nur Endah – Bogor… Bagaimanakah pandangan Islam terhadap pernikahan dibawah umur? Adakah ayat Al Quran atau hadits yang melarang atau memperbolehkannya?

Jawaban :

Bismillah… Menikah di usia muda secara hukum asalnya adalah diperbolehkan. Namun juga tidak dianjurkan, apalagi diwajibkan. Tapi bila dikaitkan dengan situasi dan kondisi pada orang yang akan menikah, hukumnya bisa bervariasi.

Hukum asal itu berasal dari sabda Nabi sholallohu alaihi wasallam yang sangat popular:

“Wahai kawula muda. Barangsiapa diantara kalian yang sudah memiliki kemampuan, maka hendaknya ia menikah. Sesungguhnya yang demikian itu lebih dapat memelihara pandangan mata dan kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah obat baginya.” [HR. Bukhori dan Muslim]

Yakni, menikah itu diperintahkan saat seseorang sudah memiliki kemampuan seksual sesungguhnya. Artinya mulai saat itu saat seseorang sudah baligh, ia sudah menerima perintah menikah. Mulai dari remaja hingga dewasa, seorang muslim sudah menerima syariat untuk menikah. Hukum itu kian menguat, bila kemampuan, potensi dan hasrat seksual semakin meningkat. Sehingga suatu saat bisa dianjurkan atau disunnahkan, dan bisa juga diwajibkan.

Saat ia sudah dianjurkan atau bahkan diwajibkan, maka ukuran apakah seseorang masih tergolong muda atau bahkan terlalu muda, atau sudah cukup umur untuk menikah, dalam kaca mata syariat Islam tidaklah menjadi ukuran. Hukum tetap berlaku dengan alasan hukumnya. Muda dan tua, bukanlah alasan hukum dalam menikah.

Namun bila dalam kemudaan seseorang punya kendala untuk menikah, seperti soal aturan kenegaraan bila di negaranya menikah muda dilarang, belum mengerti hukum-hukum dan adab pasutri, belum mampu mencari nafkah atau hal-hal lain, maka itu termasuk kondisi dimana seseorang belum bisa segera menikah. Disaat itulah ia disyariatkan berpuasa, untuk menahan hasrat seksualnya.

Hal itu juga berlaku bila ia sudah dewasa namun memiliki beberapa kendala yang menyebabkan ia sulit untuk menikah, atau sulit mendapatkan orang lain yang sudi menikahkan dia dengan putrinya kalau ia seorang pria, atau sulit mendapatkan orang yang mau menikahkan dirinya dengan putranya. Jadi dalam usia apapun, bila seseorang masih terkendala menikah atau ada mudharat besar bila ia segera menikah, maka hukum penundaan menikah demi maslahat itu tetap berlaku bagi dirinya. “Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah obat baginya.”

Wallohu A’lam…

Dijawab Oleh : Tim Lajnah Ilmiyah Fajri FM


Dukung Radio Fajri dengan menyalurkan sebagian harta Anda, untuk pembiayaan dan pengembangan dakwah Islam melalui Radio Fajri dengan berdonasi di nomor rekening A.N. Yayasan Peduli Fajar Imani:

Bank Syariah mandiri : 7068-790-268
Bank Muamalat : 121-007-6294
Bank BNI Syariah : 033-596-2322
Bank BCA : 095-319-5957
Bank BRI Syariah : 2102-100-993

Informasi dan Konfirmasi:
Tlp. WA : 0852 1820 8707
BBM : 5E83BB05

%d bloggers like this: