Oleh: Ust umar Muhsin, Lc., M.Pd.I.

Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan kebahagiaan bagi siapa saja yang ikhlas dengan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Selain itu, dengan ikhlas seseorang akan terhindar dari rasa takut, khawatir, cemas, sedih dan sebagainya.

Begitu besar faidah dari ikhlas ini, oleh karena itu marilah berusaha dan melatih diri kita agar kita dapat digolongkan kepada golongan hamba Allah yang ikhlas.

Ikhlas berarti memurnikan seluruh peribadatan hanya kepada Allah. Setiap amal ibadah kita, baik yang nampak, seperti shalat lima waktu, manasik haji, dan lain sebagainya, maupun yang tidak nampak, seperti Roja atau rasa harap, Khouf atau rasa takut dan semua jenis amalan hati lainnya haruslah dimurnikan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala saja.

Demikian pula halnya, dengan ibadah yang berkaitan dengan perkataan seperti mengucapkan dua kalimat syhadat, membaca al-Qur`an, membaca subhanallah dan al-hamdulillah, berdakwah kepada Allah, dan lain sebagainya, maupun ibadah yang dilakukan dengan perbuatan anggota badan seperti shalat, infak, memberi makan kepada fakir dan miskin, dan lain sebagainya.

Perbuatan ikhlas, sangat penting kita miliki dalam melakukan segala bentuk ibadah, Karena di samping sebagai syarat diterimanya ibadah, juga begitu banyak ayat dan hadist yang menjelaskan tentang ikhlas, baik berupa perintah, anjuran maupun tentang keutamaan orang yang melaksanakannya.

Di antara dalil yang berbicara masalah keikhlasan adalah firman Allah dalam surat al-Bayyinah ayat 5.

“Tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya mereka memurnikan peribadatan hanya kepada Allah semata, yaitu agamanya yang lurus. Supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)

Berkaitan dengan ayat ini Syeikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Mereka tidak diperintahkan dalam seluruh syariat ibadah yang telah ditetapkan baik yang nampak maupun yang batin melainkan supaya mereka memurnikannya hanya untuk Allah dan mengharap wajah-Nya serta supaya menjadi dekat dengan-Nya.”

Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab Jami’ Liahkamil Qur`an juga berkata,

“Dalam ayat ini terdapat dalil tentang wajibnya mengikhlaskan niat dalam seluruh peribadatan. Dan sesungguhnya ikhlas itu termasuk amalan hati, yaitu sebuah amalan yang hanya ditujukan kepada Allah semata dan bukan kepada yang lainnya.”

Kemudian dalil lainnya yang berbcara masala ikhlsa adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat az-Zumar ayat 3:

“Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih dan murni dari syirik. Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. az-Zumar: 3)

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan,

“Amal ibadah itu tidak akan diterima kecuali orang yang mengerjakannya ikhlas karena Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.”

Pendengar yang budiman, Selain dua ayat tadi, didalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhori dan Muslim dari jalur Umar bin al-Khottob radhiallhu anhu, juga disebutkan permasalahan ikhlas, dalam hadist tersebut Rasulallah saw bersabda,

”Sesungguhnya perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya masing-masing orang mendapatkan balasan sesuai yang diniatkannya. Barangsiapa hijrah karena Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya dicatat untuk Allah dan Rosul-Nya. Sebaliknya, barangsiapa yang hijrah karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah untuk dunia dan wanita tersebut.” (HR. Bukhori & Muslim)

Syeikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah mengatakan bahwa,

Hadist ini adalah salah satu hadist utama yang menjadi rujukan dalam ajaran Islam. Karena rujukan ajaran Islam itu bersandar kepada dua hadist. Pertama hadist niat ini. Dan yang kedua, adalah hadist ‘Aisyah rodiyallohu ‘anha, “Barangsiapa yang beramal suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalnya tertolak.”

Beliau juga mengatakan bahwa hadist niat ini adalah sandaran dalil bagi ibadah-ibadah hati dan menjadi timbangan untuk amalan-amalan batin. Sedangkan Hadits Aisyah adalah sandaran dalil bagi ibadah-ibadah yang nampak.

Mudah-mudahan setelah kita mendengar dalil-dalil yang menjelaskan tentang sifat ikhlas, Allah  subhanahu wa ta’ala akan segera membukakan hati kita dan menjadikan diri kita sebagai hamba yang terbimbing kedalam keikhlasan, amin. wallahu ‘alam.